Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Featured Posts

Minggu, 14 April 2024

FIRST TIME IN SYDNEY

 

                Masih dalam rangkaian Australia Trip 2023, kali ini saya ingin mencatat pengalaman tersebut ke dalam sebuah tulisan agar suatu saat dapat diingat-ingat kembali. Sebelumnya, saya pikir keberangkatan ke Australia ini hanya untuk mengunjungi Melbourne dan Lorne saja, tetapi dipikir-pikir kapan lagi kami ke Australia. Ingin juga mengetahui sisi lain Australia yang menjadi trademarknya. Selama perjalanan ke Australia ini, kami memutuskan untuk datang melalui Melbourne Tullamarine Int’l Airport dan pulang dari Sydney Kingsford Smith Int’l Airport. Walaupun waktu kami di Sydney tidak lama, tetapi saya rasa cukup memuaskan keingintahuan sebelumnya.

                Perjalanan ke Sydney dimulai sejak tanggal 11 September 2023. Pagi itu kami menginap di rumah-nya Ben. Rencana kami akan ke airport pukul 12.00 siang. Kami diantarkan oleh ayahnya Ben, karena ibunya harus pergi bekerja. Pukul 12 siang ayah Ben pulang dari Rumah Sakit. Setelah perjalanan ke bandara sekitar 45 menit akhirnya kami berpamitan pada ayahnya Ben. Kami segera melakukan check-in di bandara. Penerbangan kami menggunakan maskapai JetStar sekitar pukul 15.05 sore dan tiba di Sydney Kingsford Smith Int’l Airport  pukul 16.30 setelah melakukan penerbangan sekitar 1,5 jam.  Selesai menunggu bagasi, kamipun langsung keluar bandara untuk langsung memesan Uber dan menuju ke apartemen yang kami sewa via AirBNB di daerah Zetland.


Foto. Sydney Opera House (dok.pribadi)

Kesan pertama saya saat tiba di Sydney adalah cuaca yang lebih hangat dibanding Melbourne. Beberapa hari sebelumnya di Melbourne, kami mengalami cuaca 5 derajat saat pagi hari. Siang hari menghangat ke sekitar 12 derajat yang bagi saya tetap saja cukup dingin. Tetapi di Sydney, untuk suhu sore hari sekitar 14 derajat tentu lebih hangat. Baru tiba di apartemen, saya dan adik langsung menuju ke Coles untuk berbelanja bahan masakan karena tentu saja lapar.  Datang ke supermarket Coles, yang saya beli adalah ravioli dan sosis. Makanan yang selalu saya masak jika ke Australia. Mungkin karena di Bandung saya jarang menemukan itu sehingga saya bersemangat sekali untuk memasak dan memakannya. Hari itu, waktu saya habiskan hanya untuk beristirahat di apartemen. Karena selain cukup lelah, kami harus mempersiapkan energi untuk Sydney sightseeing besok mengingat kami tidak mempunyai banyak waktu di Sydney.



                Keesokan harinya, 12 September 2023. Kami bangun pagi-pagi sekali, tujuan pertama kami adalah ke pantai Bondi. Bondi Beach merupakan pantai yang menjadi ikon Sydney. Pertama kali mengetahui tentang pantai Bondi adalah sekitar enam atau tujuh tahun lalu ketika kedua adik saya sering menonton tayangan reality show Bondi Rescue di channel youtube. Acara tersebut menarik perhatian saya karena memperlihatkan kehidupan para lifeguard di pantai. Banyak kejadian-kejadian yang sebenarnya menarik untuk diperhatikan lebih dalam. Memang pada saat itu saya memiliki keinginan juga untuk berkunjung ke Bondi. Pantainya kecil, namun entah kenapa bagi saya menarik saja dengan pasir putihnya. Selepas keluar dari apartemen, kami mengecek tarif uber. Ternyata pagi itu tarifnya lumayan, sekitar AUD $45 atau kurang lebih Rp. 450.000,- dari apartemen ke Bondi. Sebenarnya bisa kami telusuri dengan berjalan kaki, namun lama waktu yang kami harus tempuh adalah 2 jam 15 menit. Jadi, diputuskanlah untuk berjalan kaki sekuatnya saja. Baru di tengah jalan kami naik uber. Sekitar setengah perjalanan kami tempuh dengan berjalan kaki, ternyata tarif ubernya sudah turun menjadi sekitar AUD $25, lumayan pikir kami. Lalu tibalah kami persis di depan Bondi Beach. Waah saya takjub melihat pantainya. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan bisa menginjakkan kaki disini. Pasirnya putih, halus, dan dingin sekali. Betah untuk sekedar berlama-lama di pinggir pantai.


Foto. Bondi Beach (dok. pribadi)

                Selesai menikmati pantai, kami menelusuri jalan-jalan di pinggir pantai. Terdapat banyak pertokoan yang menjual souvenir khas Bondi dan juga restoran. Karena saat itu sudah menunjukkan jam makan siang, kami mampir ke sebuah restoran yang menjual Fish and Chips. Adik-adik saya sudah mengingatkan untuk membeli fish and chips dan menikmatinya di restoran pinggir pantai. Di tengah udara yang sejuk sekitar 17 derajat, saya memesan 2 porsi fish and chips, 1 porsi salad, 2 cangkir chamomile tea, dan 2 latte untuk kami berempat. Harganya cukup lumayan untuk makanan seperti itu sekitar AUD $68, tapi alhamdulillah, cukup menghilangkan rasa penasaran saya. Selanjutnya saya membeli beberapa buah kaos di toko souvenir. Harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan di Queen Victoria Market (QVM) Melbourne.



Fish and Chips (dok. pribadi)

                Dirasa cukup puas berada di Bondi. Kami melanjutkan perjalanan ke Sydney Opera House dan melihat Sydney Harbour Bridge. Tempat pertama yang kami kunjungi di Sydney Opera House adalah area cafetaria dibawahnya. Memesan secangkir latte sambil menikmati pemandangan Sydney Harbour Bridge, Opera house, lalu lalang kapal dan aktivitas orang-orang. Nikmat rasanya bisa merasakan suasana baru. Setelah dirasa cukup, kami menelusuri sekeliling opera house dan berfoto. Sekitar pukul 2 siang kami berjalan menuju ke Circular Quay, rencananya akan naik kapal feri menuju ke Manly Beach, letaknya di pinggiran pantai utara Sydney. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Turun di Manly Wharf, kami langsung menuju ke pantai yang sangat dekat, hanya beberapa menit berjalan kaki. Suasana menuju pantai diisi dengan toko-toko dan restoran. Pantainya tidak terlalu besar, lebih kecil dari Bondi namun sangat bersih dan suasananya sangat enak. Banyak burung-burung terbang bebas di pinggir-pinggirnya.

                Di perjalanan kembali ke Manly Wharf, kami singgah di beberapa toko untuk membeli souvenir. Sekitar pukul 4 sore kami kembali menaiki feri untuk kembali ke Circular Quay dan langsung pulang menuju ke apartemen. Sebelum masuk ke apartemen, kami berbelanja kembali di Coles untuk memasak hidangan makan malam. Sisa malam itu kami habiskan untuk packing barang, karena keesokan harinya adalah waktunya kami untuk pulang setelah kurang lebih selama seminggu kami berada di Australia.

                Tanggal 13 September 2023, sekitar pukul 8 pagi kami melakukan check out apartemen untuk selanjutnya langsung ke Sydney Kingsford Smith Int’l Airport. Penerbangan kami adalah jam 11.45. Jarak dari apartemen ke bandara tidak terlampau jauh. Sekitar jam 9 pagi kami sudah di bandara dan langsung melakukan check in dan drop bagasi. Karena masih ada cukup waktu, kami menunggu sambil ngopi di kedai kopi bandara. Alhamdulillah sampai masuk pesawat berjalan lancar dan tidak ada kendala apapun. Setelah penerbangan langsung selama kurang lebih 8 jam, pukul 16.30 WIB akhirnya kami mendarat di Jakarta. Setelah proses imigrasi dan bagasi, kamipun langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung.



