23
Desember 2014
Sesuai
dengan kesepakatan pada meeting semalam dengan seluruh anggota
rombongan, pukul 02.00 WAS saya, nenek, dan ibu-ibu teman sekamar sudah turun
ke lobby. Ternyata, di lobby baru ada Pak Ustadz dengan beberapa
orang saja, sisanya masih di kamar masing-masing. Sekitar 30 menit menunggu,
barulah semuaya berkumpul di lobby. Ya, pagi ini kami akan melakukan
shalat tahajjud berjamaah sekaligus melakukan thawaf wada atau thawaf perpisahan.
Sepemahaman saya, Thawaf wada ini
adalah sebuah kewajiban bagi setiap jamaah haji dan umrah saat akan
meninggalkan Kota Suci Mekkah. Kami bersama-sama pergi ke Masjidil Haram,
sampai disana kami langsung melaksanakan shalat tahajjud berjamaah satu
rombongan, ada juga orang lain yang ikut shalat berjamaah bersama kami. Selesai
shalat berjamaah, kami langsung menuju ke area thawaf. Ya, ini adalah thawaf
wada, kami melakukan thawaf sebanyak tujuh keliling. Perasaan saya saat itu
campur aduk, saya menyadari bahwa ini adalah thawaf terakhir saya sebelum
pulang ke Indonesia nanti malam. Dijadwalkan kami pulang dengan penerbangan
pukul 22.30 WAS. Selesai melakukan
thawaf wada, kami melakukan shalat sunah dua rakaat di masjid. Kamipun mengambil air zam-zam
terakhir dan meminumnya seraya berdoa menghadap ka’bah. Waktu menunjukkan pukul
05.00 (kalau tidak salah) dan kamipun kembali ke hotel. Sebelum kembali ke
hotel, kami salam-salaman dahulu dengan anggota rombongan panghegar, semua
saling berpelukan sambil menangis haru. Ketika itu saya sedih sekali rasanya. Sedih
karena akan meninggalkan al Haram ini, sebenarnya saya betah sekali berada
disini. Tidak pernah sebelumnya saya merasakan kenikmatan beribadah seperti
ini. Disini saya merasa sangat dekat dengan Allah SWT. Sedih akan meninggalkan
baitullah. Hanya doa yang bisa saya panjatkan agar bisa kembali menginjakkan
kaki di Tanah Suci. Sayapun bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan
kepada saya. Merupakan suatu anugerah, kebanggaan, dan kehormatan bagi saya
dapat diundang oleh Allah untuk mengunjungi Baitullah. Saya berdoa agar kelak
bisa kembali ke tanah suci bersama-sama dengan keluarga dan orang-orang yang
saya cintai.
Fabiayyi
alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat
Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)
Mengapa tidak menunggu
waktu shalat subuh di masjid saja? Menurut Pak Ustadz, dan sebelumnya saya juga
pernah baca di suatu artikel bahwa ketika kita telah selesai melakukan thawaf
wada, disunahkan untuk tidak melakukan shalat di area masjid. Sebenarnya tidak
dilarang kok untuk shalat di masjid, namun alangkah lebih baik ketika
kita sudah melakukan thawaf perpisahan maka kita shalat di luar area masjid. Maka
kami putuskan untuk shalat subuh di hotel walaupun ada beberapa jamaah yang
ingin shalat di Masjidil Haram. Sesampainya di hotel, saya mulai bersiap-siap
merapikan barang-barang yang masih berantakan sambil menunggu waktu shalat
subuh. Pukul 06.00 saya menurunkan seluruh koper ke lobby hotel untuk
dimasukkan ke dalam bus. Semuanya dijadwalkan untuk keluar dari hotel pukul
08.00 karena sebelum menuju bandara kami akan melakukan city tour Jeddah
dahulu. Pukul 08.00 kami semua masuk ke bus dan mulai menuju Jeddah, saya
kurang memperhatikan berapa lama waktu yang ditempuh dari Mekkah ke Jeddah.
Mekkah - Jeddah
Destinasi pertama kami
adalah menuju ke Laut Merah. Disana ada Masjid terapung. Asalnya kami akan
melakukan shalat dhuha di masjid tersebut, namun ketika sampai disana masjidnya
terkunci, entah karena apa. Jadilah di pinggir Laut Merah kami makan bersama.
Makan nasi box yang dibagikan karena sebelumnya di hotel kami belum sarapan. Mun
ceuk sunda mah botram di sisi laut. Nikmat sekali, makan bersama-sama,
terasa kompak sekali dengan jamaah lainnya dan membuat suasana semakin akrab.
Disitu kami juga bercanda bersama-sama, foto-foto di pinggir laut, dan ibu-ibu
belanja lagi karena ada yang menjajakan kurma muda dan buah delima. Nenek
sayapun begitu, ikut-ikutan belanja, ehehehe. Untungnya, diam-diam saya membawa
tas lipat kalau-kalau ada belanjaan tambahan.
