Assalamualaikum..
.
Halo semua, setelah sekian tahun
nggak update di blog ini rasanya kangen juga. Banyak hal yang membuat saya
melewatkan waktu untuk sekedar menulis (bukan sok sibuk yeaa). Hanya sekedar
untuk sharing (siapa tau ada yang baca) dan sebagai catatan penting yang
mungkin suatu saat nanti bisa dibaca oleh anak cucu saya kelak.
Mumpung masih ingat tanggal per
tanggalnya, seperti judul di atas ya saya mau menceritakan pengalaman tentang covid kemarin. Pengalaman yang siapa tau
berguna untuk orang lain. The story begin...
.
Jadi awalnya di tanggal 3 Mei 2021, saya berangkat kerja
seperti biasa dengan tubuh yang merasa sehat-sehat saja normal seperti
biasanya. Nah sekitar jam 11.30an saya merasa agak-agak ngantuk (ngerasa ngantuk
suatu hal yang normal soalnya semalam tidur agak larut karena nonton tv) jadilah
siang itu tiduran di sofa sebelah ruangan saya. Eh ketiduran sampai kira-kira
jam 12. Dibangunin sama staf kantor yang pamit kepada saya karena mau istirahat
dan ke masjid. Jadilah di kantor cuma saya sendirian. Saya lanjut tidur ayam
sampe sekitar jam 13.15. Lalu bangun dan ngerasa saya lemes dan mulai linu-linu
badan (linu-nya cuma dari pinggang ke kaki aja) sendi-sendi juga ngerasa nggak
enak. Tapi nggak demam juga. Lalu saya coba lanjut kerja sampai jam 14.30an.
Kemudian saya pulang karena memang merasa badan sudah benar-benar nggak enak.
Perjalanan dari kantor ke rumah sekitar 1 jam pakai motor. Di jalan dengan
kondisi badan udah nggak enak banget, dalam hati saya bergumam “Nyampe, nggak
nih. Nyampe, nggak nih.” Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat.
Sampai rumah, nggak seperti
biasanya saya ganti baju lalu bersih-bersih dan istirahat. Sore itu setelah
tiba, saya langsung lepas kerudung dan ke tempat tidur karena badan sudah
benar-benar nggak enak. Saya juga nggak bertemu dengan orang rumah, langsung ke
kamar. Langsung tidur dan kebangun sekitar jam 17.30 itu juga dibangunkan oleh
ibu saya karena belum menyiapkan makanan buka puasa. Ternyata, ibu saya meminta
bantuan untuk siapkan makanan berbuka karena beliau sedang meriang. Badannya demam
dan lemas. Kemudian saya bilang, bahwa saya juga sedang tidak enak badan.
Jadinya sore itu kami beristirahat di kamar masing-masing.
Tidak ada pikiran sedikitpun
bahwa itu adalah gejala covid, saya merasa saya mungkin terlalu capek. Biasanya
minum Biogesic lalu tidur juga kemudian sembuh. Ibu saya juga sama tidak
berpikiran sedikitpun tentang Covid karena memang hampir 2 minggu belakangan
ini ibu saya mengurus nenek (82 tahun) yang sedang bolak-balik rumah sakit
karena penyakit Tumor Intra Abdomen. Baru 5 hari yang lalu selesai operasi dan
3 hari ini pulang ke rumah, mungkin ibu saya kecapean karena itu. Biasanya,
yang jaga malam untuk mengurus nenek adalah paman saya. Tetapi di malam itu
masuk whatsapp dari istrinya bahwa paman saya tidak bisa datang ke rumah karena
sakit meriang. Persis seperti yang dirasakan ibu saya. Jadilah malam itu bapak
saya yang menemani nenek. (nb. Nenek saya memang dalam kondisi lemah, sudah
apa-apa di tempat tidur sehingga harus selalu ada yang standby menemani). Saya
juga baru teringat bahwa adik sepupu saya yang tinggal di sebelah rumah sudah 3
hari itu demam sampai 39°C. Sesekali ibunya (bibi) saya juga ikut merawat nenek.
Malam itu kemudian saya video
call dengan adik yang kerja di Jakarta. Malam itu saya sudah mulai merasakan
badan panas. Sambil video call, saya ukur suhu tubuhnya ternyata 38,7°C!