                Dari waktu singkat saya di Sydney, sepertinya saya tetap memilih Melbourne sebagai tempat favorit di Australia karena lebih terasa “Australia”-nya dibandungkan dengan di Sydney. Tetapi apapun itu, saya tetap sangat senang bisa menginjakkan kaki di Sydney karena memberikan saya pengalaman baru dan mengetahui sisi lain dari Australia. Saya bisa mengunjungi tempat yang memang sebelumnya hanya bisa dilihat di buku, televisi, atau media-media lain. Bersyukur sekali bisa berkesempatan kesana. Tentunya, jika ada kesempatan lain untuk mengunjungi Sydney atau bagian Australia yang lain, tidak akan saya tolak. Semoga suatu saat bisa kembali kesana.


Senin, 12 Februari 2024

MELBOURNE I'M IN LOVE

 

Tulisan ini sebenarnya saya tulis sebagai salah satu pengingat diri bahwa saya pernah menjejakkan kaki disana juga sebagai salah satu bagian dari rangkaian Australia Trip 2023. Di part ini, saya memang hanya ingin mengangkat tentang Melbourne, kota yang bagi saya memiliki kesan tersendiri dan mungkin juga karena ada hubungan emosional dengan keluarga saya khususnya.

                Ya, pada Australia Trip 2023 ini, memang bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di Melbourne, sebuah kota di sebelah tenggara daratan Australia. Ini adalah kali ketiga saya. Pertama, pada Agustus - September 2017, kedua pada Februari 2019, dan ketiga pada September 2023. Tentunya, alasan kami kembali mengunjungi Melbourne karena ada urusan tertentu dan memang kami merindukannya. Saya, bukan orang yang gampang “betah” tinggal di kota orang, bagi saya Bandung adalah segala-galanya. Tetapi, Melbourne berbeda. Sejak pertama kali saya ke Melbourne saya merasakan kenyamanan ada di tempat ini. Cuaca, makanan, masyarakatnya, dan yang pasti suasananya membuat betah. Tidak heran Melbourne sempat beberapa kali dianugerahi penghargaan sebagai World Most Liveable City oleh Global Liveability Index karena memang senyaman itu (untuk saya).

- Melbourne -


                Sedikit intermezo, saya adalah seorang pemimpi. Selalu bermimpi berkesempatan ke luar negeri. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi saya sangat suka melihat budaya dan suasana negara lain. Itu saja. Masih ingat di mimpi saya ketika kelas 3 SD, jika ditanya “Negara mana yang ingin dikunjungi?” saya pasti menjawab Australia. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa Australia. Di sekitar usia SMP-SMA, mimpi saya tentang berkunjung ke Australia sedikit terlupakan. Kesempatan ke luar negeri pertama kali malah membawa saya mengunjungi China dan Thailand. Tapi saya bersyukur mendapatkan kesempatan itu. Selepas itu, saya teringat kembali akan mimpi saya ke Australia. Bapak saya pernah bilang, “Teh, kalau mimpi jangan tanggung. Mimpi mah bebas, berdoa juga supaya apa-apa yang kamu mimpiin tercapai. Sok ku Bapa didoakeun.”

                Perjalanan hidup dan mimpi ini membawa saya mendekat ke Australia. Ya, Melbourne! Bermula dari tahun 2014. Adik bungsu saya yang saat itu bersekolah di kelas XI SMA kedatangan seorang siswa pertukaran pelajar dari Australia. Ben namanya. Selama 6 minggu, Ben akan menjadi teman sekelas adik saya dalam program belajar Bahasa Indonesia. Sebelumnya, wali kelas adik saya memang mencari house parent yang bersedia menampung Ben selama 6 minggu di Indonesia. Awalnya kami meng-iyakan namun pada akhirnya Ben tinggal di rumah salah satu teman adik, bernama V. Di banding di rumah V, ternyata Ben sepertinya lebih betah tinggal di rumah kami. Sempat juga beberapa kali menginap. Mungkin karena tipikal keluarga saya yang memang hangat, humoris, ditambah Bapak saya yang suka bercanda. Setiap malam biasanya kami “untel-untelan” sekeluarga di kamar orang tua saya dan sepertinya itu dilihat oleh Ben. Tentunya kami ajak dia bergabung. Singkat cerita, program pertukaran pelajar itu berakhir dan Ben kembali ke Australia.

                Hubungan kami menjadi dekat, beberapa bulan kemudian (2015)  Ben dan keluarganya kembali ke Indonesia (Bandung) untuk berlibur. Disitu, menjadi kali pertama kami dua keluarga berkenalan. Kami undang mereka untuk makan malam di rumah. Tentunya dengan menu seadanya, khas orang Indonesia. Komunikasi kami Bahasa Inggris yang pas-pasan tidak membuat kami menjadi mati gaya. Adik saya yang memang cukup bisa berbahasa Inggris menjadi jembatan kami. Keluarga Ben juga sangat baik. Sebelumnya, yang saya tahu kalau bule itu biasanya dingin dan individualis. Tapi ini berbeda. Mereka mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya di Melbourne. Tapi bagi kami tentunya tidak semudah itu Fergusooo..., kami harus menabung.

                Sejak 2015 itu, keluarga Ben sempat beberapa kali datang ke Indonesia dan setiap datang kemari kami selalu berkesempatan bertemu. Hal yang selalu dibicarakan ketika pertemuan adalah lagi-lagi selalu mengundang untuk datang sekeluarga kesana. Baru pada awal tahun 2017, kedua adik saya berkesempatan datang ke Melbourne terlebih dahulu. Selama 3 minggu mereka tinggal di rumah Ben, mereka diperlakukan dengan sangat baik dan seperti layaknya anak sendiri. Baru pada pertengahan 2017, kali pertama saya ke Melbourne karena kantor saya mengadakan survey ke sekolah-sekolah di Melbourne. Mencari sekolah yang dapat menerima beberapa orang siswa kami yang bisa melakukan program pertukaran pelajar disana. Rencana saya ini diketahui oleh ibunya Ben. Ibunya menawarkan kami untuk berkunjung ke sekolah Ben, siapa tahu bisa menerima program student exchange ini. Selain itu kami diajak makan, jalan-jalan dengan diantar oleh ibunya. Sebaik itu! Padahal saat itu saya datang dengan orang kantor.

                Pada tahun 2018, adik pertama saya mengambil program Working Holiday Visa (WHV) untuk bekerja di Australia. Ya, dan lagi-lagi atas kebaikannya, keluarga Ben meminta adik saya untuk tinggal di rumahnya dan meminta menganggap rumahnya seperti rumah sendiri, berbagai kebutuhan adik saya dibantu untuk dipenuhi olehnya. Baru pada akhir 2018, orang tua dan adik bungsu saya merencanakan untuk berkunjung ke Melbourne, memenuhi undangan yang telah bertahun-tahun dilayangkan sekaligus melepas rindu dengan adik pertama saya. Saat itu kami langsung mengurus visa dan pertiketan untuk keluarga kami. Saya dan adik bungsu yang memang sudah pernah ke Australia sepertinya cukup mudah mendapatkan visa dibanding dengan orang tua saya. Sempat kami khawatir takut visa-nya tidak granted, namun alhamdulillah semua Granted!

                Awal 2019, kami akhirnya bisa berangkat bersama-sama satu keluarga kesana. Sambutan dan kebaikannya sungguh sangat membuat kami terharu. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai dokter, ayah Ben menjemput keluarga kami di bandara dengan dua mobil. Satu dikemudikan oleh ibunya dan satu oleh ayahnya. Kami langsung diajak menuju ke rumahnya di daerah Eaglemont. Kami beristirahat sejenak. Kami diberi croissant hangat. Enak sekali. Apalagi kami sebelumnya menempuh penerbangan malam selama hampir 7 jam. Setelah sarapan, karena memang waktunya masih sangat pagi kami diajak berkeliling jalan kaki ke Chelsworth Park. Katanya, “Kalian semalam terlalu banyak duduk di dalam pesawat, supaya segar kalian harus berjalan-jalan kaki.”. Kalau kami orang Indonesia pasti berpikir, “Buset deh baru juga datang udah diajak jalan kaki 7 km.” Mungkin seperti itu, persis seperti yang saya pikirkan, hehehe...  Tapi, saya tidak menyesal akan hal itu, karena didukung suhu sekitar 12 derajat pagi itu sangat nyaman berjalan kaki menikmati suasana sekitar.

