Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 12 Februari 2024

MELBOURNE I'M IN LOVE

 

Tulisan ini sebenarnya saya tulis sebagai salah satu pengingat diri bahwa saya pernah menjejakkan kaki disana juga sebagai salah satu bagian dari rangkaian Australia Trip 2023. Di part ini, saya memang hanya ingin mengangkat tentang Melbourne, kota yang bagi saya memiliki kesan tersendiri dan mungkin juga karena ada hubungan emosional dengan keluarga saya khususnya.

                Ya, pada Australia Trip 2023 ini, memang bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di Melbourne, sebuah kota di sebelah tenggara daratan Australia. Ini adalah kali ketiga saya. Pertama, pada Agustus - September 2017, kedua pada Februari 2019, dan ketiga pada September 2023. Tentunya, alasan kami kembali mengunjungi Melbourne karena ada urusan tertentu dan memang kami merindukannya. Saya, bukan orang yang gampang “betah” tinggal di kota orang, bagi saya Bandung adalah segala-galanya. Tetapi, Melbourne berbeda. Sejak pertama kali saya ke Melbourne saya merasakan kenyamanan ada di tempat ini. Cuaca, makanan, masyarakatnya, dan yang pasti suasananya membuat betah. Tidak heran Melbourne sempat beberapa kali dianugerahi penghargaan sebagai World Most Liveable City oleh Global Liveability Index karena memang senyaman itu (untuk saya).

- Melbourne -


                Sedikit intermezo, saya adalah seorang pemimpi. Selalu bermimpi berkesempatan ke luar negeri. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi saya sangat suka melihat budaya dan suasana negara lain. Itu saja. Masih ingat di mimpi saya ketika kelas 3 SD, jika ditanya “Negara mana yang ingin dikunjungi?” saya pasti menjawab Australia. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa Australia. Di sekitar usia SMP-SMA, mimpi saya tentang berkunjung ke Australia sedikit terlupakan. Kesempatan ke luar negeri pertama kali malah membawa saya mengunjungi China dan Thailand. Tapi saya bersyukur mendapatkan kesempatan itu. Selepas itu, saya teringat kembali akan mimpi saya ke Australia. Bapak saya pernah bilang, “Teh, kalau mimpi jangan tanggung. Mimpi mah bebas, berdoa juga supaya apa-apa yang kamu mimpiin tercapai. Sok ku Bapa didoakeun.”

                Perjalanan hidup dan mimpi ini membawa saya mendekat ke Australia. Ya, Melbourne! Bermula dari tahun 2014. Adik bungsu saya yang saat itu bersekolah di kelas XI SMA kedatangan seorang siswa pertukaran pelajar dari Australia. Ben namanya. Selama 6 minggu, Ben akan menjadi teman sekelas adik saya dalam program belajar Bahasa Indonesia. Sebelumnya, wali kelas adik saya memang mencari house parent yang bersedia menampung Ben selama 6 minggu di Indonesia. Awalnya kami meng-iyakan namun pada akhirnya Ben tinggal di rumah salah satu teman adik, bernama V. Di banding di rumah V, ternyata Ben sepertinya lebih betah tinggal di rumah kami. Sempat juga beberapa kali menginap. Mungkin karena tipikal keluarga saya yang memang hangat, humoris, ditambah Bapak saya yang suka bercanda. Setiap malam biasanya kami “untel-untelan” sekeluarga di kamar orang tua saya dan sepertinya itu dilihat oleh Ben. Tentunya kami ajak dia bergabung. Singkat cerita, program pertukaran pelajar itu berakhir dan Ben kembali ke Australia.

                Hubungan kami menjadi dekat, beberapa bulan kemudian (2015)  Ben dan keluarganya kembali ke Indonesia (Bandung) untuk berlibur. Disitu, menjadi kali pertama kami dua keluarga berkenalan. Kami undang mereka untuk makan malam di rumah. Tentunya dengan menu seadanya, khas orang Indonesia. Komunikasi kami Bahasa Inggris yang pas-pasan tidak membuat kami menjadi mati gaya. Adik saya yang memang cukup bisa berbahasa Inggris menjadi jembatan kami. Keluarga Ben juga sangat baik. Sebelumnya, yang saya tahu kalau bule itu biasanya dingin dan individualis. Tapi ini berbeda. Mereka mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya di Melbourne. Tapi bagi kami tentunya tidak semudah itu Fergusooo..., kami harus menabung.

