Tulisan ini sebenarnya saya tulis
sebagai salah satu pengingat diri bahwa saya pernah menjejakkan kaki disana
juga sebagai salah satu bagian dari rangkaian Australia Trip 2023. Di part ini, saya memang hanya ingin
mengangkat tentang Melbourne, kota yang bagi saya memiliki kesan tersendiri dan
mungkin juga karena ada hubungan emosional dengan keluarga saya khususnya.
Ya, pada Australia Trip 2023 ini, memang bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di Melbourne, sebuah kota di sebelah tenggara daratan Australia. Ini adalah kali ketiga saya. Pertama, pada Agustus - September 2017, kedua pada Februari 2019, dan ketiga pada September 2023. Tentunya, alasan kami kembali mengunjungi Melbourne karena ada urusan tertentu dan memang kami merindukannya. Saya, bukan orang yang gampang “betah” tinggal di kota orang, bagi saya Bandung adalah segala-galanya. Tetapi, Melbourne berbeda. Sejak pertama kali saya ke Melbourne saya merasakan kenyamanan ada di tempat ini. Cuaca, makanan, masyarakatnya, dan yang pasti suasananya membuat betah. Tidak heran Melbourne sempat beberapa kali dianugerahi penghargaan sebagai World Most Liveable City oleh Global Liveability Index karena memang senyaman itu (untuk saya).
- Melbourne -
Sedikit
intermezo, saya adalah seorang pemimpi. Selalu bermimpi berkesempatan ke luar
negeri. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi saya sangat suka melihat budaya dan
suasana negara lain. Itu saja. Masih ingat di mimpi saya ketika kelas 3 SD,
jika ditanya “Negara mana yang ingin dikunjungi?” saya pasti menjawab
Australia. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa Australia. Di sekitar usia
SMP-SMA, mimpi saya tentang berkunjung ke Australia sedikit terlupakan.
Kesempatan ke luar negeri pertama kali malah membawa saya mengunjungi China dan
Thailand. Tapi saya bersyukur mendapatkan kesempatan itu. Selepas itu, saya
teringat kembali akan mimpi saya ke Australia. Bapak saya pernah bilang, “Teh, kalau mimpi jangan tanggung. Mimpi mah bebas, berdoa juga supaya apa-apa
yang kamu mimpiin tercapai. Sok ku Bapa
didoakeun.”
Perjalanan
hidup dan mimpi ini membawa saya mendekat ke Australia. Ya, Melbourne! Bermula
dari tahun 2014. Adik bungsu saya yang saat itu bersekolah di kelas XI SMA
kedatangan seorang siswa pertukaran pelajar dari Australia. Ben namanya. Selama
6 minggu, Ben akan menjadi teman sekelas adik saya dalam program belajar Bahasa
Indonesia. Sebelumnya, wali kelas adik saya memang mencari house parent yang bersedia menampung Ben selama 6 minggu di
Indonesia. Awalnya kami meng-iyakan namun pada akhirnya Ben tinggal di rumah
salah satu teman adik, bernama V. Di banding di rumah V, ternyata Ben
sepertinya lebih betah tinggal di rumah kami. Sempat juga beberapa kali menginap.
Mungkin karena tipikal keluarga saya yang memang hangat, humoris, ditambah
Bapak saya yang suka bercanda. Setiap malam biasanya kami “untel-untelan” sekeluarga di kamar orang tua saya dan sepertinya
itu dilihat oleh Ben. Tentunya kami ajak dia bergabung. Singkat cerita, program
pertukaran pelajar itu berakhir dan Ben kembali ke Australia.
Hubungan
kami menjadi dekat, beberapa bulan kemudian (2015) Ben dan keluarganya kembali ke Indonesia
(Bandung) untuk berlibur. Disitu, menjadi kali pertama kami dua keluarga
berkenalan. Kami undang mereka untuk makan malam di rumah. Tentunya dengan menu
seadanya, khas orang Indonesia. Komunikasi kami Bahasa Inggris yang pas-pasan
tidak membuat kami menjadi mati gaya. Adik saya yang memang cukup bisa
berbahasa Inggris menjadi jembatan kami. Keluarga Ben juga sangat baik.
