Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 06 Januari 2015

UMROH #Part3



Madinah – Mekkah

            Perjalanan dari Madinah ke Mekkah menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam, itupun karena jalanan agak macet terutama jalanan di sekitar Madinah. Kami juga berhenti di Masjid Dzulhulaifah atau sering disebut Bir Ali untuk mengambil miqot umroh. Seperti diketahui bahwa rukun umroh itu ada empat, dimulai dari miqot atau mengambil niat berihram, tawaf, sa’i, tahalul (mencukur rambut). Selama kita sudah niat berhihram dan niat umroh, kita tidak diperkenankan melanggar aturannya, misalnya kita dilarang membuka aurat, bagi laki-laki dilarang menggunakan pakairan berjahit dan hanya menggunakan kain ihram saja, dilarang membunuh hewan, memakai wewangian, berpikiran mesum, berkata kotor, bertengkar, melakukan hubungan suami-istri, tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan, dan lain-lain. Jika kita melanggar, kita diwajibkan membayar dam (denda) tergantung dari kesalahannya, ada yang membayar sejumlah uang, hingga ada yang harus menyembelih kambing atau unta. Selanjutnya, berhenti untuk solat maghrib dan isya di mesjid rest area menuju ke Mekkah sekitar jam  setengah delapan malam. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan. Di perjalanan menuju Mekkah selanjutnya saya hanya tertidur di dalam bus, selain agak cape juga untuk menghemat energi ketika melaksanakan umroh.
            Lagi-lagi saya terbangunkan oleh suara mikrophone dari Pak Ustadz yang mengatakan kita sudah hampir sampai ke hotel, disitu terlihat menara jam Abraj al Bait yang terkenal itu, mendadak mata saya tidak mengantuk lagi. Beberapa menit kemudian saya sampai juga ke hotel. Selama di Mekkah ini saya menginap di Hotel Fajr Al Badie, letaknya sekitar 500 – 550 meter (mungkin) dari Masjidil Haram yang pasti cukup ngos-ngosan buat saya untuk jalan kesana, tetapi alhamdulilah saya gak sampe sakit kaki ataupun pegal-pegal, memang Allah memberi kemudahan untuk saya (yang saya rasakan) dalam ibadah sampai sejauh ini. 

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

           

(Foto Abraj Al Bait – Clock Tower)



(Hotel Fajr Al Badie Makkah – Foto dari google)

            Kami semua sampai di hotel sekitar pukul 22.30, setelah itu kami langsung masuk ke kamar masing-masing untuk menyimpan barang dan berwudhu dulu sebelum melaksanakan rukun umroh berikutnya. Jam 23.00 kami berkumpul di lobby hotel untuk sama-sama berangkat ke Masjidil Haram. Setelah semuanya dikira sudah berkumpul, kami semua berjalan bersama membuat barisan menuju ke masjid, hal ini dilakukan supaya jamaah umroh Panghegar tidak tercerai berai, agar barisannya tidak terputus juga. Setelah berjalan bersama-sama akhirnya saya sampai di gerbang Masjidil Haram, tepatnya masuk melalui King Fahd Gate no. 88. Pintu tersebut selanjutnya menjadi patokan kami kalau-kalau tersasar. Hal yang ada di benak saya saat itu adalah percaya tidak percaya bisa sampai juga di Masjidil Haram.  Selanjutnya kami masuk ke area dalam masjid. Masjid yang megah, kokoh, bersejarah, ahh pokoknya wah.
            Beberapa saat kemudian,ketika saya sedang menatap ke depan, ka’bah makin terlihat jelas di hadapan saya. Subhanallah. Itu yang pertama kali terucap. Kokoh dan Megah. Ya, rumah Allah sekarang ada di hadapan saya. Mata saya terpana melihat ka’bah. Perasaan syukur, haru, dan bahagia bisa berkunjung ke baitullah memenuhi hati ini. Allah yang maha agung terima kasih telah mengundang saya untuk berkunjung ke tanahMu. Tempat yang begitu dibanggakan dan diagungkan oleh seluruh muslim di penjuru dunia ini. Sungguh beruntung dan nikmat yang tak terkira bisa kesana.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

            Sambil berjalan mendekat ka’bah untuk melakukan thawaf, mata saya tertuju pada ka’bah. Benar-benar mempesona. Merinding, percaya tidak percaya sekarang ka’bah ada di hadapan mata. Menurut instruksi dari Pak Ustadz, kami diharuskan fokus dahulu untuk melakukan tawaf, jangan dulu memegang ka’bah agar kita bisa fokus melaksanakan rukun umroh. Kami pun bersama-sama melakukan thawaf sebanyak 7 keliling dimulai dari Hajar aswad dan berakhir di situ pula, batasnya adalah lampu hijau.