                Sejak 2015 itu, keluarga Ben sempat beberapa kali datang ke Indonesia dan setiap datang kemari kami selalu berkesempatan bertemu. Hal yang selalu dibicarakan ketika pertemuan adalah lagi-lagi selalu mengundang untuk datang sekeluarga kesana. Baru pada awal tahun 2017, kedua adik saya berkesempatan datang ke Melbourne terlebih dahulu. Selama 3 minggu mereka tinggal di rumah Ben, mereka diperlakukan dengan sangat baik dan seperti layaknya anak sendiri. Baru pada pertengahan 2017, kali pertama saya ke Melbourne karena kantor saya mengadakan survey ke sekolah-sekolah di Melbourne. Mencari sekolah yang dapat menerima beberapa orang siswa kami yang bisa melakukan program pertukaran pelajar disana. Rencana saya ini diketahui oleh ibunya Ben. Ibunya menawarkan kami untuk berkunjung ke sekolah Ben, siapa tahu bisa menerima program student exchange ini. Selain itu kami diajak makan, jalan-jalan dengan diantar oleh ibunya. Sebaik itu! Padahal saat itu saya datang dengan orang kantor.

                Pada tahun 2018, adik pertama saya mengambil program Working Holiday Visa (WHV) untuk bekerja di Australia. Ya, dan lagi-lagi atas kebaikannya, keluarga Ben meminta adik saya untuk tinggal di rumahnya dan meminta menganggap rumahnya seperti rumah sendiri, berbagai kebutuhan adik saya dibantu untuk dipenuhi olehnya. Baru pada akhir 2018, orang tua dan adik bungsu saya merencanakan untuk berkunjung ke Melbourne, memenuhi undangan yang telah bertahun-tahun dilayangkan sekaligus melepas rindu dengan adik pertama saya. Saat itu kami langsung mengurus visa dan pertiketan untuk keluarga kami. Saya dan adik bungsu yang memang sudah pernah ke Australia sepertinya cukup mudah mendapatkan visa dibanding dengan orang tua saya. Sempat kami khawatir takut visa-nya tidak granted, namun alhamdulillah semua Granted!

                Awal 2019, kami akhirnya bisa berangkat bersama-sama satu keluarga kesana. Sambutan dan kebaikannya sungguh sangat membuat kami terharu. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai dokter, ayah Ben menjemput keluarga kami di bandara dengan dua mobil. Satu dikemudikan oleh ibunya dan satu oleh ayahnya. Kami langsung diajak menuju ke rumahnya di daerah Eaglemont. Kami beristirahat sejenak. Kami diberi croissant hangat. Enak sekali. Apalagi kami sebelumnya menempuh penerbangan malam selama hampir 7 jam. Setelah sarapan, karena memang waktunya masih sangat pagi kami diajak berkeliling jalan kaki ke Chelsworth Park. Katanya, “Kalian semalam terlalu banyak duduk di dalam pesawat, supaya segar kalian harus berjalan-jalan kaki.”. Kalau kami orang Indonesia pasti berpikir, “Buset deh baru juga datang udah diajak jalan kaki 7 km.” Mungkin seperti itu, persis seperti yang saya pikirkan, hehehe...  Tapi, saya tidak menyesal akan hal itu, karena didukung suhu sekitar 12 derajat pagi itu sangat nyaman berjalan kaki menikmati suasana sekitar.

                Selama 8 hari kami berada di Australia, sebagian besar kami habiskan di Melbourne. Sempat 2 hari kami berkunjung ke villa-nya di daerah Lorne, sebuah kota kecil di Great Ocean Road, Victoria. Sekitar 2 jam dari Melbourne. Kami hanya pergi berenak, dengan dua mobil. Saya bersama dengan adik pertama mengendarai mobil Mini Cooper, sedangkan bapak, ibu, adik bungsu saya, dan ibunya Ben mengendarai mobil yang lain. Buat saya, mengendarai mobil berdua dengan adik di negara orang, menelusuri jalanan Great Ocean Road adalah hal yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, sepanjang jalan menuju Lorne, kami disuguhi dengan view pinggir laut yang tidak ternilai untuk saya.



