Setelah judul part 1 ini ditulis 2 tahun yang lalu, akhirnya mood saya menulis muncul lagi setelah semalam baca artikel tentang hobi menulis. Ya, niat menulis ini semata-mata bukan hanya untuk berbagi pengalaman namun juga sebagai catatan perjalanan hidup saya saja yang mungkin suatu saat bisa dibaca oleh keluarga atau keturunan-keturunan saya kelak. Karena biasanya hal-hal yang akan saya tulis itu merupakan hal yang sungguh tidak bisa dilupakan.
Terakhir, saya cerita sampai dengan pemakaman nenek. Malam itu, kami menginap di rumah almarhum nenek di Ciamis. Kondisi saya dan ibu tidak juga membaik. Masih seperti itu ditambah dengan kehilangan nenek yang amat sangat. Ditambah dengan kondisi Bapak saya yang memburuk, demamnya semakin tinggi. Sampai tiba saatnya waktu sahur, kami tidak bisa tidur nyenyak. Maka kami putuskan untuk tidak berpuasa saat itu, masih ingat tanggal 5 Mei 2021.
Sekitar pukul 9 pagi, saya sekeluarga langsung pulang menuju ke Bandung niatnya sampai di Bandung akan langsung melakukan swab drive thru di Jl. Purnawarman. Di daerah Limbangan kami mampir ke mini market untuk membeli mi cup. Kami makan di mobil, saat itu adik saya yang mengemudi, saya dan ibu duduk di tengah. Kemudian bapak tiduran di jok belakang. Demamnya makin tinggi. Sambil di perjalanan, bapak makan mie dan bilang, "Gak ada rasa ah, hambar!". Deg! saya langsung deg-degan takut covid. Tapi tidak saya tunjukkan kekhawatiran saya itu. Sampai pada akhirnya kami sampai di tempat swab. Kami semua di swab, dan hasilnya akan di infokan melalui Whatsapp 1 jam kemudian.
Baru tiba sampai rumah dan istirahat sebentar, tiba-tiba hasil swab menunjukkan kalau Ibu dan Bapak positif covid. Anak-anak alhamdulillah negatif. Siang itu, adik pertama saya langsung kembali ke Jakarta karena harus kerja. Saya dan adik bungsu kemudian angkut-angkut kasur dan set-up komputer untuk bekerja dan mengungsi ke kedai kopi (ya, garasi rumah saya sulap menjadi kedai kopi) alhasil kami menginap berdua disitu. Ibu dan Bapak saya biarkan di lantai atas kamar.
Alhamdulillah saat itu kondisi adik bungsu saya sehat wal afiat. Di tengah kondisi saya yang makin memburuk, saya siapkan makan dan vitamin untuk bapak dan ibu. Rasanya, berjalan dari kedai kopi menuju ke dapur yang hanya 15 meter saja membuat badan saya seperti rontok. Keringat dari kepala mengucur deras, seperti sedang keramas. Lutut rasanya copot. Tidak sesak, namun ngos-ngosan tidak terkira. Untuk sekedar menyiapkan makan saja, saya harus istirahat paling tidak 1 jam agar badan enakan. Begitulah seterusnya sampai beberapa hari ke depan. Kami bertiga, anak-anak terus berkomunikasi. Karena adik bungsu saya khawatir melihat kondisi saya yang pucat juga, maka adik pertama meminta saya melakukan PCR home care. Benar saja, saya juga Positif Covid. Disamping kondisi saya yang seperti ini, ibu saya menginfokan kalau bapak sudah mulai sesak. Saturasi oksigennya hanya di kisaran 79 - 82 saja. Setelah dibujuk, akhirnya adik bungsu saya mengantarkan ke RS. Advent. Saudara-saudara saya memantau dan membantu kami dari kejauhan. Selalu ada kiriman makanan dan obat-obatan setiap harinya. Bapak langsung masuk ICU Covid. Setelahnya adik bungsu saya melakukan PCR juga dan sama-sama positif dengan tanpa gejala. Melihat kondisi seperti itu, akhirnya saya, ibu, dan adik bungsu bisa berkumpul kembali karena sama-sama positif. Di Jakarta, adik pertama saya juga ternyata positif dengan gejala tidak bisa mengecap dan mencium bau.
