Madinah
– Mekkah
Perjalanan dari Madinah
ke Mekkah menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam, itupun karena jalanan agak
macet terutama jalanan di sekitar Madinah. Kami juga berhenti di Masjid
Dzulhulaifah atau sering disebut Bir Ali untuk mengambil miqot umroh. Seperti
diketahui bahwa rukun umroh itu ada empat, dimulai dari miqot atau mengambil
niat berihram, tawaf, sa’i, tahalul (mencukur rambut). Selama kita sudah niat
berhihram dan niat umroh, kita tidak diperkenankan melanggar aturannya,
misalnya kita dilarang membuka aurat, bagi laki-laki dilarang menggunakan
pakairan berjahit dan hanya menggunakan kain ihram saja, dilarang membunuh
hewan, memakai wewangian, berpikiran mesum, berkata kotor, bertengkar,
melakukan hubungan suami-istri, tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan,
dan lain-lain. Jika kita melanggar, kita diwajibkan membayar dam (denda)
tergantung dari kesalahannya, ada yang membayar sejumlah uang, hingga ada yang
harus menyembelih kambing atau unta. Selanjutnya, berhenti untuk solat maghrib
dan isya di mesjid rest area menuju ke Mekkah sekitar jam setengah delapan malam. Setelah itu kami
langsung melanjutkan perjalanan. Di perjalanan menuju Mekkah selanjutnya saya
hanya tertidur di dalam bus, selain agak cape juga untuk menghemat energi
ketika melaksanakan umroh.
Lagi-lagi saya
terbangunkan oleh suara mikrophone dari Pak Ustadz yang mengatakan kita sudah
hampir sampai ke hotel, disitu terlihat menara jam Abraj al Bait yang terkenal
itu, mendadak mata saya tidak mengantuk lagi. Beberapa menit kemudian saya
sampai juga ke hotel. Selama di Mekkah ini saya menginap di Hotel Fajr Al
Badie, letaknya sekitar 500 – 550 meter (mungkin) dari Masjidil Haram yang
pasti cukup ngos-ngosan buat saya untuk jalan kesana, tetapi alhamdulilah saya
gak sampe sakit kaki ataupun pegal-pegal, memang Allah memberi kemudahan untuk
saya (yang saya rasakan) dalam ibadah sampai sejauh ini.
Fabiayyi
alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat
Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)
(Foto Abraj Al Bait – Clock Tower)
(Hotel Fajr Al Badie Makkah – Foto dari
google)
Kami
semua sampai di hotel sekitar pukul 22.30, setelah itu kami langsung masuk ke
kamar masing-masing untuk menyimpan barang dan berwudhu dulu sebelum
melaksanakan rukun umroh berikutnya. Jam 23.00 kami berkumpul di lobby hotel
untuk sama-sama berangkat ke Masjidil Haram. Setelah semuanya dikira sudah
berkumpul, kami semua berjalan bersama membuat barisan menuju ke masjid, hal
ini dilakukan supaya jamaah umroh Panghegar tidak tercerai berai, agar
barisannya tidak terputus juga. Setelah berjalan bersama-sama akhirnya saya
sampai di gerbang Masjidil Haram, tepatnya masuk melalui King Fahd Gate no. 88.
Pintu tersebut selanjutnya menjadi patokan kami kalau-kalau tersasar. Hal yang
ada di benak saya saat itu adalah percaya tidak percaya bisa sampai juga di
Masjidil Haram. Selanjutnya kami masuk
ke area dalam masjid. Masjid yang megah, kokoh, bersejarah, ahh pokoknya
wah.
Beberapa saat
kemudian,ketika saya sedang menatap ke depan, ka’bah makin terlihat jelas di
hadapan saya. Subhanallah. Itu yang pertama kali terucap. Kokoh dan Megah. Ya,
rumah Allah sekarang ada di hadapan saya. Mata saya terpana melihat ka’bah. Perasaan
syukur, haru, dan bahagia bisa berkunjung ke baitullah memenuhi hati ini. Allah
yang maha agung terima kasih telah mengundang saya untuk berkunjung ke tanahMu.
Tempat yang begitu dibanggakan dan diagungkan oleh seluruh muslim di penjuru
dunia ini. Sungguh beruntung dan nikmat yang tak terkira bisa kesana.