 Great Ocean Road

https://www.visitmelbourne.com/regions/great-ocean-road/see-and-do/nature-and-wildlife/beaches-and-coastlines/the-great-ocean-road

                Ada satu pengalaman unik untuk saya saat berkendara menuju Lorne. Saat saya dan adik sedang asyik mengobrol di jalan, tiba-tiba kami dihentikan oleh polisi. Ternyata sedang ada razia Alcohol Breath Testing yang mana pengendara mobil melakukan test alkohol sebelum menghadapi rute berbelok-belok pinggir laut. Adik saya menghentikan mobil Mini Cooper-nya. Belum sempat melakukan tes alkohol, tiba-tiba kami dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Saya bingung. Adik saya berkata, “Dia lihat teteh pake hijab, dia tahu kalau muslim nggak minum alkohol. Jadi kita boleh jalan lagi.”. Syukurlah pikir saya, tapi jadi pengalaman baru juga dan jadi tahu kalau ada tes seperti itu. Perjalanan-pun kami lanjutkan dan kami sempat berhenti di bawah tulisan Great Ocean Road. Sebuah tempat yang saya ketahui di pelajaran IPS saat kelas 4 SD hehehe...

Great Ocean Road

                Tiba di Lorne, membuat saya begitu terkesan juga. Memang hanya sebuah kota kecil, tetapi sangat nyaman. Kangguru bebas berkeliaran di halaman rumah. Burung nuri, kakatua, dan burung-burung indah lainnya bebas terbang di beranda rumah. Di hutan belakang rumah bahkan bisa kita temui koala sedang tidur di pohon. Masyarakatnya begitu menghargai kebebasan hewan-hewan dengan tidak mengganggunya. Singkat cerita, di Lorne benar-benar saya nikmati suasananya. Berharap suatu saat bisa datang kembali ke Lorne.

                Sekembalinya kami dari Lorne, kami explore kota Melbourne. Kebetulan kami menyewa apartemen selama sekitar seminggu di daerah Southbank supaya dekat dengan Central Business Dictrict (CBD) Melbourne. Semua bisa kami tempuh dengan berjalan kaki, naik trem, atau naik kereta. Karena letaknya dekat dengan Flinders Station. Di sekitar situ kami berkunjung ke Eureka Skydeck yang merupakan bangunan tertinggi di Melbourne. Eureka Tower memiliki tinggi total 297,3 meter. Kami naik ke lantai 88 gedung ini. Di lantai 88 gedung ini, ada fasilitas menarik bernama The Edge yang merupakan sebuah ruangan berbentuk balok berukuran 3x3 meter yang terbuat dari kaca tebal dan bisa bergerak menonjol dan keluar dari gedung Eureka Tower. Karena semua kacanya bening, maka pengunjung akan merasakan sensasi seperti terbang dengan ketinggian hampir 300 meter di atas Kota Melbourne. The Edge ini dibuka untuk umum, sebagai titik tertinggi gedung ini dan kita bisa menikmati pemandangan dari atas. Menaiki lift ke lantai 88 rasanya cukup pusing untuk saya, dengan waktu cukup cepat kita bisa langsung ada disana. Tekanan di telinga juga cukup terasa saat menaikinya.

               

The Edge


 Eureka Tower

                Oh ya, sebelumnya juga saya sempat diajak ke Healesville Sanctuary, semacam cagar alam yang memuat banyak Native Australian Animals, di suatu lahan yang luas kita dapat menemukan koala, kanguru, wallaby, yang dapat kita lihat dalam jarak dekat. Selain itu ada juga tasmanian devil, wombat, echidna, platypus, dan berbagai jenis burung seperti kookaburra. Di dalamnya juga terdapat klinik untuk hewan-hewan tersebut sekaligus arena pertunjukan hewan-hewan khas Australia. Tempatnya sangat nyaman untuk berjalan kaki walaupun jaraknya cukup jauh. Pada kunjungan saya yang pertama tahun 2017, saya beruntung bisa mendapatkan moment yang pas berfoto dan menyentuh wallaby. Sayangnya, kunjungan ke dua saya pada 2023, hewan-hewan tersebut seperti sedang tidak mood untuk berfoto.

