Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 07 Januari 2015

UMROH #Part5 - Habis



23 Desember 2014

            Sesuai dengan kesepakatan pada meeting semalam dengan seluruh anggota rombongan, pukul 02.00 WAS saya, nenek, dan ibu-ibu teman sekamar sudah turun ke lobby. Ternyata, di lobby baru ada Pak Ustadz dengan beberapa orang saja, sisanya masih di kamar masing-masing. Sekitar 30 menit menunggu, barulah semuaya berkumpul di lobby. Ya, pagi ini kami akan melakukan shalat tahajjud berjamaah sekaligus melakukan thawaf wada atau thawaf perpisahan. Sepemahaman saya, Thawaf wada ini adalah sebuah kewajiban bagi setiap jamaah haji dan umrah saat akan meninggalkan Kota Suci Mekkah. Kami bersama-sama pergi ke Masjidil Haram, sampai disana kami langsung melaksanakan shalat tahajjud berjamaah satu rombongan, ada juga orang lain yang ikut shalat berjamaah bersama kami. Selesai shalat berjamaah, kami langsung menuju ke area thawaf. Ya, ini adalah thawaf wada, kami melakukan thawaf sebanyak tujuh keliling. Perasaan saya saat itu campur aduk, saya menyadari bahwa ini adalah thawaf terakhir saya sebelum pulang ke Indonesia nanti malam. Dijadwalkan kami pulang dengan penerbangan pukul 22.30 WAS. Selesai melakukan thawaf wada, kami melakukan shalat sunah dua rakaat  di masjid. Kamipun mengambil air zam-zam terakhir dan meminumnya seraya berdoa menghadap ka’bah. Waktu menunjukkan pukul 05.00 (kalau tidak salah) dan kamipun kembali ke hotel. Sebelum kembali ke hotel, kami salam-salaman dahulu dengan anggota rombongan panghegar, semua saling berpelukan sambil menangis haru. Ketika itu saya sedih sekali rasanya. Sedih karena akan meninggalkan al Haram ini, sebenarnya saya betah sekali berada disini. Tidak pernah sebelumnya saya merasakan kenikmatan beribadah seperti ini. Disini saya merasa sangat dekat dengan Allah SWT. Sedih akan meninggalkan baitullah. Hanya doa yang bisa saya panjatkan agar bisa kembali menginjakkan kaki di Tanah Suci. Sayapun bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada saya. Merupakan suatu anugerah, kebanggaan, dan kehormatan bagi saya dapat diundang oleh Allah untuk mengunjungi Baitullah. Saya berdoa agar kelak bisa kembali ke tanah suci bersama-sama dengan keluarga dan orang-orang yang saya cintai.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

            Mengapa tidak menunggu waktu shalat subuh di masjid saja? Menurut Pak Ustadz, dan sebelumnya saya juga pernah baca di suatu artikel bahwa ketika kita telah selesai melakukan thawaf wada, disunahkan untuk tidak melakukan shalat di area masjid. Sebenarnya tidak dilarang kok untuk shalat di masjid, namun alangkah lebih baik ketika kita sudah melakukan thawaf perpisahan maka kita shalat di luar area masjid. Maka kami putuskan untuk shalat subuh di hotel walaupun ada beberapa jamaah yang ingin shalat di Masjidil Haram. Sesampainya di hotel, saya mulai bersiap-siap merapikan barang-barang yang masih berantakan sambil menunggu waktu shalat subuh. Pukul 06.00 saya menurunkan seluruh koper ke lobby hotel untuk dimasukkan ke dalam bus. Semuanya dijadwalkan untuk keluar dari hotel pukul 08.00 karena sebelum menuju bandara kami akan melakukan city tour Jeddah dahulu. Pukul 08.00 kami semua masuk ke bus dan mulai menuju Jeddah, saya kurang memperhatikan berapa lama waktu yang ditempuh dari Mekkah ke Jeddah.

Mekkah - Jeddah

            Destinasi pertama kami adalah menuju ke Laut Merah. Disana ada Masjid terapung. Asalnya kami akan melakukan shalat dhuha di masjid tersebut, namun ketika sampai disana masjidnya terkunci, entah karena apa. Jadilah di pinggir Laut Merah kami makan bersama. Makan nasi box yang dibagikan karena sebelumnya di hotel kami belum sarapan. Mun ceuk sunda mah botram di sisi laut. Nikmat sekali, makan bersama-sama, terasa kompak sekali dengan jamaah lainnya dan membuat suasana semakin akrab. Disitu kami juga bercanda bersama-sama, foto-foto di pinggir laut, dan ibu-ibu belanja lagi karena ada yang menjajakan kurma muda dan buah delima. Nenek sayapun begitu, ikut-ikutan belanja, ehehehe. Untungnya, diam-diam saya membawa tas lipat kalau-kalau ada belanjaan tambahan.