                Selama 8 hari kami berada di Australia, sebagian besar kami habiskan di Melbourne. Sempat 2 hari kami berkunjung ke villa-nya di daerah Lorne, sebuah kota kecil di Great Ocean Road, Victoria. Sekitar 2 jam dari Melbourne. Kami hanya pergi berenak, dengan dua mobil. Saya bersama dengan adik pertama mengendarai mobil Mini Cooper, sedangkan bapak, ibu, adik bungsu saya, dan ibunya Ben mengendarai mobil yang lain. Buat saya, mengendarai mobil berdua dengan adik di negara orang, menelusuri jalanan Great Ocean Road adalah hal yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, sepanjang jalan menuju Lorne, kami disuguhi dengan view pinggir laut yang tidak ternilai untuk saya.



 Great Ocean Road

https://www.visitmelbourne.com/regions/great-ocean-road/see-and-do/nature-and-wildlife/beaches-and-coastlines/the-great-ocean-road

                Ada satu pengalaman unik untuk saya saat berkendara menuju Lorne. Saat saya dan adik sedang asyik mengobrol di jalan, tiba-tiba kami dihentikan oleh polisi. Ternyata sedang ada razia Alcohol Breath Testing yang mana pengendara mobil melakukan test alkohol sebelum menghadapi rute berbelok-belok pinggir laut. Adik saya menghentikan mobil Mini Cooper-nya. Belum sempat melakukan tes alkohol, tiba-tiba kami dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Saya bingung. Adik saya berkata, “Dia lihat teteh pake hijab, dia tahu kalau muslim nggak minum alkohol. Jadi kita boleh jalan lagi.”. Syukurlah pikir saya, tapi jadi pengalaman baru juga dan jadi tahu kalau ada tes seperti itu. Perjalanan-pun kami lanjutkan dan kami sempat berhenti di bawah tulisan Great Ocean Road. Sebuah tempat yang saya ketahui di pelajaran IPS saat kelas 4 SD hehehe...

Great Ocean Road

                Tiba di Lorne, membuat saya begitu terkesan juga. Memang hanya sebuah kota kecil, tetapi sangat nyaman. Kangguru bebas berkeliaran di halaman rumah. Burung nuri, kakatua, dan burung-burung indah lainnya bebas terbang di beranda rumah. Di hutan belakang rumah bahkan bisa kita temui koala sedang tidur di pohon. Masyarakatnya begitu menghargai kebebasan hewan-hewan dengan tidak mengganggunya. Singkat cerita, di Lorne benar-benar saya nikmati suasananya. Berharap suatu saat bisa datang kembali ke Lorne.

                Sekembalinya kami dari Lorne, kami explore kota Melbourne. Kebetulan kami menyewa apartemen selama sekitar seminggu di daerah Southbank supaya dekat dengan Central Business Dictrict (CBD) Melbourne. Semua bisa kami tempuh dengan berjalan kaki, naik trem, atau naik kereta. Karena letaknya dekat dengan Flinders Station. Di sekitar situ kami berkunjung ke Eureka Skydeck yang merupakan bangunan tertinggi di Melbourne. Eureka Tower memiliki tinggi total 297,3 meter. Kami naik ke lantai 88 gedung ini. Di lantai 88 gedung ini, ada fasilitas menarik bernama The Edge yang merupakan sebuah ruangan berbentuk balok berukuran 3x3 meter yang terbuat dari kaca tebal dan bisa bergerak menonjol dan keluar dari gedung Eureka Tower. Karena semua kacanya bening, maka pengunjung akan merasakan sensasi seperti terbang dengan ketinggian hampir 300 meter di atas Kota Melbourne. The Edge ini dibuka untuk umum, sebagai titik tertinggi gedung ini dan kita bisa menikmati pemandangan dari atas. Menaiki lift ke lantai 88 rasanya cukup pusing untuk saya, dengan waktu cukup cepat kita bisa langsung ada disana. Tekanan di telinga juga cukup terasa saat menaikinya.

               

The Edge


 Eureka Tower

                Oh ya, sebelumnya juga saya sempat diajak ke Healesville Sanctuary, semacam cagar alam yang memuat banyak Native Australian Animals, di suatu lahan yang luas kita dapat menemukan koala, kanguru, wallaby, yang dapat kita lihat dalam jarak dekat. Selain itu ada juga tasmanian devil, wombat, echidna, platypus, dan berbagai jenis burung seperti kookaburra. Di dalamnya juga terdapat klinik untuk hewan-hewan tersebut sekaligus arena pertunjukan hewan-hewan khas Australia. Tempatnya sangat nyaman untuk berjalan kaki walaupun jaraknya cukup jauh. Pada kunjungan saya yang pertama tahun 2017, saya beruntung bisa mendapatkan moment yang pas berfoto dan menyentuh wallaby. Sayangnya, kunjungan ke dua saya pada 2023, hewan-hewan tersebut seperti sedang tidak mood untuk berfoto.

Healesville Sanctuary

                Sebenarnya masih banyak lagi destinasi yang saya kunjungi selama di Melbourne seperti St. Kilda Beach, Luna Park walaupun hanya ke depannya saja, kemudian ke pier, mampir ke Yarra Valley Chocolatery yang view di depannya seperti bukit Teletubbies. Tapi, dari semua destinasi di Melbourne, yang menjadi favorit saya dan ibu saya tentunya adalah Queen Victoria Market (QVM). Dibanding dengan pusat perbelanjaan modern, saya selalu tertarik mengunjungi pasar tradisionalnya di setiap negara. Selain kita jadi mengetahui suasananya yang seberapa tradisional, kita bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Tiga kali saya mengunjungi Melbourne, QVM selalu ada di dalam itinerary saya. Letaknya berada dekat dengan Central Business District (CBD). Bisa juga kita berjalan kaki atau naik trem, karena QVM ini masuk dalam Free Tram Zone jadi gratis. Letaknya Kalau tidak salah di Elizabeth Street.

                Di bagian depan pasar, sama sekali tidak terlihat kesan kumuh. Sayapun kagum dengan kebersihannya. Area bagian depan menjual semua jenis daging. Ayam, ikan, sapi, kambing, kangguru, dan tentu saja ada menjual pork. Walaupun di area ini terbilang basah, yang mungkin akan sangat mudah mengundang lalat tetapi disini sangat bersih dan tidak berbau. Penataannya juga baik dan produk-produk yang dijualnya higienis. Di bagian belakangnya terdapat area sayur-sayuran dan buah-buahan. Suasananya tidak kalah bersih dengan harga yang tidak semahal di supermarket. Karena saat itu kami tinggal di apartemen, maka kamipun membeli beberapa bahan untuk dimasak. Juga untuk wisatawan ada area penjualan souvenir yang cukup ramah kantong. Berbagai macam model kaos dewasa dan anak dijual mulai harga AUD $5 - $8 belum lagi souvenir-souvenir kecil lainnya juga tersedia, yang pasti saya betah belanja berlama-lama disana.