Healesville Sanctuary

                Sebenarnya masih banyak lagi destinasi yang saya kunjungi selama di Melbourne seperti St. Kilda Beach, Luna Park walaupun hanya ke depannya saja, kemudian ke pier, mampir ke Yarra Valley Chocolatery yang view di depannya seperti bukit Teletubbies. Tapi, dari semua destinasi di Melbourne, yang menjadi favorit saya dan ibu saya tentunya adalah Queen Victoria Market (QVM). Dibanding dengan pusat perbelanjaan modern, saya selalu tertarik mengunjungi pasar tradisionalnya di setiap negara. Selain kita jadi mengetahui suasananya yang seberapa tradisional, kita bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Tiga kali saya mengunjungi Melbourne, QVM selalu ada di dalam itinerary saya. Letaknya berada dekat dengan Central Business District (CBD). Bisa juga kita berjalan kaki atau naik trem, karena QVM ini masuk dalam Free Tram Zone jadi gratis. Letaknya Kalau tidak salah di Elizabeth Street.

                Di bagian depan pasar, sama sekali tidak terlihat kesan kumuh. Sayapun kagum dengan kebersihannya. Area bagian depan menjual semua jenis daging. Ayam, ikan, sapi, kambing, kangguru, dan tentu saja ada menjual pork. Walaupun di area ini terbilang basah, yang mungkin akan sangat mudah mengundang lalat tetapi disini sangat bersih dan tidak berbau. Penataannya juga baik dan produk-produk yang dijualnya higienis. Di bagian belakangnya terdapat area sayur-sayuran dan buah-buahan. Suasananya tidak kalah bersih dengan harga yang tidak semahal di supermarket. Karena saat itu kami tinggal di apartemen, maka kamipun membeli beberapa bahan untuk dimasak. Juga untuk wisatawan ada area penjualan souvenir yang cukup ramah kantong. Berbagai macam model kaos dewasa dan anak dijual mulai harga AUD $5 - $8 belum lagi souvenir-souvenir kecil lainnya juga tersedia, yang pasti saya betah belanja berlama-lama disana.



Queen Victoria Market

                Diluar berbagai macam destinasi wisatanya, bagi saya Melbourne mempunyai tempat tersendiri. Faktor utama adalah karena memiliki hubungan emosional dengan keluarga Ben. Orang lain rasa saudara, komunikasi kami yang alhamdulillah selalu berjalan baik dan mudah-mudahan akan selalu baik. Kedua adalah suasana lingkungan dan masyarakatnya. Melbourne yang merupakan kota multikultural yang artistik akan membuat siapapun nyaman sepertinya. Berdasarkan pengalaman dan penglihatan saya sebagian besar masyarakatnya menghargai keberagaman identitas contohnya ketika berpapasan mereka saling menyapa dengan senyuman, “Hi, good morning.”. Ketiga adalah kota yang ramah dengan pejalan kaki. Saya sebagai kaum yang mageran untuk berjalan kaki, bisa tahan dan kuat berjalan kaki jauh di Melbourne. Ditambah dengan udaranya yang bersih dan cuaca bersahabat juga bangunan-bangunan artistik, rasanya jalan kaki 10 km juga mungkin tidak terasa. Kurang lebih seperti itulah latar belakang saya menyukai kota ini. Tentu, suatu saat saya ingin kembali mengunjungi kota ini untuk sekedar menikmati udara dan suasananya saja. Semoga...

Kamis, 08 Februari 2024

Kebagian Covid Juga... (Part 2)

             Setelah judul  part 1 ini ditulis 2 tahun yang lalu, akhirnya mood saya menulis muncul lagi setelah semalam baca artikel tentang hobi menulis. Ya, niat menulis ini semata-mata bukan hanya untuk berbagi pengalaman namun juga sebagai catatan perjalanan hidup saya saja yang mungkin suatu saat bisa dibaca oleh keluarga atau keturunan-keturunan saya kelak. Karena biasanya hal-hal yang akan saya tulis itu merupakan hal yang sungguh tidak bisa dilupakan.