(Foto Laut Merah dan Masjid Terapung)

Pukul 12 kurang kami menuju ke pusat perbelanjaan di Jeddah, namanya Corniche al Balad, disitu biasanya menjadi tujuan para jamaah umroh asal Indonesia sebelum kembali pulang. Kurang lebih 1 jam kami berhenti disitu.



(Foto Toko Ali Murah yang berlokasi di Pusat Perbelanjaan Corniche al Balad)

Disana saya membeli sedikit tambahan belanjaan, beli kurma 0,5 kg dan coklat, 1kg. Itu saja. Ketika saya lihat nenek saya, ternyata membeli lagi kurma dan coklat kalau ditotal kira-kira 4kg. Hahaha. Saya tertawa saja dalam hati, meskipun nenek saya kondisinya menurun, tetapi kalau untuk urusan belanja tetap semangat. Tidak salah saya membawa tas lipat tambahan, prediksinya benar akan ada tambahan oleh-oleh. Rencananya tas tersebut untuk menyimpan seluruh oleh-oleh tambahan yang dibeli di Laut Merah dan di al Balad, ternyata eh ternyata ketika semua belanjaan dimasukkan ke dalam tas lipat yang ukurannya lumayan itu, Masha Allah beratnya, saya yang membawa tas itu karena tidak mungkin juga saya membiarkan nenek saya membawa tas tersebut. Tas tersebut akan saya bawa ke kabin di pesawat maksudnya.
            Tidak lama kemudian, seluruh anggota rombongan sudah kembali ke bus dan kami melanjutkan perjalanan ke bandara. Saat itu pula kami harus berpisah dengan muthowwif Ust. Zainuddin dan Ust. Istiqomah karena mereka tidak diperkenankan masuk ke area bandara. Memang katanya bandara King Abdul Aziz cukup ketat penjagaannya, sehingga tidak sembarang orang bisa mengantar. Salam-salaman dan perpisahan dilakukan di dalam bus, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada muthowwif tersebut. Waktu menunjukkan pukul 13.30 WAS dan sesaat sebelum turun dari bus kami dibagikan sekotak nasi box lagi, isinya seperti biasa ada nasi, ayam bakar, daging, sayuran, kerupuk, pisang, dan air mineral botol.
            Sesampainya di Bandara King Abdul Azis, karena kami belum waktunya untuk check in di bandara, maka kami menunggu dan berkumpul dibawah payung-payung Bandara, cukup nyaman juga tempat menunggunya. Sambil meenunggu, banyak diantara kami yang melakukan packing ulang karena ada tambahan belanjaan dari Jeddah, saya tidak membuka koper besar tadi, karena tas lipat akan dibawa ke kabin. Ternyata ketika saya timbang di timbangan barang yang ada di bandara, beratnya hampir mencapai 7 kg, hahaha. Kalap belanja sepertinya. Pak Ustadz pun melihat saya keberatan membawa tas tersebut karena saya bawanya hampir diseret-seret. Karena itulah Pak Ustadz menyuruh saya untuk menyimpan tas tersebut di bagasi saja karena melihat saya harus fokus untuk menuntun nenek saya, dan akan bertambah ribet jika saya harus membawa tas tersebut. Tas itupun diberi sticker penanda “PATRA” untuk memberikan ciri milik rombongan kami. Lalu, kamipun melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar di bandara. Sambil menunggu, kami makan nasi box yang tadi dibagikan di bus sebelum turun ke bandara. Cukup melelahkan juga menunggu itu, sampai tiba akhirnya pukul 18.00 kami masuk ke dalam bandara untuk check-in. Kami shalat maghrib dan isya di dalam bandara. Setelah check-in baru kami tahu bahwa penerbangan kami lagi-lagi mengalami delay selama  1 jam. Penerbangan harusnya pukul 22.30, mundur menjadi pukul 23.35. Selama menunggu masuk ke pesawat tersebut, kami duduk di ruang tunggu penumpang, suhu ruangan saat itu cukup dingin karena AC, untungnya saat itu jaket yang saya pakai cukup untuk menghalau rasa dingin. Saya lihat, ditengah penantian penerbangan pesawat itu, rombongan kami ada yang mengobrol, ada pula yang tidur, ada yang berfoto-foto, juga ada yang jajan membeli kopi atau teh panas. Sama halnya dengan nenek saya yang membeli roti dan segelas kopi susu di bandara.