Fabiayyi
alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat
Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)
Sambil berjalan mendekat
ka’bah untuk melakukan thawaf, mata saya tertuju pada ka’bah. Benar-benar
mempesona. Merinding, percaya tidak percaya sekarang ka’bah ada di hadapan
mata. Menurut instruksi dari Pak Ustadz, kami diharuskan fokus dahulu untuk
melakukan tawaf, jangan dulu memegang ka’bah agar kita bisa fokus melaksanakan
rukun umroh. Kami pun bersama-sama melakukan thawaf sebanyak 7 keliling dimulai
dari Hajar aswad dan berakhir di situ pula, batasnya adalah lampu hijau.
(Thawaf – gambar dari google)
Setelah selesai melaksanakan thawaf, kami langsung menuju ke area sa’i.
Sa’i adalah berjalan dari bukit safa ke
bukit marwah dan sebaliknya sebanyak
tujuh kali dan berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit Safa ke bukit
Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke bukit Safa dihitung
satu kali. Jarak dari bukit safa ke bukit marwah kurang lebih 450 meter. Kalau
di total, sekali melakukan sa’i berarti kita berjalan 7 kali x 450 meter.
Hasilnya 3150 meter. Oia, bagi laki-laki disunahkan untuk berlari-lari kecil di batas yang ada lampu hijaunya. Lumayan juga kan, tapi Allah memudahkan saya dalam
melaksanakannya. Alhamdulillah. Tidak sampai sakit dan pegal-pegal.
Fabiayyi
alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat
Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)
(Sa’i – foto dari google. Saya tidak
sempat memfoto disitu)
Selesai melakukan sa’i kami berkumpul di bukit marwah untuk melaksanakan
tahalul. Tahalul yaitu merupakan rukun umroh sehingga harus dilaksanakan.
Tahalul adalah memotong rambut minimal 3 helai sebagai tanda bahwa telah
diakhirinya umroh. Bagi laki-laki, disunahkan untuk memotong rambut hingga
gundul. Ketika proses tahalul selesai, maka artinya kita sudah bebas dari
larangan-larangan yang berlaku ketika menggunakan ihram. Kita juga melakukan
shalat sunah di dekat area thawaf ketika selesai melaksanakan umroh. Waktu
menunjukkan pukul 02.45 WAS. Kita beristirahat di Masjidil Haram sambil
menunggu waktu subuh. Sebelum waktu subuh, kita sama-sama melakukan shalat
tahajjud dulu. Ketika tiba saatnya waktu subuh, saya merasa tubuh ini
merinding. Ini adalah kali pertama saya melakukan shalat fardhu di Masjidil
Haram berjamaah dengan seluruh jamaah dari seluruh dunia. Inipun kali pertama
saya shalat di dekat ka’bah, berarti saf depan di seluruh dunia. Allahu Akbar.
Pagi itu saya merasakan kenikmatan shalat yang amat sangat, karena jujur saja
saya sebelumnya kadang suka bolong-bolong dalam melaksanakan shalat, tapi
disini saya merasakan kenikmatan shalat sehingga muncul tekad dalam diri saya
untuk lebih rajin dan belajar lebih khusyuk lagi dalam shalat. Usai
melaksanakan shalat subuh kami semua kembali ke hotel.
20 Desember 2014
Hari ini menurut agenda
acaranya bebas, tetapi lebih banyak berdiam dan ibadah sunah di masjid.
Rencananya, kami akan kembali ke masjid ketika waktu shalat dhuha tetapi
rencana tinggal rencana. Seperti diketahui, selepas shalat subuh tadi kami
semua kembali ke hotel untuk beristirahat karena malamnya baru melaksanakan
umroh. Sewaktu akan ke masjid, saya lihat teman-teman sekamar semuanya masih
tidur. Fokus saya tentunya kepada nenek saya. Setelah melaksanakan umroh
semalam, nenek saya memang agak “rewel” karena kecapean. Kondisi badannya agak
nge-drop juga, cukup khawatir saya saat itu. Kadang tidak sabaran juga
ketika melakukan sesuatu. Faktor usia mungkin yang melatarbelakanginya. Mungkin
ini sebagai ujian kesabaran juga untuk saya dalam menjaga nenek saya. Tapi saya
ikhlas dan alhamdulillah semuanya masih terbilang lancar. Pada waktu-waktu
shalat, saya ke masjid bersama dengan ibu-ibu teman sekamar. Khusus hari ini,
nenek saya ditinggal di kamar sendirian. Agak nggak tega juga meninggalkannya
sendiri, tapi keinginan saya untuk ke masjid juga besar, mumpung di sini,
karena kita tidak tahu kapan akan ke Mekkah lagi. Untungnya, nenek saya
bersedia ditinggal sendirian di kamar. Biarlah ema (begitu saya memanggilnya)
istirahat di kamar untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.