Queen Victoria Market

                Diluar berbagai macam destinasi wisatanya, bagi saya Melbourne mempunyai tempat tersendiri. Faktor utama adalah karena memiliki hubungan emosional dengan keluarga Ben. Orang lain rasa saudara, komunikasi kami yang alhamdulillah selalu berjalan baik dan mudah-mudahan akan selalu baik. Kedua adalah suasana lingkungan dan masyarakatnya. Melbourne yang merupakan kota multikultural yang artistik akan membuat siapapun nyaman sepertinya. Berdasarkan pengalaman dan penglihatan saya sebagian besar masyarakatnya menghargai keberagaman identitas contohnya ketika berpapasan mereka saling menyapa dengan senyuman, “Hi, good morning.”. Ketiga adalah kota yang ramah dengan pejalan kaki. Saya sebagai kaum yang mageran untuk berjalan kaki, bisa tahan dan kuat berjalan kaki jauh di Melbourne. Ditambah dengan udaranya yang bersih dan cuaca bersahabat juga bangunan-bangunan artistik, rasanya jalan kaki 10 km juga mungkin tidak terasa. Kurang lebih seperti itulah latar belakang saya menyukai kota ini. Tentu, suatu saat saya ingin kembali mengunjungi kota ini untuk sekedar menikmati udara dan suasananya saja. Semoga...

Kamis, 08 Februari 2024

Kebagian Covid Juga... (Part 2)

             Setelah judul  part 1 ini ditulis 2 tahun yang lalu, akhirnya mood saya menulis muncul lagi setelah semalam baca artikel tentang hobi menulis. Ya, niat menulis ini semata-mata bukan hanya untuk berbagi pengalaman namun juga sebagai catatan perjalanan hidup saya saja yang mungkin suatu saat bisa dibaca oleh keluarga atau keturunan-keturunan saya kelak. Karena biasanya hal-hal yang akan saya tulis itu merupakan hal yang sungguh tidak bisa dilupakan.


            Terakhir, saya cerita sampai dengan pemakaman nenek. Malam itu, kami menginap di rumah almarhum nenek di Ciamis. Kondisi saya dan ibu tidak juga membaik. Masih seperti itu ditambah dengan kehilangan nenek yang amat sangat. Ditambah dengan kondisi Bapak saya yang memburuk, demamnya semakin tinggi. Sampai tiba saatnya waktu sahur, kami tidak bisa tidur nyenyak. Maka kami putuskan untuk tidak berpuasa saat itu, masih ingat tanggal 5 Mei 2021. 

      Sekitar pukul 9 pagi, saya sekeluarga langsung pulang menuju ke Bandung niatnya sampai di Bandung akan langsung melakukan swab drive thru di Jl. Purnawarman. Di daerah Limbangan kami mampir ke mini market untuk membeli mi cup. Kami makan di mobil, saat itu adik saya yang mengemudi, saya dan ibu duduk di tengah. Kemudian bapak tiduran di jok belakang. Demamnya makin tinggi. Sambil di perjalanan, bapak makan mie dan bilang, "Gak ada rasa ah, hambar!". Deg! saya langsung deg-degan takut covid. Tapi tidak saya tunjukkan kekhawatiran saya itu. Sampai pada akhirnya kami sampai di tempat swab. Kami semua di swab, dan hasilnya akan di infokan melalui Whatsapp 1 jam kemudian.

        Baru tiba sampai rumah dan istirahat sebentar, tiba-tiba hasil swab menunjukkan kalau Ibu dan Bapak positif covid. Anak-anak alhamdulillah negatif. Siang itu, adik pertama saya langsung kembali ke Jakarta karena harus kerja. Saya dan adik bungsu kemudian angkut-angkut kasur dan set-up komputer untuk bekerja dan mengungsi ke kedai kopi (ya, garasi rumah saya sulap menjadi kedai kopi) alhasil kami menginap berdua disitu. Ibu dan Bapak saya biarkan di lantai atas kamar. 

        Alhamdulillah saat itu kondisi adik bungsu saya sehat wal afiat. Di tengah kondisi saya yang makin memburuk, saya siapkan makan dan vitamin untuk bapak dan ibu. Rasanya, berjalan dari kedai kopi menuju ke dapur yang hanya 15 meter saja membuat badan saya seperti rontok. Keringat dari kepala mengucur deras, seperti sedang keramas. Lutut rasanya copot. Tidak sesak, namun ngos-ngosan tidak terkira. Untuk sekedar menyiapkan makan saja, saya harus istirahat paling tidak 1 jam agar badan enakan. Begitulah seterusnya sampai beberapa hari ke depan. Kami bertiga, anak-anak terus berkomunikasi. Karena adik bungsu saya khawatir melihat kondisi saya yang pucat juga, maka adik pertama meminta saya melakukan PCR home care. Benar saja, saya juga Positif Covid. Disamping kondisi saya yang seperti ini, ibu saya menginfokan kalau bapak sudah mulai sesak. Saturasi oksigennya hanya di kisaran 79 - 82 saja. Setelah dibujuk, akhirnya adik bungsu saya mengantarkan ke RS. Advent. Saudara-saudara saya memantau dan membantu kami dari kejauhan. Selalu ada kiriman makanan dan obat-obatan setiap harinya. Bapak langsung masuk ICU Covid. Setelahnya adik bungsu saya melakukan PCR juga dan sama-sama positif dengan tanpa gejala. Melihat kondisi seperti itu, akhirnya saya, ibu, dan adik bungsu bisa berkumpul kembali karena sama-sama positif. Di Jakarta, adik pertama saya juga ternyata positif dengan gejala tidak bisa mengecap dan mencium bau.

        Komunikasi kami, keluarga dengan bapak di rumah sakit hanya bisa dilakukan lewat whatsapp dan video call. Hancur hati saya melihat bapak harus pakai bantuan oksigen untuk bernafas. Tapi saya harus kuat, begitu juga adik-adik saya agar ibu dan bapak tidak khawatir terhadap kami. Hari demi hari dilalui dengan perasaan cemas. Jantung seperti mau lepas ketika ada telepon dari rumah sakit. Ya terkadang rumah sakit meminta dikirim diapers untuk bapak atau apapun. Di satu sisi, kami juga di rumah harus berjuang untuk sembuh agar bisa mendampingi bapak di rumah sakit. Puncak kekhawatiran kami adalah ketika dokter meminta untuk video call dengan kami pihak keluarga agar dicarikan Donor Plasma Konvalesen yaitu metode pengambilan darah plasma dari penyintas COVID-19 yang dapat diberikan sebagai terapi untuk pasien COVID-19 yang sedang dirawat. Kami komunikasikan permintaan dokter di grup keluarga. Akhirnya ada adik bapak dan anaknya yang memang seorang penyintas covid. Setelah di donor, mungkin sedikit membantu kondisi bapak (saya kurang tahu persis). 

        Pada akhirnya tanggal 21 Mei 2021, kami yang di rumah sudah dinyatakan negatif covid. Kebutuhan bapak untuk di rumah sakit bisa diantarkan langsung dengan terbatas. Sampai sekitar hampir 1 bulan sejak 8 Mei bapak masuk ICU, akhirnya bapak dinyatakan negatif covid. Tetapi karena kondisi paru-paru rusak akibat covid. Bapak membutuhkan bantuan oksigen dan dipindahkan ke Ruang HCU. Ada sedikit kelegaan, karena di HCU pada jam-jam tertentu bisa didampingi keluarga. Karena terbatas, hanya ibu dan adik bungsu yang bisa menemani. Tanggal 4 Juni 2021, adalah kali  pertama saya bertemu dengan bapak sejak masuk ICU pada 8 Mei 2021. Hari itu, bapak diizikan untuk pindah ke ruang perawatan biasa. Senang tak terkira saat itu, ditambah merupakan wedding anniversary bapak dan ibu yang ke 32. Saya bagikan cookies untuk perawat-perawat yang bertugas dan telaten merawat bapak. Jujur, saya tidak tega melihat kondisi bapak saat itu. Lagi-lagi saya harus berusaha kuat di depan bapak. 

Saya hanya sanggup mengatakan, "Pak, teteh kangen. Bapak kangen ngga sama teteh?" dan bapak hanya mengangguk sambil senyum. Karena kondisinya memang lemah. Selanjutnya saya hibur bapak sebisanya. Karena harus buru-buru pulang juga karena kunjungan dibatasi kan.