Komunikasi kami, keluarga dengan bapak di rumah sakit hanya bisa dilakukan lewat whatsapp dan video call. Hancur hati saya melihat bapak harus pakai bantuan oksigen untuk bernafas. Tapi saya harus kuat, begitu juga adik-adik saya agar ibu dan bapak tidak khawatir terhadap kami. Hari demi hari dilalui dengan perasaan cemas. Jantung seperti mau lepas ketika ada telepon dari rumah sakit. Ya terkadang rumah sakit meminta dikirim diapers untuk bapak atau apapun. Di satu sisi, kami juga di rumah harus berjuang untuk sembuh agar bisa mendampingi bapak di rumah sakit. Puncak kekhawatiran kami adalah ketika dokter meminta untuk video call dengan kami pihak keluarga agar dicarikan Donor Plasma Konvalesen yaitu metode pengambilan darah plasma dari penyintas COVID-19 yang dapat diberikan sebagai terapi untuk pasien COVID-19 yang sedang dirawat. Kami komunikasikan permintaan dokter di grup keluarga. Akhirnya ada adik bapak dan anaknya yang memang seorang penyintas covid. Setelah di donor, mungkin sedikit membantu kondisi bapak (saya kurang tahu persis).
Pada akhirnya tanggal 21 Mei 2021, kami yang di rumah sudah dinyatakan negatif covid. Kebutuhan bapak untuk di rumah sakit bisa diantarkan langsung dengan terbatas. Sampai sekitar hampir 1 bulan sejak 8 Mei bapak masuk ICU, akhirnya bapak dinyatakan negatif covid. Tetapi karena kondisi paru-paru rusak akibat covid. Bapak membutuhkan bantuan oksigen dan dipindahkan ke Ruang HCU. Ada sedikit kelegaan, karena di HCU pada jam-jam tertentu bisa didampingi keluarga. Karena terbatas, hanya ibu dan adik bungsu yang bisa menemani. Tanggal 4 Juni 2021, adalah kali pertama saya bertemu dengan bapak sejak masuk ICU pada 8 Mei 2021. Hari itu, bapak diizikan untuk pindah ke ruang perawatan biasa. Senang tak terkira saat itu, ditambah merupakan wedding anniversary bapak dan ibu yang ke 32. Saya bagikan cookies untuk perawat-perawat yang bertugas dan telaten merawat bapak. Jujur, saya tidak tega melihat kondisi bapak saat itu. Lagi-lagi saya harus berusaha kuat di depan bapak.
Saya hanya sanggup mengatakan, "Pak, teteh kangen. Bapak kangen ngga sama teteh?" dan bapak hanya mengangguk sambil senyum. Karena kondisinya memang lemah. Selanjutnya saya hibur bapak sebisanya. Karena harus buru-buru pulang juga karena kunjungan dibatasi kan.
Hari-hari berikutnya diisi dengan penuh kecemasan. Saya sudah kembali bekerja. Tiba-tiba bapak drop harus kembali masuk HCU, lalu kembali lagi ke ruangan, dan pada 29 Juni 2021 merupakan hari yang sangat amat buruk dalam hidup saya. Sepulang kerja, sekitar jam 16, paman saya menyambut di gerbang rumah dan berkata, "Teh, teteh tunggu di rumah aja. Gak usah nyusul." Sayapun bingung, "Hah, kenapa mang?" Lalu dijawab, "Bapak drop, sekarang di HCU lagi. Di RS udah ada ade, ibu, sama aa. Teteh di rumah aja." Seketika saya tidak sanggup bernafas, berat. Pikiran-pikiran buruk melintas. Saya bingung, karena sebenarnya kami sedang menyiapkan peralatan untuk bapak pulang ke rumah karena kondisinya membaik. Kami siapkan tabung oksigen di rumah, kami siapkan penyaring udara, kami bersihkan semua kamar yang akan ditempati bapak. Kenapa tiba-tiba harus mendengar berita seperti ini. Menangispun rasanya saya sudah tidak sanggup. Sore itu saya ditemani oleh sepupu perempuan menghadapi situasi yang tidak menentu.