(Foto Laut Merah dan Masjid Terapung)
Pukul 12 kurang kami menuju ke pusat perbelanjaan di Jeddah, namanya
Corniche al Balad, disitu biasanya menjadi tujuan para jamaah umroh asal
Indonesia sebelum kembali pulang. Kurang lebih 1 jam kami berhenti disitu.
(Foto Toko Ali Murah yang berlokasi di
Pusat Perbelanjaan Corniche al Balad)
Disana saya membeli sedikit tambahan belanjaan, beli kurma 0,5 kg dan
coklat, 1kg. Itu saja. Ketika saya lihat nenek saya, ternyata membeli lagi
kurma dan coklat kalau ditotal kira-kira 4kg. Hahaha. Saya tertawa saja dalam
hati, meskipun nenek saya kondisinya menurun, tetapi kalau untuk urusan belanja
tetap semangat. Tidak salah saya membawa tas lipat tambahan, prediksinya benar
akan ada tambahan oleh-oleh. Rencananya tas tersebut untuk menyimpan seluruh
oleh-oleh tambahan yang dibeli di Laut Merah dan di al Balad, ternyata eh
ternyata ketika semua belanjaan dimasukkan ke dalam tas lipat yang ukurannya
lumayan itu, Masha Allah beratnya, saya yang membawa tas itu karena tidak
mungkin juga saya membiarkan nenek saya membawa tas tersebut. Tas tersebut akan
saya bawa ke kabin di pesawat maksudnya.
Tidak lama kemudian,
seluruh anggota rombongan sudah kembali ke bus dan kami melanjutkan perjalanan
ke bandara. Saat itu pula kami harus berpisah dengan muthowwif Ust.
Zainuddin dan Ust. Istiqomah karena mereka tidak diperkenankan masuk ke area
bandara. Memang katanya bandara King Abdul Aziz cukup ketat penjagaannya,
sehingga tidak sembarang orang bisa mengantar. Salam-salaman dan perpisahan
dilakukan di dalam bus, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada muthowwif
tersebut. Waktu menunjukkan pukul 13.30 WAS dan sesaat sebelum turun dari bus
kami dibagikan sekotak nasi box lagi, isinya seperti biasa ada nasi, ayam
bakar, daging, sayuran, kerupuk, pisang, dan air mineral botol.
Sesampainya di Bandara
King Abdul Azis, karena kami belum waktunya untuk check in di bandara,
maka kami menunggu dan berkumpul dibawah payung-payung Bandara, cukup nyaman
juga tempat menunggunya. Sambil meenunggu, banyak diantara kami yang melakukan packing
ulang karena ada tambahan belanjaan dari Jeddah, saya tidak membuka koper
besar tadi, karena tas lipat akan dibawa ke kabin. Ternyata ketika saya timbang
di timbangan barang yang ada di bandara, beratnya hampir mencapai 7 kg, hahaha.
Kalap belanja sepertinya. Pak Ustadz pun melihat saya keberatan membawa tas
tersebut karena saya bawanya hampir diseret-seret. Karena itulah Pak Ustadz
menyuruh saya untuk menyimpan tas tersebut di bagasi saja karena melihat saya
harus fokus untuk menuntun nenek saya, dan akan bertambah ribet jika saya harus
membawa tas tersebut. Tas itupun diberi sticker penanda “PATRA” untuk
memberikan ciri milik rombongan kami. Lalu, kamipun melaksanakan shalat Dzuhur
dan Ashar di bandara. Sambil menunggu, kami makan nasi box yang tadi
dibagikan di bus sebelum turun ke bandara. Cukup melelahkan juga menunggu itu,
sampai tiba akhirnya pukul 18.00 kami masuk ke dalam bandara untuk check-in.
Kami shalat maghrib dan isya di dalam bandara. Setelah check-in baru
kami tahu bahwa penerbangan kami lagi-lagi mengalami delay selama 1 jam. Penerbangan harusnya pukul 22.30, mundur
menjadi pukul 23.35. Selama menunggu masuk ke pesawat tersebut, kami duduk di
ruang tunggu penumpang, suhu ruangan saat itu cukup dingin karena AC, untungnya
saat itu jaket yang saya pakai cukup untuk menghalau rasa dingin. Saya lihat,
ditengah penantian penerbangan pesawat itu, rombongan kami ada yang mengobrol,
ada pula yang tidur, ada yang berfoto-foto, juga ada yang jajan membeli kopi
atau teh panas. Sama halnya dengan nenek saya yang membeli roti dan segelas
kopi susu di bandara.