        Hari-hari berikutnya diisi dengan penuh kecemasan. Saya sudah kembali bekerja. Tiba-tiba bapak drop harus kembali masuk HCU, lalu kembali lagi ke ruangan, dan pada 29 Juni 2021 merupakan hari yang sangat amat buruk dalam hidup saya. Sepulang kerja, sekitar jam 16, paman saya menyambut di gerbang rumah dan berkata, "Teh, teteh tunggu di rumah aja. Gak usah nyusul." Sayapun bingung, "Hah, kenapa mang?" Lalu dijawab, "Bapak drop, sekarang di HCU lagi. Di RS udah ada ade, ibu, sama aa. Teteh di rumah aja." Seketika saya tidak sanggup bernafas, berat. Pikiran-pikiran buruk melintas. Saya bingung, karena sebenarnya kami sedang menyiapkan peralatan untuk bapak pulang ke rumah karena kondisinya membaik. Kami siapkan tabung oksigen di rumah, kami siapkan penyaring udara, kami bersihkan semua kamar yang akan ditempati bapak. Kenapa tiba-tiba harus mendengar berita seperti ini. Menangispun rasanya saya sudah tidak sanggup. Sore itu saya ditemani oleh sepupu perempuan menghadapi situasi yang tidak menentu.

        Selepas isya, ibu pulang ke rumah dengan diantar adik pertama. Sambil menangis. Bapak sudah tidak sadar. Sudah dipasang ventilator, sudah di HCU. Fungsi paru-parunya tinggal 30%. Sehari sebelumnya di cek jantung juga dalam keadaan baik. Seperti petir mendengarnya. Adik saya hanya berpesan, "Teh, teteh jagain ibu di rumah. Suruh makan. Di RS biar ade sama aa, nnti kalau ada apa-apa diinfoin." Saya cuma mengangguk. Malam itu saya biarkan ibu tidur di kamar. Saya tidur di sofa depan TV ditemani sepupu agar dekat dengan ibu. Sungguh saya tidak tidur malam itu. Takut telepon berdering. Sampai akhirnya, adik saya menelepon selepas subuh.

"Teh, nanti A Andri (sepupu) jemput teteh sama ibu ke RS ya. Langsung aja masuk ke HCU. Bapa gagal jantung."

Lagi-lagi saya tidak sanggup mendengarnya. Saya bingung menyampaikan berita ini ke ibu. Saya hanya bilang, "Bu, sebentar lagi kita ke RS dijemput A Andri." 

        Tidak lama, sepupu saya, A Andri menjemput. Saya bergegas ke rumah sakit. Ibu langsung masuk HCU sambil menangis. Saya berjalan ragu. Tidak sanggup melangkah kepada adik-adik dan ibu saya. A Andri menyuruh saya untuk masuk. Saya masuk dan melihat bapak saya sedang mendapat tindakan pacu jantung. Kami melihat dari jarak sekitar 3 meter sambil berpelukan. Tangis kamipun pecah. Ibu duduk di kursi, saya duduk di lantai HCU. Adik-adik saya memeluk dan kami saling menguatkan. Kami menangis bersama sambil membaca doa-doa semampu kami. Sekitar jam 8.30 pagi kami menunggu di ruang tunggu. Menunggu dokter tiba sambil akan melakukan tindakan lanjutan. Tangis kami reda disertai dengan perasaan pasrah. Ya, apapun yang terbaik untuk Bapak. Sempat adik saya bisikan pada bapak jika kami sudah ikhlas. Jika bapak mau pergi, jangan khawatirkan kami. Disertai dengan kalimat talqin di kedua telinga bapak. Di ruang tunggu, A Andri sudah membelikan sarapan untuk kami. Namun saya sama sekali tidak ingin sarapan. Pukul 11 siang saya dan ibu diantarkan pulang untuk mandi dan istirahat sebentar.

        Pukul 13.00 selepas dzuhur adik saya telepon sambil menangis, "Teh, siap-siap ya sama ibu sebentar lagi dijemput sama Mang Aa (adik bungsu bapak) buat ke RS lagi." Telepon dimatikan. Saya sudah tidak ingin bertanya ada apa. Kami berangkat. Sekitar 5 menit sebelum tiba di RS, HP saya dan HP Mang Aa berdering. Tidak ada yang mengangkat diantara kami. Saya sudah sangat pasrah. Begitupun ibu. Hanya terdengar sisa-sisa tangisan. Sampai di RS, kedua adik saya sudah di samping bapak sambil menangis. Melihat bapak sudah menghembuskan nafas beberapa menit sebelum kami datang. Kami memeluk bapak sambil menangis. Alhamdulillah, kedua adik saya menemani detik-detik bapak berpulang. Terlihat air mata terakhir bapak masih belum kering. Kalimat perpisahkan kami ucapkan. Berat, tapi kami ikhlas sejak pagi tadi. Ikhlas ini adalah jalan terbaik Bapak. 

        Saya diminta untuk pulang ke rumah duluan ditemani oleh Mang Aa (adik Bapak), diminta untuk persiapan di rumah. Sementara itu adik-adik, ibu, dan sepupu saya mengurus kepulangan jenazah Bapak ke rumah. Sampai rumah, sudah banyak saudara yang datang. Saya sudah tidak bisa melakukan apapun. Saya hanya bisa diam tidak tahu harus bagaimana. Hancur pastinya. Sore itu kami tunaikan semua kewajiban kami untuk mengantarkan bapak ke peristirahatan terakhirnya. 

        Begitulah sepenggal cerita masa-masa terburuk ditinggal Bapak. Segala sesuatunya tentu berubah. Tapi InsyaAllah yang akan selalu diingat adalah perkataan Bapak untuk kami semua, 

"Kalian bisa jauh sama Bapak, tapi kita akan selalu dekat karena Allah. Kita bertemu dalam doa ya." DK, 1960


        

Rabu, 23 Juni 2021

Kebagian Covid Juga... (Part 1)

 

Assalamualaikum..

.

Halo semua, setelah sekian tahun nggak update di blog ini rasanya kangen juga. Banyak hal yang membuat saya melewatkan waktu untuk sekedar menulis (bukan sok sibuk yeaa). Hanya sekedar untuk sharing (siapa tau ada yang baca) dan sebagai catatan penting yang mungkin suatu saat nanti bisa dibaca oleh anak cucu saya kelak.

Mumpung masih ingat tanggal per tanggalnya, seperti judul di atas ya saya mau menceritakan pengalaman tentang covid kemarin. Pengalaman yang siapa tau berguna untuk orang lain. The story begin...

.

Jadi awalnya di tanggal 3 Mei 2021, saya berangkat kerja seperti biasa dengan tubuh yang merasa sehat-sehat saja normal seperti biasanya. Nah sekitar jam 11.30an saya merasa agak-agak ngantuk (ngerasa ngantuk suatu hal yang normal soalnya semalam tidur agak larut karena nonton tv) jadilah siang itu tiduran di sofa sebelah ruangan saya. Eh ketiduran sampai kira-kira jam 12. Dibangunin sama staf kantor yang pamit kepada saya karena mau istirahat dan ke masjid. Jadilah di kantor cuma saya sendirian. Saya lanjut tidur ayam sampe sekitar jam 13.15. Lalu bangun dan ngerasa saya lemes dan mulai linu-linu badan (linu-nya cuma dari pinggang ke kaki aja) sendi-sendi juga ngerasa nggak enak. Tapi nggak demam juga. Lalu saya coba lanjut kerja sampai jam 14.30an. Kemudian saya pulang karena memang merasa badan sudah benar-benar nggak enak. Perjalanan dari kantor ke rumah sekitar 1 jam pakai motor. Di jalan dengan kondisi badan udah nggak enak banget, dalam hati saya bergumam “Nyampe, nggak nih. Nyampe, nggak nih.” Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat.