Selepas isya, ibu pulang ke rumah dengan diantar adik pertama. Sambil menangis. Bapak sudah tidak sadar. Sudah dipasang ventilator, sudah di HCU. Fungsi paru-parunya tinggal 30%. Sehari sebelumnya di cek jantung juga dalam keadaan baik. Seperti petir mendengarnya. Adik saya hanya berpesan, "Teh, teteh jagain ibu di rumah. Suruh makan. Di RS biar ade sama aa, nnti kalau ada apa-apa diinfoin." Saya cuma mengangguk. Malam itu saya biarkan ibu tidur di kamar. Saya tidur di sofa depan TV ditemani sepupu agar dekat dengan ibu. Sungguh saya tidak tidur malam itu. Takut telepon berdering. Sampai akhirnya, adik saya menelepon selepas subuh.
"Teh, nanti A Andri (sepupu) jemput teteh sama ibu ke RS ya. Langsung aja masuk ke HCU. Bapa gagal jantung."
Lagi-lagi saya tidak sanggup mendengarnya. Saya bingung menyampaikan berita ini ke ibu. Saya hanya bilang, "Bu, sebentar lagi kita ke RS dijemput A Andri."
Tidak lama, sepupu saya, A Andri menjemput. Saya bergegas ke rumah sakit. Ibu langsung masuk HCU sambil menangis. Saya berjalan ragu. Tidak sanggup melangkah kepada adik-adik dan ibu saya. A Andri menyuruh saya untuk masuk. Saya masuk dan melihat bapak saya sedang mendapat tindakan pacu jantung. Kami melihat dari jarak sekitar 3 meter sambil berpelukan. Tangis kamipun pecah. Ibu duduk di kursi, saya duduk di lantai HCU. Adik-adik saya memeluk dan kami saling menguatkan. Kami menangis bersama sambil membaca doa-doa semampu kami. Sekitar jam 8.30 pagi kami menunggu di ruang tunggu. Menunggu dokter tiba sambil akan melakukan tindakan lanjutan. Tangis kami reda disertai dengan perasaan pasrah. Ya, apapun yang terbaik untuk Bapak. Sempat adik saya bisikan pada bapak jika kami sudah ikhlas. Jika bapak mau pergi, jangan khawatirkan kami. Disertai dengan kalimat talqin di kedua telinga bapak. Di ruang tunggu, A Andri sudah membelikan sarapan untuk kami. Namun saya sama sekali tidak ingin sarapan. Pukul 11 siang saya dan ibu diantarkan pulang untuk mandi dan istirahat sebentar.
Pukul 13.00 selepas dzuhur adik saya telepon sambil menangis, "Teh, siap-siap ya sama ibu sebentar lagi dijemput sama Mang Aa (adik bungsu bapak) buat ke RS lagi." Telepon dimatikan. Saya sudah tidak ingin bertanya ada apa. Kami berangkat. Sekitar 5 menit sebelum tiba di RS, HP saya dan HP Mang Aa berdering. Tidak ada yang mengangkat diantara kami. Saya sudah sangat pasrah. Begitupun ibu. Hanya terdengar sisa-sisa tangisan. Sampai di RS, kedua adik saya sudah di samping bapak sambil menangis. Melihat bapak sudah menghembuskan nafas beberapa menit sebelum kami datang. Kami memeluk bapak sambil menangis. Alhamdulillah, kedua adik saya menemani detik-detik bapak berpulang. Terlihat air mata terakhir bapak masih belum kering. Kalimat perpisahkan kami ucapkan. Berat, tapi kami ikhlas sejak pagi tadi. Ikhlas ini adalah jalan terbaik Bapak.
Saya diminta untuk pulang ke rumah duluan ditemani oleh Mang Aa (adik Bapak), diminta untuk persiapan di rumah. Sementara itu adik-adik, ibu, dan sepupu saya mengurus kepulangan jenazah Bapak ke rumah. Sampai rumah, sudah banyak saudara yang datang. Saya sudah tidak bisa melakukan apapun. Saya hanya bisa diam tidak tahu harus bagaimana. Hancur pastinya. Sore itu kami tunaikan semua kewajiban kami untuk mengantarkan bapak ke peristirahatan terakhirnya.
Begitulah sepenggal cerita masa-masa terburuk ditinggal Bapak. Segala sesuatunya tentu berubah. Tapi InsyaAllah yang akan selalu diingat adalah perkataan Bapak untuk kami semua,
"Kalian bisa jauh sama Bapak, tapi kita akan selalu dekat karena Allah. Kita bertemu dalam doa ya." DK, 1960




0 komentar:
Posting Komentar