Sebelumnya, yang saya tahu kalau bule
itu biasanya dingin dan individualis. Tapi ini berbeda. Mereka mengundang kami
untuk berkunjung ke rumahnya di Melbourne. Tapi bagi kami tentunya tidak
semudah itu Fergusooo..., kami harus
menabung.
Sejak
2015 itu, keluarga Ben sempat beberapa kali datang ke Indonesia dan setiap
datang kemari kami selalu berkesempatan bertemu. Hal yang selalu dibicarakan
ketika pertemuan adalah lagi-lagi selalu mengundang untuk datang sekeluarga kesana.
Baru pada awal tahun 2017, kedua adik saya berkesempatan datang ke Melbourne
terlebih dahulu. Selama 3 minggu mereka tinggal di rumah Ben, mereka
diperlakukan dengan sangat baik dan seperti layaknya anak sendiri. Baru pada
pertengahan 2017, kali pertama saya ke Melbourne karena kantor saya mengadakan
survey ke sekolah-sekolah di Melbourne. Mencari sekolah yang dapat menerima
beberapa orang siswa kami yang bisa melakukan program pertukaran pelajar
disana. Rencana saya ini diketahui oleh ibunya Ben. Ibunya menawarkan kami
untuk berkunjung ke sekolah Ben, siapa tahu bisa menerima program student exchange ini. Selain itu kami
diajak makan, jalan-jalan dengan diantar oleh ibunya. Sebaik itu! Padahal saat
itu saya datang dengan orang kantor.
Pada
tahun 2018, adik pertama saya mengambil program Working Holiday Visa (WHV) untuk bekerja di Australia. Ya, dan
lagi-lagi atas kebaikannya, keluarga Ben meminta adik saya untuk tinggal di
rumahnya dan meminta menganggap rumahnya seperti rumah sendiri, berbagai
kebutuhan adik saya dibantu untuk dipenuhi olehnya. Baru pada akhir 2018, orang
tua dan adik bungsu saya merencanakan untuk berkunjung ke Melbourne, memenuhi
undangan yang telah bertahun-tahun dilayangkan sekaligus melepas rindu dengan
adik pertama saya. Saat itu kami langsung mengurus visa dan pertiketan untuk
keluarga kami. Saya dan adik bungsu yang memang sudah pernah ke Australia
sepertinya cukup mudah mendapatkan visa dibanding dengan orang tua saya. Sempat
kami khawatir takut visa-nya tidak granted,
namun alhamdulillah semua Granted!
Awal 2019, kami akhirnya bisa berangkat bersama-sama satu keluarga kesana. Sambutan dan kebaikannya sungguh sangat membuat kami terharu. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai dokter, ayah Ben menjemput keluarga kami di bandara dengan dua mobil. Satu dikemudikan oleh ibunya dan satu oleh ayahnya. Kami langsung diajak menuju ke rumahnya di daerah Eaglemont. Kami beristirahat sejenak. Kami diberi croissant hangat. Enak sekali. Apalagi kami sebelumnya menempuh penerbangan malam selama hampir 7 jam. Setelah sarapan, karena memang waktunya masih sangat pagi kami diajak berkeliling jalan kaki ke Chelsworth Park. Katanya, “Kalian semalam terlalu banyak duduk di dalam pesawat, supaya segar kalian harus berjalan-jalan kaki.”. Kalau kami orang Indonesia pasti berpikir, “Buset deh baru juga datang udah diajak jalan kaki 7 km.” Mungkin seperti itu, persis seperti yang saya pikirkan, hehehe... Tapi, saya tidak menyesal akan hal itu, karena didukung suhu sekitar 12 derajat pagi itu sangat nyaman berjalan kaki menikmati suasana sekitar.
Selama
8 hari kami berada di Australia, sebagian besar kami habiskan di Melbourne.