Sampai rumah, nggak seperti biasanya saya ganti baju lalu bersih-bersih dan istirahat. Sore itu setelah tiba, saya langsung lepas kerudung dan ke tempat tidur karena badan sudah benar-benar nggak enak. Saya juga nggak bertemu dengan orang rumah, langsung ke kamar. Langsung tidur dan kebangun sekitar jam 17.30 itu juga dibangunkan oleh ibu saya karena belum menyiapkan makanan buka puasa. Ternyata, ibu saya meminta bantuan untuk siapkan makanan berbuka karena beliau sedang meriang. Badannya demam dan lemas. Kemudian saya bilang, bahwa saya juga sedang tidak enak badan. Jadinya sore itu kami beristirahat di kamar masing-masing.

Tidak ada pikiran sedikitpun bahwa itu adalah gejala covid, saya merasa saya mungkin terlalu capek. Biasanya minum Biogesic lalu tidur juga kemudian sembuh. Ibu saya juga sama tidak berpikiran sedikitpun tentang Covid karena memang hampir 2 minggu belakangan ini ibu saya mengurus nenek (82 tahun) yang sedang bolak-balik rumah sakit karena penyakit Tumor Intra Abdomen. Baru 5 hari yang lalu selesai operasi dan 3 hari ini pulang ke rumah, mungkin ibu saya kecapean karena itu. Biasanya, yang jaga malam untuk mengurus nenek adalah paman saya. Tetapi di malam itu masuk whatsapp dari istrinya bahwa paman saya tidak bisa datang ke rumah karena sakit meriang. Persis seperti yang dirasakan ibu saya. Jadilah malam itu bapak saya yang menemani nenek. (nb. Nenek saya memang dalam kondisi lemah, sudah apa-apa di tempat tidur sehingga harus selalu ada yang standby menemani). Saya juga baru teringat bahwa adik sepupu saya yang tinggal di sebelah rumah sudah 3 hari itu demam sampai 39°C. Sesekali ibunya (bibi) saya juga ikut merawat nenek.

Malam itu kemudian saya video call dengan adik yang kerja di Jakarta. Malam itu saya sudah mulai merasakan badan panas. Sambil video call, saya ukur suhu tubuhnya ternyata 38,7°C! Adik saya kemudian menyarankan untuk swab esok hari. “Sekalian swab aja sekeluarga Teh! Besok panggil yang swab home visit atau ke swab yang Drive Thru. Hariwang, soalnya ibu sama mang Tedi juga gitu kan.” Begitu kata adik saya. Kemudian adik saya yang satu lagi meng-iya-kan dari samping saya. “Udah, ade nanti daftarin buat swab yang drive thru. Besok di tes.”. Saya pasrah saja, memang nggak kepikiran covid juga dan bukan juga takut.

Malam itu akhirnya kami istirahat di kamar masing-masing sambil berdoa semoga besok pagi sudah enakan, malam itu saya tidur juga tidak terlalu nyenyak karena demam. Obatpun sudah diminum. Esok paginya, ternyata badan saya tidak kunjung enakan. Masih demam dan linu-linu makin menjadi. Tumben sekali sampai ingin nangis rasanya. Bapa dan ibu saya meminta untuk tidak masuk kantor dan saya langsung kabari kantor untuk izin. Ibu sayapun begitu, sakitnya belum juga membaik.

Kebetulan, hari itu  4 Mei 2021 adalah jadwal Bapa saya untuk Vaksin Covid dosis ke-2 di Puskesmas setempat jadi bapa saya tidak masuk kantor. Jadilah pagi itu bapa saya dibantu oleh bibi dan adik ke-2 saya membantu mengurus pasien yang sakit di rumah, ada nenek, ibu, saya, juga sepupu saya di rumah sebelah.

Sekitar jam 10.30 Bapa saya pamit untuk pergi ke puskesmas pakai motor, karena jaraknya dari rumah dekat sekali paling sekitar 3 menit. Bersamaan dengan itu, bibi saya mengurus nenek, menyeka badannya, ganti baju, dan menyuapi (walaupun dalam beberapa hari terakhir sangat sedikit makanan yang masuk). Setelah selesai, bibi saya kembali ke rumah sebelah karena akan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Bapa saya kemudian sudah kembali dari puskesmas dan berkata, “Bapa nggak bisa di vaksin. Ditunda. Demam katanya, tadi diukur 38°C.” Padahal saat itu bapa tidak terlihat sedang sakit dan biasa saja.

Sekitar pukul 11.30, adik ke-2 saya yang memang sedang WFH turun ke kamar nenek untuk memberikan minum, namun yang dia lihat adalah bahwa nenek saya sudah tidak merespon apapun. Berusaha untuk tidak panik, adik saya terlebih dahulu memanggil bibi saya di sebelah rumah (Rumah saya dan Rumah bibi hanya dibatasi oleh garasi motor saja) untuk melihat nenek, “Bi, itu tolong lihatin ema mau dikasih minum tapi kok udah nggak gerak.” kurang lebih seperti itu yang adik saya katakan pada bibi. Bibi dan adik saya berlari menuju kamar nenek. Saya dan Ibu yang sedang di kamar atas samar-samar mendengar teriakan bibi saya di kamar bawah, ”Emaa...”sambil menangis, begitulah kira-kira. Adik saya menyusul ke atas untuk memberi tahu saya, ibu, dan bapa.

Seketika, saya langsung turun dari tempat tidur bersama ibu dan bapa berlari ke kamar nenek. Benar saja saya lihat nenek sudah terbujur tidak bergerak. Kamipun menangis dan berusaha tenang. Ibu saya meminta saya untuk menghubungi tetangga depan rumah kami yang memang seorang dokter untuk minta tolong apakah nenek saya masih ada atau tidak. Dokterpun langsung datang ke rumah dan setelah di cek benar saja dokter menyatakan bahwa nenek saya sudah tidak ada. Kami yang dalam kondisi sakit, tiba-tiba merasa  ada kekuatan untuk mengurus jenazah nenek. Setelah saya kabari keluarga, cukup banyak saudara dan tetangga yang datang untuk melayat.

Setelah selesai proses pengurusan semuanya, sekitar pukul 16.00 kami pergi ke Ciamis, karena nenek berpesan untuk dimakamkan di sebelah kakek. Saya berangkat sekitar 1 jam kemudian bersama bapa dan adik-adik karena menunggu adik ke-1 yang datang dari Jakarta. Proses pemakaman malam itu berjalan sampai pukul 20.30 malam. Malam itu semua dalam keadaan lelah, sedih, beberapa dari kami juga dalam kondisi sakit hingga ibu saya pingsan. Tetapi alhamdulillah semua prosesnya berjalan dengan lancar.

.

Next, ceritanya berlanjut di part 2 ya...

Senin, 25 Desember 2017

KETIKA MEMUTUSKAN LANJUT KULIAH

Sudah lama saya tidak menulis. Terakhir kali saya menulis itu ketika pulang Umroh, kira-kira sudah 9 bulan lalu. Selama 9 bulan itu cukup banyak yang ingin saya tuliskan. Banyak juga kejadian-kejadian atau pengalaman yang saya alami. Tapi nanti, saya pasti akan tuliskan. Berhubung waktu agak-agak sibuk jadi baru sempat menulis lagi sekarang. Kegiatan saya saat ini bertambah seiring dengan keputusan saya untuk melanjutkan studi. Otomatis, kira-kira hampir 18 jam sehari saya habiskan untuk urusan pekerjaan dan kuliah saya. Sisanya tidur.  Begitu setiap hari.

Sebenarnya, rencana saya untuk kembali melanjutkan pendidikan sudah ada pada tahun 2016. Malah mungkin 2015, sempat juga saya googling program pasca sarjana. Kala itu niatnya bermula dari rutinitas sehari-hari yang dirasa monoton. Rutinitas sekitar 2 tahun belakangan yang membosankan buat saya. Sepulang bekerja, istirahat atau kadang bertemu dengan teman kantor lama, atau teman kuliah lalu pulang sebelum maghrib, selanjutnya membantu ibu saya berjualan sampai sekira pukul 21.00.