            Terakhir, saya cerita sampai dengan pemakaman nenek. Malam itu, kami menginap di rumah almarhum nenek di Ciamis. Kondisi saya dan ibu tidak juga membaik. Masih seperti itu ditambah dengan kehilangan nenek yang amat sangat. Ditambah dengan kondisi Bapak saya yang memburuk, demamnya semakin tinggi. Sampai tiba saatnya waktu sahur, kami tidak bisa tidur nyenyak. Maka kami putuskan untuk tidak berpuasa saat itu, masih ingat tanggal 5 Mei 2021. 

      Sekitar pukul 9 pagi, saya sekeluarga langsung pulang menuju ke Bandung niatnya sampai di Bandung akan langsung melakukan swab drive thru di Jl. Purnawarman. Di daerah Limbangan kami mampir ke mini market untuk membeli mi cup. Kami makan di mobil, saat itu adik saya yang mengemudi, saya dan ibu duduk di tengah. Kemudian bapak tiduran di jok belakang. Demamnya makin tinggi. Sambil di perjalanan, bapak makan mie dan bilang, "Gak ada rasa ah, hambar!". Deg! saya langsung deg-degan takut covid. Tapi tidak saya tunjukkan kekhawatiran saya itu. Sampai pada akhirnya kami sampai di tempat swab. Kami semua di swab, dan hasilnya akan di infokan melalui Whatsapp 1 jam kemudian.

        Baru tiba sampai rumah dan istirahat sebentar, tiba-tiba hasil swab menunjukkan kalau Ibu dan Bapak positif covid. Anak-anak alhamdulillah negatif. Siang itu, adik pertama saya langsung kembali ke Jakarta karena harus kerja. Saya dan adik bungsu kemudian angkut-angkut kasur dan set-up komputer untuk bekerja dan mengungsi ke kedai kopi (ya, garasi rumah saya sulap menjadi kedai kopi) alhasil kami menginap berdua disitu. Ibu dan Bapak saya biarkan di lantai atas kamar. 

        Alhamdulillah saat itu kondisi adik bungsu saya sehat wal afiat. Di tengah kondisi saya yang makin memburuk, saya siapkan makan dan vitamin untuk bapak dan ibu. Rasanya, berjalan dari kedai kopi menuju ke dapur yang hanya 15 meter saja membuat badan saya seperti rontok. Keringat dari kepala mengucur deras, seperti sedang keramas. Lutut rasanya copot. Tidak sesak, namun ngos-ngosan tidak terkira. Untuk sekedar menyiapkan makan saja, saya harus istirahat paling tidak 1 jam agar badan enakan. Begitulah seterusnya sampai beberapa hari ke depan. Kami bertiga, anak-anak terus berkomunikasi. Karena adik bungsu saya khawatir melihat kondisi saya yang pucat juga, maka adik pertama meminta saya melakukan PCR home care. Benar saja, saya juga Positif Covid. Disamping kondisi saya yang seperti ini, ibu saya menginfokan kalau bapak sudah mulai sesak. Saturasi oksigennya hanya di kisaran 79 - 82 saja. Setelah dibujuk, akhirnya adik bungsu saya mengantarkan ke RS. Advent. Saudara-saudara saya memantau dan membantu kami dari kejauhan. Selalu ada kiriman makanan dan obat-obatan setiap harinya. Bapak langsung masuk ICU Covid. Setelahnya adik bungsu saya melakukan PCR juga dan sama-sama positif dengan tanpa gejala. Melihat kondisi seperti itu, akhirnya saya, ibu, dan adik bungsu bisa berkumpul kembali karena sama-sama positif. Di Jakarta, adik pertama saya juga ternyata positif dengan gejala tidak bisa mengecap dan mencium bau.

