Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 23 Juni 2021

Kebagian Covid Juga... (Part 1)

 

Assalamualaikum..

.

Halo semua, setelah sekian tahun nggak update di blog ini rasanya kangen juga. Banyak hal yang membuat saya melewatkan waktu untuk sekedar menulis (bukan sok sibuk yeaa). Hanya sekedar untuk sharing (siapa tau ada yang baca) dan sebagai catatan penting yang mungkin suatu saat nanti bisa dibaca oleh anak cucu saya kelak.

Mumpung masih ingat tanggal per tanggalnya, seperti judul di atas ya saya mau menceritakan pengalaman tentang covid kemarin. Pengalaman yang siapa tau berguna untuk orang lain. The story begin...

.

Jadi awalnya di tanggal 3 Mei 2021, saya berangkat kerja seperti biasa dengan tubuh yang merasa sehat-sehat saja normal seperti biasanya. Nah sekitar jam 11.30an saya merasa agak-agak ngantuk (ngerasa ngantuk suatu hal yang normal soalnya semalam tidur agak larut karena nonton tv) jadilah siang itu tiduran di sofa sebelah ruangan saya. Eh ketiduran sampai kira-kira jam 12. Dibangunin sama staf kantor yang pamit kepada saya karena mau istirahat dan ke masjid. Jadilah di kantor cuma saya sendirian. Saya lanjut tidur ayam sampe sekitar jam 13.15. Lalu bangun dan ngerasa saya lemes dan mulai linu-linu badan (linu-nya cuma dari pinggang ke kaki aja) sendi-sendi juga ngerasa nggak enak. Tapi nggak demam juga. Lalu saya coba lanjut kerja sampai jam 14.30an. Kemudian saya pulang karena memang merasa badan sudah benar-benar nggak enak. Perjalanan dari kantor ke rumah sekitar 1 jam pakai motor. Di jalan dengan kondisi badan udah nggak enak banget, dalam hati saya bergumam “Nyampe, nggak nih. Nyampe, nggak nih.” Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat.

Sampai rumah, nggak seperti biasanya saya ganti baju lalu bersih-bersih dan istirahat. Sore itu setelah tiba, saya langsung lepas kerudung dan ke tempat tidur karena badan sudah benar-benar nggak enak. Saya juga nggak bertemu dengan orang rumah, langsung ke kamar. Langsung tidur dan kebangun sekitar jam 17.30 itu juga dibangunkan oleh ibu saya karena belum menyiapkan makanan buka puasa. Ternyata, ibu saya meminta bantuan untuk siapkan makanan berbuka karena beliau sedang meriang. Badannya demam dan lemas. Kemudian saya bilang, bahwa saya juga sedang tidak enak badan. Jadinya sore itu kami beristirahat di kamar masing-masing.

Tidak ada pikiran sedikitpun bahwa itu adalah gejala covid, saya merasa saya mungkin terlalu capek. Biasanya minum Biogesic lalu tidur juga kemudian sembuh. Ibu saya juga sama tidak berpikiran sedikitpun tentang Covid karena memang hampir 2 minggu belakangan ini ibu saya mengurus nenek (82 tahun) yang sedang bolak-balik rumah sakit karena penyakit Tumor Intra Abdomen. Baru 5 hari yang lalu selesai operasi dan 3 hari ini pulang ke rumah, mungkin ibu saya kecapean karena itu. Biasanya, yang jaga malam untuk mengurus nenek adalah paman saya. Tetapi di malam itu masuk whatsapp dari istrinya bahwa paman saya tidak bisa datang ke rumah karena sakit meriang. Persis seperti yang dirasakan ibu saya. Jadilah malam itu bapak saya yang menemani nenek. (nb. Nenek saya memang dalam kondisi lemah, sudah apa-apa di tempat tidur sehingga harus selalu ada yang standby menemani). Saya juga baru teringat bahwa adik sepupu saya yang tinggal di sebelah rumah sudah 3 hari itu demam sampai 39°C. Sesekali ibunya (bibi) saya juga ikut merawat nenek.

Malam itu kemudian saya video call dengan adik yang kerja di Jakarta. Malam itu saya sudah mulai merasakan badan panas. Sambil video call, saya ukur suhu tubuhnya ternyata 38,7°C! Adik saya kemudian menyarankan untuk swab esok hari. “Sekalian swab aja sekeluarga Teh! Besok panggil yang swab home visit atau ke swab yang Drive Thru. Hariwang, soalnya ibu sama mang Tedi juga gitu kan.” Begitu kata adik saya. Kemudian adik saya yang satu lagi meng-iya-kan dari samping saya. “Udah, ade nanti daftarin buat swab yang drive thru. Besok di tes.”. Saya pasrah saja, memang nggak kepikiran covid juga dan bukan juga takut.