Saya merasa, ilmu saya hanya akan segitu-gitu saja kalau rutinitasnya tetap. Otak juga rasanya tidak berkembang. Tidak ada tantangan. Kesempatan untuk membuka relasi dengan banyak orang mungkin tidak akan banyak. Biasanya, orang berhasil itu muncul setelah melalui kesulitan--kesulitan. Niatnya, saya harus keluar dari zona nyaman. Dan saya harus jadi orang yang berhasil. Ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah itu saya sudah pikirkan resikonya masak-masak. Yap, waktu saya akan banyak tersita untuk itu, waktu istirahat juga berkurang, kemudian tidak bisa lagi membantu ibu saya di warung, rutinitas yang biasa saya lakukan. Bersiap dengan muncul lagi yang namanya “galau akademik” seperti yang dirasakan waktu S1 dulu, dan mungkin ini akan lebih berat. Belum lagi dengan sederet pekerjaan yang tidak bisa diabaikan juga. Bismillah, saya siap dengan segala resiko itu. Kalau tekad itu sudah bulat, selanjutnya saya ngobrol dengan orang tua saya dan alhamdulillah mereka mendukung. Katanya cari saja mau lanjut kuliah dimana.



Out of Your Comfort Zone

Sempat saya googling lagi universitas mana saja yang membuka program pasca sarjana jurusan manajemen di Bandung, dengan harga yang terjangkau oleh saya kemudian juga jam kuliah yang sesuai dengan waktu yang saya punya dengan tidak mengganggu waktu kerja, dan selanjutnya yang beken kalau bisa! Menurut saya beken itu penting, apalagi dikaitkan dengan mencari kerja masa kini. Biasanya perusahaan mempertimbangkan faktor “beken”nya suatu universitas. Memang, sampai saat ini saya tidak berniat mencari pekerjaan lagi karena pekerjaan yang dijalani masih menjadi yang terbaik untuk saya. Kebekenan universitas sebenarnya hanya nilai plus saja. Mengapa pilih jurusan manajemen? Karena background saya dari Fakultas Ekonomi Unpar, untuk pilihan program studi manajemen karena terkait juga dengan pekerjaan saya saat ini. Intinya, manajemen akan terpakai dimana-mana. Simple.

Untuk pilihan universitas, sempat googling  yang di Bandung tapi beberapa hari berpikir tentang ini tetap belum sreg terutama dari segi waktu. Akhirnya, beberapa hari kemudian adik saya bicara pada orang tua untuk niat lanjut kuliah, berbeda dengan saya, dia sudah punya tempat tujuan lanjut studinya yaitu di Universitas Maranatha. Orang tua saya lalu menyarankan agar sayapun lanjut kuliah disana. Lalu saya diberi tahu tentang informasi pendaftarannya oleh adik saya. Ternyata cocok dan langsung sreg. Biaya cukup terjangkau oleh saya, jam kuliah sesuai dengan jam kerja, bekennya dapat. Haha. Langsung kira-kira seminggu kemudian saya mendaftar kesana. Saya sadar resiko melanjutkan kuliah disana adalah akan sekelas dengan adik sendiri! Tapi tidak masalah.





Setelah mencari-cari informasi, pada akhirnya sekitar awal bulan April saya mendaftar ke sana. Setelah membayar uang pendaftaran kemudian dijadwalkan untuk psikotes dan wawancara. Saya dan adik saya diterima di Program Studi Magister Manajemen Maranatha. Kami masuk menjadi MM angkatan XLII. Alhamdulilah, sejauh ini saya sangat enjoy menikmati perkuliahan walau waktu menjadi sibuk tapi hal itu tidak boleh dijadikan alasan karena resiko sudah dipikirkan sejak awal. Semangat naik turun untuk kuliah pasti ada, apalagi ketika sudah capek. Tapi itu biasa. Suasana perkuliahan dan teman-teman yang nyaman juga membuat kuliah tidak serasa kuliah. Haha. Mudah-mudahan diberi kelancaran dan dapat lulus cepat dengan hasilnya memuaskan.


MM XLII


Jumat, 31 Maret 2017

PETUALANGAN MENCARI AL-BAIK


          Ketika beberapa waktu lalu saya pergi umroh, ada beberapa cerita yang sebenarnya sayang untuk dibuang. Biarlah ini menjadi tulisan untuk saya sendiri dan semoga suatu saat dapat diturunkan pada anak-anak saya. Hehehe...
             Pergi umroh. Sejak jauh-jauh hari ketika akan berangkat umroh, kakak sepupu saya berpesan, bahwa jangan lupa disana harus coba Al-Baik.

“Kalau beli secukupnya aja, karena isinya banyak, satu porsi bisa 2 atau 3 orang untuk kita orang-orang Indonesia.”
“Jangan lupa coba garlic sauce nya.”
“Kalau bisa pas pulang bawa.”
“Nanti pas beli Al-Baik disana foto yah.”
“Kalau nggak tau tempat Al-Baik, coba tanya nanti sama muthowwif-nya deh. Minta tolong tunjukin.”
“Antrian beli Al-Baik untuk cewe dan cowo dipisah loh.”

dan sederetan pesan-pesan lainnya tentang Al-Baik. Saya belum pernah coba Al-Baik itu rasanya seperti apa. Yang saya tahu hanya Al-Baik adalah KFC-nya Arab Saudi. Itu aja. Membayangkkan kata-katanya, mungkin memang saya harus nyoba untuk beli Al-Baik. Baiklah, saya akan coba beli Al-Baik.

            Kalau belum tahu, Al Baik merupakan restoran fast food  ayam goreng paling favorit bagi warga Saudi. Jika Anda pergi ke Mekah atau Madinah, maka Anda akan menjumpai Al Baik yang selalu penuh sesak dengan pelanggan. Jika di Eropa, Amerika dan juga Indonesia masyarakat lebih mengenal KFC, maka di Arab Saudi merk Al Baik lebih terkenal. Rasanya yang lebih beraroma dan porsinya yang lebih besar menjadikan Albaik menjadi favorit masyarakat Arab Saudi. (sumber . http://duniatimteng.com/10-fakta-ayam-goreng-al-baik-fast-food-favorit-arab-saudi/)

(LOGO AL_BAIK)

                Awal saya datang ke Madinah, saya malah lupa tentang Al-Baik. Fokusnya hanya untuk ibadah saja. Ketika hari pertama saya istirahat di hotel, saya menyibakkan gorden hotel dan memperhatikan suasana sekitar. Kemudian sejauh mata memandang, Jeng..Jeng.. Al-Baik. Rezeki nih ada Al-Baik dekat hotel. Lokasi hotelnya ada di seberang makam Baqi. Saya langsung memberi tahu sepupu saya untuk membeli Al-Baik.
Rencananya, besok setelah shalat ashar kita akan beli Al-Baik.
                Kami berdua janjian di depan hotel dengan adik saya, karena berbada rombongan laki-laki dan perempuan. Jadilah sore itu kami bertiga menuju Al-Baik belakang hotel. Lokasi dan jaraknya dekat sekali, tetapi ketika kami akan masuk ternyata antriannya terbagi-bagi. Untuk antrian single ada di lantai bawah sedangkan kami yang bertiga ini harus keluar gedung dan menuju lantai 2, tempat makan family. Tidak sampai disitu, sudah di tempat family-pun, antrian laki-laki dan perempuan dipisah. Jadilah saya dan sepupu saya mengantrikan untuk adik saya dan teman-teman sekamarnya. Awalnya kami akan makan disana, tetapi kemudian kami urungkan dan kami pesan untuk makan di hotel.