Adik saya kemudian menyarankan untuk swab esok hari. “Sekalian swab aja
sekeluarga Teh! Besok panggil yang swab home visit atau ke swab yang Drive
Thru. Hariwang, soalnya ibu sama mang Tedi juga gitu kan.” Begitu kata adik
saya. Kemudian adik saya yang satu lagi meng-iya-kan dari samping saya. “Udah,
ade nanti daftarin buat swab yang drive thru. Besok di tes.”. Saya pasrah saja,
memang nggak kepikiran covid juga dan bukan juga takut.
Malam itu akhirnya kami istirahat
di kamar masing-masing sambil berdoa semoga besok pagi sudah enakan, malam itu
saya tidur juga tidak terlalu nyenyak karena demam. Obatpun sudah diminum. Esok
paginya, ternyata badan saya tidak kunjung enakan. Masih demam dan linu-linu
makin menjadi. Tumben sekali sampai ingin nangis rasanya. Bapa dan ibu saya meminta
untuk tidak masuk kantor dan saya langsung kabari kantor untuk izin. Ibu
sayapun begitu, sakitnya belum juga membaik.
Kebetulan, hari itu 4 Mei
2021 adalah jadwal Bapa saya untuk Vaksin Covid dosis ke-2 di Puskesmas
setempat jadi bapa saya tidak masuk kantor. Jadilah pagi itu bapa saya dibantu
oleh bibi dan adik ke-2 saya membantu mengurus pasien yang sakit di rumah, ada
nenek, ibu, saya, juga sepupu saya di rumah sebelah.
Sekitar jam 10.30 Bapa saya pamit
untuk pergi ke puskesmas pakai motor, karena jaraknya dari rumah dekat sekali
paling sekitar 3 menit. Bersamaan dengan itu, bibi saya mengurus nenek, menyeka
badannya, ganti baju, dan menyuapi (walaupun dalam beberapa hari terakhir
sangat sedikit makanan yang masuk). Setelah selesai, bibi saya kembali ke rumah
sebelah karena akan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Bapa saya kemudian
sudah kembali dari puskesmas dan berkata, “Bapa nggak bisa di vaksin. Ditunda.
Demam katanya, tadi diukur 38°C.” Padahal saat itu bapa tidak
terlihat sedang sakit dan biasa saja.
Sekitar pukul 11.30, adik ke-2
saya yang memang sedang WFH turun ke kamar nenek untuk memberikan minum, namun
yang dia lihat adalah bahwa nenek saya sudah tidak merespon apapun. Berusaha
untuk tidak panik, adik saya terlebih dahulu memanggil bibi saya di sebelah
rumah (Rumah saya dan Rumah bibi hanya dibatasi oleh garasi motor saja) untuk
melihat nenek, “Bi, itu tolong lihatin ema mau dikasih minum tapi kok udah
nggak gerak.” kurang lebih seperti itu yang adik saya katakan pada bibi. Bibi
dan adik saya berlari menuju kamar nenek. Saya dan Ibu yang sedang di kamar
atas samar-samar mendengar teriakan bibi saya di kamar bawah, ”Emaa...”sambil
menangis, begitulah kira-kira. Adik saya menyusul ke atas untuk memberi tahu
saya, ibu, dan bapa.
Seketika, saya langsung turun
dari tempat tidur bersama ibu dan bapa berlari ke kamar nenek. Benar saja saya
lihat nenek sudah terbujur tidak bergerak. Kamipun menangis dan berusaha
tenang. Ibu saya meminta saya untuk menghubungi tetangga depan rumah kami yang
memang seorang dokter untuk minta tolong apakah nenek saya masih ada atau
tidak. Dokterpun langsung datang ke rumah dan setelah di cek benar saja dokter
menyatakan bahwa nenek saya sudah tidak ada. Kami yang dalam kondisi sakit,
tiba-tiba merasa ada kekuatan untuk
mengurus jenazah nenek. Setelah saya kabari keluarga, cukup banyak saudara dan
tetangga yang datang untuk melayat.
Setelah selesai proses pengurusan
semuanya, sekitar pukul 16.00 kami pergi ke Ciamis, karena nenek berpesan untuk
dimakamkan di sebelah kakek. Saya berangkat sekitar 1 jam kemudian bersama bapa
dan adik-adik karena menunggu adik ke-1 yang datang dari Jakarta. Proses
pemakaman malam itu berjalan sampai pukul 20.30 malam. Malam itu semua dalam
keadaan lelah, sedih, beberapa dari kami juga dalam kondisi sakit hingga ibu
saya pingsan. Tetapi alhamdulillah semua prosesnya berjalan dengan lancar.
.
Next, ceritanya berlanjut di part
2 ya...




0 komentar:
Posting Komentar