Begitu selesai shalat
dzuhur, saya kembali ke hotel karena khawatir kalau meninggalkan ema terlalu
lama. Sampai kamar, saya lihat ema
sedang makan di kamar, kondisinya membaik tetapi katanya pegal pada kakinya dan
digosokanlah minyak tawon andalannya. Pukul 14.00 saya kembali ke masjid,
lagi-lagi nenek saya ditinggal di kamar. Saya pergi berdua bersama dengan ibu
Sri, teman sekamar saya. Karena waktu shalat ashar masih lumayan lama, kami
melakukan thawaf sunnah. Saya lihat kondisi siang itu cukup padat untuk melakukan
thawaf.
(Foto sesaat sebelum thawaf sunnah)
Melihat kondisi tempat thawaf yang begitu penuh, rasanya sulit sekali
untuk memegang ka’bah. Padahal, saya sangat ingin sekali memegang dan mencium
ka’bah. Kemudian saya langsung melakukan thawaf sambil berjalan mendekat menuju
ka’bah. Alhamdulillah, tanpa hambatan saya langsung menemukan space kosong
untuk dapat memegang ka’bah, padahal saat itu suasananya sedang penuh sekali.
Allah memudahkan saya untuk memegang dan mencium ka’bah. Saya langsung cium ka’bah.
Wangi sekali, sampai sekarangpun saya sangat mengingat wangi ka’bah itu. Sambil
mencium dan memegang ka’bah saya panjatkan segala doa dan utamanya saya
bersyukur atas segala yang telah Allah berikan untuk saya sampai saat ini. Ada
sekitar 5 menit saya mencium ka’bah, selanjutnya mulai terasa penuh oleh
orang-orang. Mungkin, saya tidak boleh egois berlama-lama berdiri di situ
karena banyak sekali orang-orang yang berebut disitu. Lagi-lagi saya ingat
surat Ar-Rahman. Nikmat mana lagi yang saya dustakan.
Fabiayyi
alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat
Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)
Setelah menyelesaikan thawaf sunnah itu, saya menunggu waktu shalat ashar
di masjid dan kembali lagi ke hotel. Sebelum masuk kamar, saya sempatkan dulu
untuk sedikit membeli souvenir di toko sekitar hotel dan kebab karena lapar.
Sebenarnya, di hotel sudah disediakan makan sih tetapi entah mengapa saya
kurang selera sama rasanya. Jadilah saya jajan kebab seharga 4 real yang
kemudian saya beli lagi dan lagi karena enyaak. Beda sama kebab di Indonesia
yang full sayur dan dagingnya hanya beberapa lembar. Kalau kebab disana full
daging, sayurnya tidak terlalu banyak.
Rencananya, saya akan
kembali ke masjid sebelum shalat magrib, ternyata nenek saya ingin ikut ke
masjid. Jadilah saya ke masjid bersama dengan nenek saya. Kami di masjid sampai
waktunya selesai shalat isya. Pulang dari masjid, ternyata nenek saya sudah
berniat untuk belanja membeli tambahan oleh-oleh untuk anak dan cucunya serta
untuk saudara lainnya. Cukup banyak juga yang dibelanjakan dan yang pasti
membuat koper makin penuh. Hari itu selesai juga, setelah kembali ke hotel kami
lebih banyak beristirahat dan menyiapkan untuk agenda esok hari. Lanjut lagi di
Umroh Part 4 ya. Ngantuk, hehehe...










izin share nih ka
BalasHapusBuat Calon Jama'ah haji tahun ini..
Mudah - mudahan membantu Hotel Dekat Masjidil Haram,
salam, macam mana kondisi hotel al fajr al badae 3? perjalanan dari hotel ke masjidil haram berapa minit?terimakasih
BalasHapus