Jeddah - Jakarta

            Tiba saatnya pukul 23.35, kami mulai memasuki pesawat. Beberapa saat kemudian kami take off. Alhamdulillah bisa segera duduk di pesawat. Ketika pesawat mulai terbang, dalam hati saya berdoa agar diberi kelancaran selama dalam perjalanan juga agar suatu saat nanti saya bisa kembali ke tanah Arab ini. Tidak lama kemudian saya tertidur di pesawat. Ketika pramugari memberikan makanan ringan seperti roti, saya bangun. Kemudian, beberapa saat kemudian datang makanan berat, menunya nasi, ikan fillet, dan sayur bayam. Enak sekali, karena memang malam itu saya lapar. Haha. Selanjutnya saya tidur, ketika terbangun, saya lihat masih 5 jam lagi untuk mendarat di Jakarta sehingga tidak jelas juga saya melakukan apa disitu. Mungkin tidur bangun tidur bangun. Tiga jam kemudian, makanan datang lagi. Kali ini menunya mashed potatoes, grilled tomatoes, sousages, dan steam eggs, sebenarnya saya agak asing memakan makanan seperti itu, tapi ketika saya coba rasanya enak juga. Malah  jadi rada-rada ketagihan.
            Kondisi penerbangan saat itu memang kurang baik. Beberapa kali diberitahukan bahwa kita harus tetap memasang seat belt karena beberapa kali terjadi goncangan di udara. Akhirnya, tepat pukul 13.30 WIB kami landing di Bandara Internasional Soekarno Hatta (Cengkareng). Alhamdulillah selamat sampai bandara. Di bandara, sudah menunggu Pak Fuad dan Pak Tri dari Panghegar untuk menjemput kami. Selesai mengurus bagasi, koper-koper rombongan kemudian diangkut menuju ke Bandung (Hotel Panghegar) menggunakan mobil box, sedangkan kami semua menggunakan bus. Pukul. 15.00 bus mulai berjalan menuju Bandung. Harapannya, kami bisa segera cepat sampai, karena selain rindu dengan keluarga di Bandung, kami juga merasa cape. Tapi harapan tinggal harapan, keluar dari kompleks bandara, jalanan macet sekali karena saya ingat itu adalah long weekend pasti Bandung menjadi serbuan orang Jakarta. Sayapun tertidur, saya bangun sekitar pukul 16.45 ketika dibagikan makanan di dalam bus. Kali ini makannya ayam K*C, saya lihat masih di kawasan MT Haryono, berarti masih jauh sekali menuju Bandung. Adzan Maghrib berkumandang dan kami semua berada di dekat rest area, kami berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah di rest area lalu melanjutkan perjalanan setelahnya. Pukul 20.30, kami sampai di Hotel Panghegar, saya dijemput oleh orang tua, bibi, dan sepupu saya, koper-koper sayapun sudah ada di hotel tinggal dimasukkan ke dalam mobil saja. Saya lihat anggota rombongan yang lain juga sedang melepas rindu dengan keluarga yang menjemputnya. Selepas memasukkan koper ke mobil, kami berkumpul sejenak di lobby hotel panghegar, kami saling bersalam-salaman, berpelukan, nangis-nangisan, dan memberikan salam perpisahan dengan sesama jamaah umroh yang lain. Terakhir, kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Semoga, kebersamaan dan silaturahmi ini bisa terus terjalin karena walaupun hanya 9 hari bersama-sama semuanya sudah seperti saudara. I Love You All.



(Foto sebelum pulang ke rumah masing-masing)

Itulah sharing pengalaman Umroh saya tanggal 16-24 Desember 2014, mudah-mudahan bermanfaat untuk yang membacanya. Semoga semuanya bisa kembali dan bisa merasakan indah dan nikmatnya mengunjungi Baitullah.
.Habis.

2 komentar:

  1. Assalamualaikum.. Ka nama saya nadia, saya maba unpar prodi IESP sama kaya kaka. Saya angkatan 2016. Saya ingin bgt bisa kenal kk lebih jauh, dan ingin tau lebih jauh ttg kuliah di unpar. Kk bisa hubungi saya di email:nadiarestuutami@gmail.com / id line :narestmi. Ditunggu ya ka balasannya

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum.. Ka nama saya nadia, saya maba unpar prodi IESP sama kaya kaka. Saya angkatan 2016. Saya ingin bgt bisa kenal kk lebih jauh, dan ingin tau lebih jauh ttg kuliah di unpar. Kk bisa hubungi saya di email:nadiarestuutami@gmail.com / id line :narestmi. Ditunggu ya ka balasannya

    BalasHapus