Sempat 2 hari kami berkunjung ke villa-nya
di daerah Lorne, sebuah kota kecil di Great Ocean Road, Victoria. Sekitar 2 jam
dari Melbourne. Kami hanya pergi berenak, dengan dua mobil. Saya bersama dengan
adik pertama mengendarai mobil Mini Cooper, sedangkan bapak, ibu, adik bungsu
saya, dan ibunya Ben mengendarai mobil yang lain. Buat saya, mengendarai mobil
berdua dengan adik di negara orang, menelusuri jalanan Great Ocean Road adalah
hal yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, sepanjang jalan menuju Lorne,
kami disuguhi dengan view pinggir laut yang tidak ternilai untuk saya.
Great Ocean Road
https://www.visitmelbourne.com/regions/great-ocean-road/see-and-do/nature-and-wildlife/beaches-and-coastlines/the-great-ocean-road
Ada satu
pengalaman unik untuk saya saat berkendara menuju Lorne. Saat saya dan adik
sedang asyik mengobrol di jalan, tiba-tiba kami dihentikan oleh polisi.
Ternyata sedang ada razia Alcohol Breath
Testing yang mana pengendara mobil melakukan test alkohol sebelum menghadapi rute berbelok-belok pinggir laut.
Adik saya menghentikan mobil Mini Cooper-nya.
Belum sempat melakukan tes alkohol, tiba-tiba kami dipersilahkan untuk
melanjutkan perjalanan. Saya bingung. Adik saya berkata, “Dia lihat teteh pake hijab, dia tahu kalau muslim nggak minum alkohol. Jadi kita boleh
jalan lagi.”. Syukurlah pikir saya, tapi jadi pengalaman baru juga dan jadi
tahu kalau ada tes seperti itu. Perjalanan-pun kami lanjutkan dan kami sempat
berhenti di bawah tulisan Great Ocean
Road. Sebuah tempat yang saya ketahui di pelajaran IPS saat kelas 4 SD hehehe...
Tiba
di Lorne, membuat saya begitu terkesan juga. Memang hanya sebuah kota kecil, tetapi
sangat nyaman. Kangguru bebas berkeliaran di halaman rumah. Burung nuri,
kakatua, dan burung-burung indah lainnya bebas terbang di beranda rumah. Di
hutan belakang rumah bahkan bisa kita temui koala sedang tidur di pohon.
Masyarakatnya begitu menghargai kebebasan hewan-hewan dengan tidak
mengganggunya. Singkat cerita, di Lorne benar-benar saya nikmati suasananya.
Berharap suatu saat bisa datang kembali ke Lorne.
Sekembalinya
kami dari Lorne, kami explore kota
Melbourne. Kebetulan kami menyewa apartemen selama sekitar seminggu di daerah
Southbank supaya dekat dengan Central
Business Dictrict (CBD) Melbourne. Semua bisa kami tempuh dengan berjalan
kaki, naik trem, atau naik kereta. Karena letaknya dekat dengan Flinders Station. Di sekitar situ kami
berkunjung ke Eureka Skydeck yang
merupakan bangunan tertinggi di Melbourne. Eureka
Tower memiliki tinggi total 297,3 meter. Kami naik ke lantai 88 gedung ini.
Di lantai 88 gedung ini, ada fasilitas menarik bernama The Edge yang merupakan
sebuah ruangan berbentuk balok berukuran 3x3 meter yang terbuat dari kaca tebal
dan bisa bergerak menonjol dan keluar dari gedung Eureka Tower. Karena semua kacanya bening, maka pengunjung akan
merasakan sensasi seperti terbang dengan ketinggian hampir 300 meter di atas
Kota Melbourne. The Edge ini dibuka
untuk umum, sebagai titik tertinggi gedung ini dan kita bisa menikmati
pemandangan dari atas. Menaiki lift
ke lantai 88 rasanya cukup pusing untuk saya, dengan waktu cukup cepat kita
bisa langsung ada disana. Tekanan di telinga juga cukup terasa saat menaikinya.
The Edge
Eureka Tower
Oh
ya, sebelumnya juga saya sempat diajak ke Healesville Sanctuary, semacam cagar
alam yang memuat banyak Native Australian
Animals, di suatu lahan yang luas kita dapat menemukan koala, kanguru,
wallaby, yang dapat kita lihat dalam jarak dekat. Selain itu ada juga tasmanian
devil, wombat, echidna, platypus, dan berbagai jenis burung seperti kookaburra.