        Komunikasi kami, keluarga dengan bapak di rumah sakit hanya bisa dilakukan lewat whatsapp dan video call. Hancur hati saya melihat bapak harus pakai bantuan oksigen untuk bernafas. Tapi saya harus kuat, begitu juga adik-adik saya agar ibu dan bapak tidak khawatir terhadap kami. Hari demi hari dilalui dengan perasaan cemas. Jantung seperti mau lepas ketika ada telepon dari rumah sakit. Ya terkadang rumah sakit meminta dikirim diapers untuk bapak atau apapun. Di satu sisi, kami juga di rumah harus berjuang untuk sembuh agar bisa mendampingi bapak di rumah sakit. Puncak kekhawatiran kami adalah ketika dokter meminta untuk video call dengan kami pihak keluarga agar dicarikan Donor Plasma Konvalesen yaitu metode pengambilan darah plasma dari penyintas COVID-19 yang dapat diberikan sebagai terapi untuk pasien COVID-19 yang sedang dirawat. Kami komunikasikan permintaan dokter di grup keluarga. Akhirnya ada adik bapak dan anaknya yang memang seorang penyintas covid. Setelah di donor, mungkin sedikit membantu kondisi bapak (saya kurang tahu persis). 

        Pada akhirnya tanggal 21 Mei 2021, kami yang di rumah sudah dinyatakan negatif covid. Kebutuhan bapak untuk di rumah sakit bisa diantarkan langsung dengan terbatas. Sampai sekitar hampir 1 bulan sejak 8 Mei bapak masuk ICU, akhirnya bapak dinyatakan negatif covid. Tetapi karena kondisi paru-paru rusak akibat covid. Bapak membutuhkan bantuan oksigen dan dipindahkan ke Ruang HCU. Ada sedikit kelegaan, karena di HCU pada jam-jam tertentu bisa didampingi keluarga. Karena terbatas, hanya ibu dan adik bungsu yang bisa menemani. Tanggal 4 Juni 2021, adalah kali  pertama saya bertemu dengan bapak sejak masuk ICU pada 8 Mei 2021. Hari itu, bapak diizikan untuk pindah ke ruang perawatan biasa. Senang tak terkira saat itu, ditambah merupakan wedding anniversary bapak dan ibu yang ke 32. Saya bagikan cookies untuk perawat-perawat yang bertugas dan telaten merawat bapak. Jujur, saya tidak tega melihat kondisi bapak saat itu. Lagi-lagi saya harus berusaha kuat di depan bapak. 

Saya hanya sanggup mengatakan, "Pak, teteh kangen. Bapak kangen ngga sama teteh?" dan bapak hanya mengangguk sambil senyum. Karena kondisinya memang lemah. Selanjutnya saya hibur bapak sebisanya. Karena harus buru-buru pulang juga karena kunjungan dibatasi kan.

        Hari-hari berikutnya diisi dengan penuh kecemasan. Saya sudah kembali bekerja. Tiba-tiba bapak drop harus kembali masuk HCU, lalu kembali lagi ke ruangan, dan pada 29 Juni 2021 merupakan hari yang sangat amat buruk dalam hidup saya. Sepulang kerja, sekitar jam 16, paman saya menyambut di gerbang rumah dan berkata, "Teh, teteh tunggu di rumah aja. Gak usah nyusul." Sayapun bingung, "Hah, kenapa mang?" Lalu dijawab, "Bapak drop, sekarang di HCU lagi. Di RS udah ada ade, ibu, sama aa. Teteh di rumah aja." Seketika saya tidak sanggup bernafas, berat. Pikiran-pikiran buruk melintas. Saya bingung, karena sebenarnya kami sedang menyiapkan peralatan untuk bapak pulang ke rumah karena kondisinya membaik. Kami siapkan tabung oksigen di rumah, kami siapkan penyaring udara, kami bersihkan semua kamar yang akan ditempati bapak. Kenapa tiba-tiba harus mendengar berita seperti ini. Menangispun rasanya saya sudah tidak sanggup. Sore itu saya ditemani oleh sepupu perempuan menghadapi situasi yang tidak menentu.

        Selepas isya, ibu pulang ke rumah dengan diantar adik pertama. Sambil menangis. Bapak sudah tidak sadar. Sudah dipasang ventilator, sudah di HCU. Fungsi paru-parunya tinggal 30%. Sehari sebelumnya di cek jantung juga dalam keadaan baik. Seperti petir mendengarnya. Adik saya hanya berpesan, "Teh, teteh jagain ibu di rumah. Suruh makan. Di RS biar ade sama aa, nnti kalau ada apa-apa diinfoin." Saya cuma mengangguk. Malam itu saya biarkan ibu tidur di kamar. Saya tidur di sofa depan TV ditemani sepupu agar dekat dengan ibu. Sungguh saya tidak tidur malam itu. Takut telepon berdering. Sampai akhirnya, adik saya menelepon selepas subuh.