(Thawaf – gambar dari google)

Setelah selesai melaksanakan thawaf, kami langsung menuju ke area sa’i. Sa’i adalah berjalan dari bukit  safa ke bukit marwah dan sebaliknya  sebanyak tujuh kali dan berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke bukit Safa dihitung satu kali. Jarak dari bukit safa ke bukit marwah kurang lebih 450 meter. Kalau di total, sekali melakukan sa’i berarti kita berjalan 7 kali x 450 meter. Hasilnya 3150 meter. Oia, bagi laki-laki disunahkan untuk berlari-lari kecil di batas yang ada lampu hijaunya. Lumayan juga kan, tapi Allah memudahkan saya dalam melaksanakannya. Alhamdulillah. Tidak sampai sakit dan pegal-pegal.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)



(Sa’i – foto dari google. Saya tidak sempat memfoto disitu)

Selesai melakukan sa’i kami berkumpul di bukit marwah untuk melaksanakan tahalul. Tahalul yaitu merupakan rukun umroh sehingga harus dilaksanakan. Tahalul adalah memotong rambut minimal 3 helai sebagai tanda bahwa telah diakhirinya umroh. Bagi laki-laki, disunahkan untuk memotong rambut hingga gundul. Ketika proses tahalul selesai, maka artinya kita sudah bebas dari larangan-larangan yang berlaku ketika menggunakan ihram. Kita juga melakukan shalat sunah di dekat area thawaf ketika selesai melaksanakan umroh. Waktu menunjukkan pukul 02.45 WAS. Kita beristirahat di Masjidil Haram sambil menunggu waktu subuh. Sebelum waktu subuh, kita sama-sama melakukan shalat tahajjud dulu. Ketika tiba saatnya waktu subuh, saya merasa tubuh ini merinding. Ini adalah kali pertama saya melakukan shalat fardhu di Masjidil Haram berjamaah dengan seluruh jamaah dari seluruh dunia. Inipun kali pertama saya shalat di dekat ka’bah, berarti saf depan di seluruh dunia. Allahu Akbar. Pagi itu saya merasakan kenikmatan shalat yang amat sangat, karena jujur saja saya sebelumnya kadang suka bolong-bolong dalam melaksanakan shalat, tapi disini saya merasakan kenikmatan shalat sehingga muncul tekad dalam diri saya untuk lebih rajin dan belajar lebih khusyuk lagi dalam shalat. Usai melaksanakan shalat subuh kami semua kembali ke hotel.