Di dalamnya juga terdapat klinik untuk hewan-hewan tersebut sekaligus arena
pertunjukan hewan-hewan khas Australia. Tempatnya sangat nyaman untuk berjalan
kaki walaupun jaraknya cukup jauh. Pada kunjungan saya yang pertama tahun 2017,
saya beruntung bisa mendapatkan moment yang pas berfoto dan menyentuh wallaby. Sayangnya,
kunjungan ke dua saya pada 2023, hewan-hewan tersebut seperti sedang tidak mood untuk berfoto.
Healesville Sanctuary
Sebenarnya
masih banyak lagi destinasi yang saya kunjungi selama di Melbourne seperti St. Kilda Beach, Luna Park walaupun hanya ke depannya saja, kemudian ke pier, mampir ke Yarra Valley Chocolatery yang view di depannya seperti bukit Teletubbies.
Tapi, dari semua destinasi di Melbourne, yang menjadi favorit saya dan ibu saya
tentunya adalah Queen Victoria Market
(QVM). Dibanding dengan pusat perbelanjaan modern, saya selalu tertarik
mengunjungi pasar tradisionalnya di setiap negara. Selain kita jadi mengetahui
suasananya yang seberapa tradisional, kita bisa mendapatkan harga yang jauh
lebih murah dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Tiga kali saya
mengunjungi Melbourne, QVM selalu ada di dalam itinerary saya. Letaknya berada dekat dengan Central Business District (CBD). Bisa juga kita berjalan kaki atau
naik trem, karena QVM ini masuk dalam Free
Tram Zone jadi gratis. Letaknya Kalau tidak salah di Elizabeth Street.
Di
bagian depan pasar, sama sekali tidak terlihat kesan kumuh. Sayapun kagum
dengan kebersihannya. Area bagian depan menjual semua jenis daging. Ayam, ikan,
sapi, kambing, kangguru, dan tentu saja ada menjual pork. Walaupun di area ini terbilang basah, yang mungkin akan
sangat mudah mengundang lalat tetapi disini sangat bersih dan tidak berbau. Penataannya
juga baik dan produk-produk yang dijualnya higienis. Di bagian belakangnya
terdapat area sayur-sayuran dan buah-buahan. Suasananya tidak kalah bersih
dengan harga yang tidak semahal di supermarket. Karena saat itu kami tinggal di
apartemen, maka kamipun membeli beberapa bahan untuk dimasak. Juga untuk
wisatawan ada area penjualan souvenir yang cukup ramah kantong. Berbagai macam
model kaos dewasa dan anak dijual mulai harga AUD $5 - $8 belum lagi
souvenir-souvenir kecil lainnya juga tersedia, yang pasti saya betah belanja
berlama-lama disana.
Diluar
berbagai macam destinasi wisatanya, bagi saya Melbourne mempunyai tempat
tersendiri. Faktor utama adalah karena memiliki hubungan emosional dengan
keluarga Ben. Orang lain rasa saudara, komunikasi kami yang alhamdulillah selalu berjalan baik dan mudah-mudahan
akan selalu baik. Kedua adalah suasana lingkungan dan masyarakatnya. Melbourne
yang merupakan kota multikultural yang artistik akan membuat siapapun nyaman
sepertinya. Berdasarkan pengalaman dan penglihatan saya sebagian besar
masyarakatnya menghargai keberagaman identitas contohnya ketika berpapasan
mereka saling menyapa dengan senyuman, “Hi, good
morning.”. Ketiga adalah kota yang ramah dengan pejalan kaki. Saya sebagai
kaum yang mageran untuk berjalan
kaki, bisa tahan dan kuat berjalan kaki jauh di Melbourne. Ditambah dengan
udaranya yang bersih dan cuaca bersahabat juga bangunan-bangunan artistik,
rasanya jalan kaki 10 km juga mungkin tidak terasa. Kurang lebih seperti itulah
latar belakang saya menyukai kota ini. Tentu, suatu saat saya ingin kembali
mengunjungi kota ini untuk sekedar menikmati udara dan suasananya saja. Semoga...







.jpeg)