"Teh, nanti A Andri (sepupu) jemput teteh sama ibu ke RS ya. Langsung aja masuk ke HCU. Bapa gagal jantung."

Lagi-lagi saya tidak sanggup mendengarnya. Saya bingung menyampaikan berita ini ke ibu. Saya hanya bilang, "Bu, sebentar lagi kita ke RS dijemput A Andri." 

        Tidak lama, sepupu saya, A Andri menjemput. Saya bergegas ke rumah sakit. Ibu langsung masuk HCU sambil menangis. Saya berjalan ragu. Tidak sanggup melangkah kepada adik-adik dan ibu saya. A Andri menyuruh saya untuk masuk. Saya masuk dan melihat bapak saya sedang mendapat tindakan pacu jantung. Kami melihat dari jarak sekitar 3 meter sambil berpelukan. Tangis kamipun pecah. Ibu duduk di kursi, saya duduk di lantai HCU. Adik-adik saya memeluk dan kami saling menguatkan. Kami menangis bersama sambil membaca doa-doa semampu kami. Sekitar jam 8.30 pagi kami menunggu di ruang tunggu. Menunggu dokter tiba sambil akan melakukan tindakan lanjutan. Tangis kami reda disertai dengan perasaan pasrah. Ya, apapun yang terbaik untuk Bapak. Sempat adik saya bisikan pada bapak jika kami sudah ikhlas. Jika bapak mau pergi, jangan khawatirkan kami. Disertai dengan kalimat talqin di kedua telinga bapak. Di ruang tunggu, A Andri sudah membelikan sarapan untuk kami. Namun saya sama sekali tidak ingin sarapan. Pukul 11 siang saya dan ibu diantarkan pulang untuk mandi dan istirahat sebentar.

        Pukul 13.00 selepas dzuhur adik saya telepon sambil menangis, "Teh, siap-siap ya sama ibu sebentar lagi dijemput sama Mang Aa (adik bungsu bapak) buat ke RS lagi." Telepon dimatikan. Saya sudah tidak ingin bertanya ada apa. Kami berangkat. Sekitar 5 menit sebelum tiba di RS, HP saya dan HP Mang Aa berdering. Tidak ada yang mengangkat diantara kami. Saya sudah sangat pasrah. Begitupun ibu. Hanya terdengar sisa-sisa tangisan. Sampai di RS, kedua adik saya sudah di samping bapak sambil menangis. Melihat bapak sudah menghembuskan nafas beberapa menit sebelum kami datang. Kami memeluk bapak sambil menangis. Alhamdulillah, kedua adik saya menemani detik-detik bapak berpulang. Terlihat air mata terakhir bapak masih belum kering. Kalimat perpisahkan kami ucapkan. Berat, tapi kami ikhlas sejak pagi tadi. Ikhlas ini adalah jalan terbaik Bapak. 

        Saya diminta untuk pulang ke rumah duluan ditemani oleh Mang Aa (adik Bapak), diminta untuk persiapan di rumah. Sementara itu adik-adik, ibu, dan sepupu saya mengurus kepulangan jenazah Bapak ke rumah. Sampai rumah, sudah banyak saudara yang datang. Saya sudah tidak bisa melakukan apapun. Saya hanya bisa diam tidak tahu harus bagaimana. Hancur pastinya. Sore itu kami tunaikan semua kewajiban kami untuk mengantarkan bapak ke peristirahatan terakhirnya. 

        Begitulah sepenggal cerita masa-masa terburuk ditinggal Bapak. Segala sesuatunya tentu berubah. Tapi InsyaAllah yang akan selalu diingat adalah perkataan Bapak untuk kami semua, 

"Kalian bisa jauh sama Bapak, tapi kita akan selalu dekat karena Allah. Kita bertemu dalam doa ya." DK, 1960