Jeddah - Jakarta
Tiba saatnya pukul 23.35,
kami mulai memasuki pesawat. Beberapa saat kemudian kami take off.
Alhamdulillah bisa segera duduk di pesawat. Ketika pesawat mulai terbang, dalam
hati saya berdoa agar diberi kelancaran selama dalam perjalanan juga agar suatu
saat nanti saya bisa kembali ke tanah Arab ini. Tidak lama kemudian saya
tertidur di pesawat. Ketika pramugari memberikan makanan ringan seperti roti,
saya bangun. Kemudian, beberapa saat kemudian datang makanan berat, menunya
nasi, ikan fillet, dan sayur bayam. Enak sekali, karena memang malam itu
saya lapar. Haha. Selanjutnya saya tidur, ketika terbangun, saya lihat masih 5
jam lagi untuk mendarat di Jakarta sehingga tidak jelas juga saya melakukan apa
disitu. Mungkin tidur bangun tidur bangun. Tiga jam kemudian, makanan datang
lagi. Kali ini menunya mashed potatoes, grilled tomatoes, sousages, dan steam
eggs, sebenarnya saya agak asing memakan makanan seperti itu, tapi ketika
saya coba rasanya enak juga. Malah jadi
rada-rada ketagihan.
Kondisi penerbangan saat
itu memang kurang baik. Beberapa kali diberitahukan bahwa kita harus tetap
memasang seat belt karena beberapa kali terjadi goncangan di udara. Akhirnya,
tepat pukul 13.30 WIB kami landing di Bandara Internasional Soekarno
Hatta (Cengkareng). Alhamdulillah selamat sampai bandara. Di bandara, sudah
menunggu Pak Fuad dan Pak Tri dari Panghegar untuk menjemput kami. Selesai
mengurus bagasi, koper-koper rombongan kemudian diangkut menuju ke Bandung
(Hotel Panghegar) menggunakan mobil box, sedangkan kami semua menggunakan bus.
Pukul. 15.00 bus mulai berjalan menuju Bandung. Harapannya, kami bisa segera
cepat sampai, karena selain rindu dengan keluarga di Bandung, kami juga merasa
cape. Tapi harapan tinggal harapan, keluar dari kompleks bandara, jalanan macet
sekali karena saya ingat itu adalah long weekend pasti Bandung menjadi
serbuan orang Jakarta. Sayapun tertidur, saya bangun sekitar pukul 16.45 ketika
dibagikan makanan di dalam bus. Kali ini makannya ayam K*C, saya lihat masih di
kawasan MT Haryono, berarti masih jauh sekali menuju Bandung. Adzan Maghrib
berkumandang dan kami semua berada di dekat rest area, kami berhenti sejenak
untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah di rest area lalu melanjutkan
perjalanan setelahnya. Pukul 20.30, kami sampai di Hotel Panghegar, saya
dijemput oleh orang tua, bibi, dan sepupu saya, koper-koper sayapun sudah ada
di hotel tinggal dimasukkan ke dalam mobil saja. Saya lihat anggota rombongan
yang lain juga sedang melepas rindu dengan keluarga yang menjemputnya. Selepas
memasukkan koper ke mobil, kami berkumpul sejenak di lobby hotel panghegar,
kami saling bersalam-salaman, berpelukan, nangis-nangisan, dan memberikan salam
perpisahan dengan sesama jamaah umroh yang lain. Terakhir, kami berfoto bersama
sebagai kenang-kenangan. Semoga, kebersamaan dan silaturahmi ini bisa terus
terjalin karena walaupun hanya 9 hari bersama-sama semuanya sudah seperti
saudara. I Love You All.
(Foto sebelum pulang ke rumah
masing-masing)
Itulah sharing pengalaman Umroh saya tanggal 16-24 Desember 2014,
mudah-mudahan bermanfaat untuk yang membacanya. Semoga semuanya bisa kembali
dan bisa merasakan indah dan nikmatnya mengunjungi Baitullah.
.Habis.









Assalamualaikum.. Ka nama saya nadia, saya maba unpar prodi IESP sama kaya kaka. Saya angkatan 2016. Saya ingin bgt bisa kenal kk lebih jauh, dan ingin tau lebih jauh ttg kuliah di unpar. Kk bisa hubungi saya di email:nadiarestuutami@gmail.com / id line :narestmi. Ditunggu ya ka balasannya
BalasHapusAssalamualaikum.. Ka nama saya nadia, saya maba unpar prodi IESP sama kaya kaka. Saya angkatan 2016. Saya ingin bgt bisa kenal kk lebih jauh, dan ingin tau lebih jauh ttg kuliah di unpar. Kk bisa hubungi saya di email:nadiarestuutami@gmail.com / id line :narestmi. Ditunggu ya ka balasannya
BalasHapus