20 Desember 2014
            Hari ini menurut agenda acaranya bebas, tetapi lebih banyak berdiam dan ibadah sunah di masjid. Rencananya, kami akan kembali ke masjid ketika waktu shalat dhuha tetapi rencana tinggal rencana. Seperti diketahui, selepas shalat subuh tadi kami semua kembali ke hotel untuk beristirahat karena malamnya baru melaksanakan umroh. Sewaktu akan ke masjid, saya lihat teman-teman sekamar semuanya masih tidur. Fokus saya tentunya kepada nenek saya. Setelah melaksanakan umroh semalam, nenek saya memang agak “rewel” karena kecapean. Kondisi badannya agak nge-drop juga, cukup khawatir saya saat itu. Kadang tidak sabaran juga ketika melakukan sesuatu. Faktor usia mungkin yang melatarbelakanginya. Mungkin ini sebagai ujian kesabaran juga untuk saya dalam menjaga nenek saya. Tapi saya ikhlas dan alhamdulillah semuanya masih terbilang lancar. Pada waktu-waktu shalat, saya ke masjid bersama dengan ibu-ibu teman sekamar. Khusus hari ini, nenek saya ditinggal di kamar sendirian. Agak nggak tega juga meninggalkannya sendiri, tapi keinginan saya untuk ke masjid juga besar, mumpung di sini, karena kita tidak tahu kapan akan ke Mekkah lagi. Untungnya, nenek saya bersedia ditinggal sendirian di kamar. Biarlah ema (begitu saya memanggilnya) istirahat di kamar untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.
            Begitu selesai shalat dzuhur, saya kembali ke hotel karena khawatir kalau meninggalkan ema terlalu lama.  Sampai kamar, saya lihat ema sedang makan di kamar, kondisinya membaik tetapi katanya pegal pada kakinya dan digosokanlah minyak tawon andalannya. Pukul 14.00 saya kembali ke masjid, lagi-lagi nenek saya ditinggal di kamar. Saya pergi berdua bersama dengan ibu Sri, teman sekamar saya. Karena waktu shalat ashar masih lumayan lama, kami melakukan thawaf sunnah. Saya lihat kondisi siang itu cukup padat untuk melakukan thawaf.


(Foto sesaat sebelum thawaf sunnah)

Melihat kondisi tempat thawaf yang begitu penuh, rasanya sulit sekali untuk memegang ka’bah. Padahal, saya sangat ingin sekali memegang dan mencium ka’bah. Kemudian saya langsung melakukan thawaf sambil berjalan mendekat menuju ka’bah. Alhamdulillah, tanpa hambatan saya langsung menemukan space kosong untuk dapat memegang ka’bah, padahal saat itu suasananya sedang penuh sekali. Allah memudahkan saya untuk memegang dan mencium ka’bah. Saya langsung cium ka’bah. Wangi sekali, sampai sekarangpun saya sangat mengingat wangi ka’bah itu. Sambil mencium dan memegang ka’bah saya panjatkan segala doa dan utamanya saya bersyukur atas segala yang telah Allah berikan untuk saya sampai saat ini. Ada sekitar 5 menit saya mencium ka’bah, selanjutnya mulai terasa penuh oleh orang-orang. Mungkin, saya tidak boleh egois berlama-lama berdiri di situ karena banyak sekali orang-orang yang berebut disitu. Lagi-lagi saya ingat surat Ar-Rahman. Nikmat mana lagi yang saya dustakan.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

Setelah menyelesaikan thawaf sunnah itu, saya menunggu waktu shalat ashar di masjid dan kembali lagi ke hotel. Sebelum masuk kamar, saya sempatkan dulu untuk sedikit membeli souvenir di toko sekitar hotel dan kebab karena lapar. Sebenarnya, di hotel sudah disediakan makan sih tetapi entah mengapa saya kurang selera sama rasanya. Jadilah saya jajan kebab seharga 4 real yang kemudian saya beli lagi dan lagi karena enyaak. Beda sama kebab di Indonesia yang full sayur dan dagingnya hanya beberapa lembar. Kalau kebab disana full daging, sayurnya tidak terlalu banyak.
            Rencananya, saya akan kembali ke masjid sebelum shalat magrib, ternyata nenek saya ingin ikut ke masjid. Jadilah saya ke masjid bersama dengan nenek saya. Kami di masjid sampai waktunya selesai shalat isya. Pulang dari masjid, ternyata nenek saya sudah berniat untuk belanja membeli tambahan oleh-oleh untuk anak dan cucunya serta untuk saudara lainnya. Cukup banyak juga yang dibelanjakan dan yang pasti membuat koper makin penuh. Hari itu selesai juga, setelah kembali ke hotel kami lebih banyak beristirahat dan menyiapkan untuk agenda esok hari. Lanjut lagi di Umroh Part 4 ya. Ngantuk, hehehe...

2 komentar:

  1. izin share nih ka
    Buat Calon Jama'ah haji tahun ini..
    Mudah - mudahan membantu Hotel Dekat Masjidil Haram,

    BalasHapus
  2. salam, macam mana kondisi hotel al fajr al badae 3? perjalanan dari hotel ke masjidil haram berapa minit?terimakasih

    BalasHapus