(Antrian Al-Baik. Dipisah Antara Laki-Laki dan Perempuan)

                Ketika melihat menu, harga yang tertera murah banget dibandingkan dengan KFC. Contohnya begini, kemarin kami memesan paket 4 pcs ayam goreng spicy, kentang goreng, dan ada tambahan 3 buah roti burger, harganya hanya 12 SR. 12 Riyal kurang lebih 48 ribu Rupiah. Berbeda dengan paket yang berisi 8 pcs ayam goreng, harganya yaitu 23 SR. Murah kan.
                Akhirnya kami beli 1 paket yang isinya 4 pcs ayam dan 1 paket yg isinya chicken fillet untuk kami berempat. Sedangkan adik saya, saya belikan 1 paket ayam 4 pcs juga 2 buah sandwich (kayak kebab sih bentuknya) untuk di kamar laki-laki. Soal rasa, enak-enak saja. Hehehe. Benar apa yang dibilang oleh kakak sepupu saya, makan ditambahkan dengan garlic sauce enak loh. Ada sensasi berbeda.



(Paket Spicy Chicken dan Chicken Fillet dimakan ramai-ramai)

Itu cerita di Madinah. Lain lagi dengan cerita Al-Baik di Makkah. Kalau di Makkah ceritanya lebih berkesan. Karena kita mencari-cari Al-Baik dengan penuh perjuangan tanya sana tanya sini.
                Jadi sore itu kami telah melaksanakan umroh sunah di Masjidil Haram, sebelum maghrib tepat kami selesai umroh. Saat itu, sambil menunggu shalat maghrib, saya, Puput (sepupu), Teh Fitria, dan Kang Hilman (suaminya Teh Fitria) sedang mengobrol ringan. Tiba-tiba Teh Fitria mengutarakan niatnya ingin makan Al-Baik. Kami (saya dan Puput) bercerita bahwa di Madinah sudah makan Al-Baik. Karena penasaran, Teh Fitria ingin juga makan itu dan kami bersepakat bahwa selesai shalat Magrib akan makan Al-Baik dulu kemudian shalat Isya. Selesai Magrib, kami berempat bergegas keluar masjid mencari Al-Baik di sekitar Zamzam Tower. Dasar yah, kami malah nyasar di Masjid. Mau keluar ke Zamzam tower malah bolak-balik ke area Sa’i. Cukup lama kami muter-muter karena tempatnya jauh (masjidnya besar). Akhirnya kami sampai di pelataran Masjidil Haram dekat Zamzam Tower. Begitu kami melihat jam, waktu Shalat Isya semakin dekat. Rasanya tidak akan tenang kalaupun kami harus makan. Jadi saat itu kami putuskan untuk shalat isya terlebih dahulu.


                Oya, dalam pencarian Al-Baik ini, kami jadi berenam. Dua orang tambahannya adalah teman Puput dan saudaranya yang kebetulan sama-sama sedang umroh. Sebenarnya, kami tidak tahu dimana dijual Al-Baik. Jadi dengan sok tahu kami masuk ke zamzam tower, muter-muter eh tidak ada. Kami menuju ke pelataran masjid lagi, tanya sama orang Arab yang bawa keresek Al-Baik. Nanya dalam bahasa Inggris tetapi sama sekali tidak nyambung.Hahaha... Dari hasil bertanya itu, kami malah nyasar ke gedung Hotel Marriot Makkah. Disana nanya security-nya dimana dijual Al-Baik. Ternyata kami salah gedung. Al-Baik dijual di Food Court Hilton Hotel. Jadi kami keluar gedung lagi dan menemukan tulisan bahwa Al-Baik ada di lantai 4 gedung tersebut. Okay akhirnya kami menemuka Al-Baik. Antrinya cukup lumayan lama.  Ada hal berbeda di Al-Baik ini, di sini tidak dijual ayam goreng tetapi Chicken Fillet. Entah mengapa di cabang Al-Baik yang ini tidak menjual ayam goreng. Akhirnya kami pesan dan langsung pulang ke hotel.

                Setelah mendapatkan Al-Baik, kami dari yang asalnya berenam kembali berpisah. Teman Puput dan saudaranya kembali ke hotel masing-masing. Saya dan Puput langsung kembali ke hotel. Sedangkang Teh Fitria dan Kang Hilman makan dulu di food court. Begitulah kira-kira petualangan mencari Al-Baik di Makkah, cukup melelahkan dan menghilangkan kepenasaranan.

Sabtu, 14 Januari 2017

PENGALAMAN VAKSIN MENINGITIS DI KKP BANDUNG 2017

Setelah 2 tahun yang lalu saya pernah menulis mengenai pengalaman saya dalam vaksin meningitis di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Bandung. Setahu saya, vaksin meningitis di Bandung ini dilakukan di KKP Bandung yang letaknya di area bandara Husein Sastranegara, kali ini saya akan menulis hal yang sama tetapi lebih update (versi 2017). Hehe.

Seperti yang kita ketahui, vaksin meningitis ini mayoritas dilakukan oleh calon jamaah haji atau umroh. Karena salah satu syarat mendapatkan visa Arab Saudi adalah melampirkan kartu Vaksin ini. Saya pernah melakukannya sekitar 2 tahun yang lalu sekitar akhir tahun 2014.

Alhamdulillah, saya mendapatkan panggilan lagi untuk melakukan ibadah umroh (Insya Allah). Saya langsung melengkapi syarat-syarat yang dibutuhkan. Karena terakhir kali saya vaksin itu bulan Oktober 2014, maka saya harus vaksin ulang. Vaksin meningitis saya yang sebelumnya berlaku selama 2 tahun yaitu sampai bulan Oktober 2016. Saya bergegas menuju kesana. Untuk anda yang belum pernah vaksin meningitis, harus diketahui bahwa ada syarat yang harus dipenuhi, diantaranya : 

ü  Mengisi formulir data diri yang disediakan di KKP Kelas II Bandung
ü  Membawa foto copy paspor (1 lembar)
ü  Membawa 1 lembar foto 4x6 berlatar belakang putih dan di zoom 80% (pas foto untuk haji atau umroh)

Selanjutnya kita tinggal datang saja kesana. Jam pelayanan KKP Kelas II Bandung ini adalah pukul 07.30 – 15.00. Saat itu saya datang pukul 07.00 pagi. Ternyata sampai disana sudah banyak orang yang mengantri. Langsung saja saya masukkan berkas yang ada. Oya, karena buku vaksin saya sebelumnya masih ada, saya bawa dan lampirkan. Walaupun tidak ada peraturan tertulis bahwa bagi orang yang sudah pernah vaksin harus membawa buku kembali. Sepagi itu saya sudah mendapatkan nomor antrian 131.

Saya menunggu saja karena memang harus ditunggu. Tidak lupa saya telepon kantor untuk mengabarkan akan datang terlambat. Ketika jam pelayanan sudah dibuka, petugas memanggil pasien nomor urut 1 – 50 untuk masuk ke dalam ruangan. Selanjutnya nama kita bergiliran untuk melakukan tensi tekanan darah. Selanjutnya duduk lagi untuk dipanggil ke ruangan suntik.

Di dalam ruangan suntik, saya diberi test pack untuk mengetes kehamilan. Perlu diketahui, wanita dalam usia subur (dibawah 45 tahun) harus melakukan cek kehamilan karena vaksin meningitis berbahaya bagi wanita hamil. Jika dinyatakan negatif, maka kita diperkenankan untuk melakukan vaksin.

Setelah selesai suntik, kita keluar ruangan dan nama kita akan dipanggil untuk melakukan pembayaran. Setelah lunas, nama kita akan dipanggil kembali untuk penyerahan kartu vaksin.
Kali ini saya melakukan 2 macam vaksin yaitu meningitis dan influenza. Biayanya masih sama seperti tahun 2014 lalu. 305 ribu untuk vaksin meningitis dan 150 ribu untuk vaksin influenza. Pada dasarnya pelayanan cukup baik, hanya ruangannya sangat sempit sehingga untuk sekedar menunggu vaksin saja menjadi tidak nyaman. Saya sempat mengobrol dengan seorang petugas bahwa bulan Februari 2017 KKP Kelas II Bandung direncanakan akan pindah ke Cikapayang, tempatnya seberang gereja (menurut informasi) tapi entah realisasinya seperti apa. Mudah-mudahan fasilitas ruang tunggu dan pelayanannya makin bagus.


_.SEKIAN._