Malam itu akhirnya kami istirahat di kamar masing-masing sambil berdoa semoga besok pagi sudah enakan, malam itu saya tidur juga tidak terlalu nyenyak karena demam. Obatpun sudah diminum. Esok paginya, ternyata badan saya tidak kunjung enakan. Masih demam dan linu-linu makin menjadi. Tumben sekali sampai ingin nangis rasanya. Bapa dan ibu saya meminta untuk tidak masuk kantor dan saya langsung kabari kantor untuk izin. Ibu sayapun begitu, sakitnya belum juga membaik.

Kebetulan, hari itu  4 Mei 2021 adalah jadwal Bapa saya untuk Vaksin Covid dosis ke-2 di Puskesmas setempat jadi bapa saya tidak masuk kantor. Jadilah pagi itu bapa saya dibantu oleh bibi dan adik ke-2 saya membantu mengurus pasien yang sakit di rumah, ada nenek, ibu, saya, juga sepupu saya di rumah sebelah.

Sekitar jam 10.30 Bapa saya pamit untuk pergi ke puskesmas pakai motor, karena jaraknya dari rumah dekat sekali paling sekitar 3 menit. Bersamaan dengan itu, bibi saya mengurus nenek, menyeka badannya, ganti baju, dan menyuapi (walaupun dalam beberapa hari terakhir sangat sedikit makanan yang masuk). Setelah selesai, bibi saya kembali ke rumah sebelah karena akan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Bapa saya kemudian sudah kembali dari puskesmas dan berkata, “Bapa nggak bisa di vaksin. Ditunda. Demam katanya, tadi diukur 38°C.” Padahal saat itu bapa tidak terlihat sedang sakit dan biasa saja.

Sekitar pukul 11.30, adik ke-2 saya yang memang sedang WFH turun ke kamar nenek untuk memberikan minum, namun yang dia lihat adalah bahwa nenek saya sudah tidak merespon apapun. Berusaha untuk tidak panik, adik saya terlebih dahulu memanggil bibi saya di sebelah rumah (Rumah saya dan Rumah bibi hanya dibatasi oleh garasi motor saja) untuk melihat nenek, “Bi, itu tolong lihatin ema mau dikasih minum tapi kok udah nggak gerak.” kurang lebih seperti itu yang adik saya katakan pada bibi. Bibi dan adik saya berlari menuju kamar nenek. Saya dan Ibu yang sedang di kamar atas samar-samar mendengar teriakan bibi saya di kamar bawah, ”Emaa...”sambil menangis, begitulah kira-kira. Adik saya menyusul ke atas untuk memberi tahu saya, ibu, dan bapa.

Seketika, saya langsung turun dari tempat tidur bersama ibu dan bapa berlari ke kamar nenek. Benar saja saya lihat nenek sudah terbujur tidak bergerak. Kamipun menangis dan berusaha tenang. Ibu saya meminta saya untuk menghubungi tetangga depan rumah kami yang memang seorang dokter untuk minta tolong apakah nenek saya masih ada atau tidak. Dokterpun langsung datang ke rumah dan setelah di cek benar saja dokter menyatakan bahwa nenek saya sudah tidak ada. Kami yang dalam kondisi sakit, tiba-tiba merasa  ada kekuatan untuk mengurus jenazah nenek. Setelah saya kabari keluarga, cukup banyak saudara dan tetangga yang datang untuk melayat.

Setelah selesai proses pengurusan semuanya, sekitar pukul 16.00 kami pergi ke Ciamis, karena nenek berpesan untuk dimakamkan di sebelah kakek. Saya berangkat sekitar 1 jam kemudian bersama bapa dan adik-adik karena menunggu adik ke-1 yang datang dari Jakarta. Proses pemakaman malam itu berjalan sampai pukul 20.30 malam. Malam itu semua dalam keadaan lelah, sedih, beberapa dari kami juga dalam kondisi sakit hingga ibu saya pingsan. Tetapi alhamdulillah semua prosesnya berjalan dengan lancar.

.

Next, ceritanya berlanjut di part 2 ya...

0 komentar:

Posting Komentar