Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 07 Januari 2015

UMROH #Part5 - Habis



23 Desember 2014

            Sesuai dengan kesepakatan pada meeting semalam dengan seluruh anggota rombongan, pukul 02.00 WAS saya, nenek, dan ibu-ibu teman sekamar sudah turun ke lobby. Ternyata, di lobby baru ada Pak Ustadz dengan beberapa orang saja, sisanya masih di kamar masing-masing. Sekitar 30 menit menunggu, barulah semuaya berkumpul di lobby. Ya, pagi ini kami akan melakukan shalat tahajjud berjamaah sekaligus melakukan thawaf wada atau thawaf perpisahan. Sepemahaman saya, Thawaf wada ini adalah sebuah kewajiban bagi setiap jamaah haji dan umrah saat akan meninggalkan Kota Suci Mekkah. Kami bersama-sama pergi ke Masjidil Haram, sampai disana kami langsung melaksanakan shalat tahajjud berjamaah satu rombongan, ada juga orang lain yang ikut shalat berjamaah bersama kami. Selesai shalat berjamaah, kami langsung menuju ke area thawaf. Ya, ini adalah thawaf wada, kami melakukan thawaf sebanyak tujuh keliling. Perasaan saya saat itu campur aduk, saya menyadari bahwa ini adalah thawaf terakhir saya sebelum pulang ke Indonesia nanti malam. Dijadwalkan kami pulang dengan penerbangan pukul 22.30 WAS. Selesai melakukan thawaf wada, kami melakukan shalat sunah dua rakaat  di masjid. Kamipun mengambil air zam-zam terakhir dan meminumnya seraya berdoa menghadap ka’bah. Waktu menunjukkan pukul 05.00 (kalau tidak salah) dan kamipun kembali ke hotel. Sebelum kembali ke hotel, kami salam-salaman dahulu dengan anggota rombongan panghegar, semua saling berpelukan sambil menangis haru. Ketika itu saya sedih sekali rasanya. Sedih karena akan meninggalkan al Haram ini, sebenarnya saya betah sekali berada disini. Tidak pernah sebelumnya saya merasakan kenikmatan beribadah seperti ini. Disini saya merasa sangat dekat dengan Allah SWT. Sedih akan meninggalkan baitullah. Hanya doa yang bisa saya panjatkan agar bisa kembali menginjakkan kaki di Tanah Suci. Sayapun bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada saya. Merupakan suatu anugerah, kebanggaan, dan kehormatan bagi saya dapat diundang oleh Allah untuk mengunjungi Baitullah. Saya berdoa agar kelak bisa kembali ke tanah suci bersama-sama dengan keluarga dan orang-orang yang saya cintai.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

            Mengapa tidak menunggu waktu shalat subuh di masjid saja? Menurut Pak Ustadz, dan sebelumnya saya juga pernah baca di suatu artikel bahwa ketika kita telah selesai melakukan thawaf wada, disunahkan untuk tidak melakukan shalat di area masjid. Sebenarnya tidak dilarang kok untuk shalat di masjid, namun alangkah lebih baik ketika kita sudah melakukan thawaf perpisahan maka kita shalat di luar area masjid. Maka kami putuskan untuk shalat subuh di hotel walaupun ada beberapa jamaah yang ingin shalat di Masjidil Haram. Sesampainya di hotel, saya mulai bersiap-siap merapikan barang-barang yang masih berantakan sambil menunggu waktu shalat subuh. Pukul 06.00 saya menurunkan seluruh koper ke lobby hotel untuk dimasukkan ke dalam bus. Semuanya dijadwalkan untuk keluar dari hotel pukul 08.00 karena sebelum menuju bandara kami akan melakukan city tour Jeddah dahulu. Pukul 08.00 kami semua masuk ke bus dan mulai menuju Jeddah, saya kurang memperhatikan berapa lama waktu yang ditempuh dari Mekkah ke Jeddah.

Mekkah - Jeddah

            Destinasi pertama kami adalah menuju ke Laut Merah. Disana ada Masjid terapung. Asalnya kami akan melakukan shalat dhuha di masjid tersebut, namun ketika sampai disana masjidnya terkunci, entah karena apa. Jadilah di pinggir Laut Merah kami makan bersama. Makan nasi box yang dibagikan karena sebelumnya di hotel kami belum sarapan. Mun ceuk sunda mah botram di sisi laut. Nikmat sekali, makan bersama-sama, terasa kompak sekali dengan jamaah lainnya dan membuat suasana semakin akrab. Disitu kami juga bercanda bersama-sama, foto-foto di pinggir laut, dan ibu-ibu belanja lagi karena ada yang menjajakan kurma muda dan buah delima. Nenek sayapun begitu, ikut-ikutan belanja, ehehehe. Untungnya, diam-diam saya membawa tas lipat kalau-kalau ada belanjaan tambahan.




(Foto Laut Merah dan Masjid Terapung)

Pukul 12 kurang kami menuju ke pusat perbelanjaan di Jeddah, namanya Corniche al Balad, disitu biasanya menjadi tujuan para jamaah umroh asal Indonesia sebelum kembali pulang. Kurang lebih 1 jam kami berhenti disitu.



(Foto Toko Ali Murah yang berlokasi di Pusat Perbelanjaan Corniche al Balad)

Disana saya membeli sedikit tambahan belanjaan, beli kurma 0,5 kg dan coklat, 1kg. Itu saja. Ketika saya lihat nenek saya, ternyata membeli lagi kurma dan coklat kalau ditotal kira-kira 4kg. Hahaha. Saya tertawa saja dalam hati, meskipun nenek saya kondisinya menurun, tetapi kalau untuk urusan belanja tetap semangat. Tidak salah saya membawa tas lipat tambahan, prediksinya benar akan ada tambahan oleh-oleh. Rencananya tas tersebut untuk menyimpan seluruh oleh-oleh tambahan yang dibeli di Laut Merah dan di al Balad, ternyata eh ternyata ketika semua belanjaan dimasukkan ke dalam tas lipat yang ukurannya lumayan itu, Masha Allah beratnya, saya yang membawa tas itu karena tidak mungkin juga saya membiarkan nenek saya membawa tas tersebut. Tas tersebut akan saya bawa ke kabin di pesawat maksudnya.
            Tidak lama kemudian, seluruh anggota rombongan sudah kembali ke bus dan kami melanjutkan perjalanan ke bandara. Saat itu pula kami harus berpisah dengan muthowwif Ust. Zainuddin dan Ust. Istiqomah karena mereka tidak diperkenankan masuk ke area bandara. Memang katanya bandara King Abdul Aziz cukup ketat penjagaannya, sehingga tidak sembarang orang bisa mengantar. Salam-salaman dan perpisahan dilakukan di dalam bus, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada muthowwif tersebut. Waktu menunjukkan pukul 13.30 WAS dan sesaat sebelum turun dari bus kami dibagikan sekotak nasi box lagi, isinya seperti biasa ada nasi, ayam bakar, daging, sayuran, kerupuk, pisang, dan air mineral botol.
            Sesampainya di Bandara King Abdul Azis, karena kami belum waktunya untuk check in di bandara, maka kami menunggu dan berkumpul dibawah payung-payung Bandara, cukup nyaman juga tempat menunggunya. Sambil meenunggu, banyak diantara kami yang melakukan packing ulang karena ada tambahan belanjaan dari Jeddah, saya tidak membuka koper besar tadi, karena tas lipat akan dibawa ke kabin. Ternyata ketika saya timbang di timbangan barang yang ada di bandara, beratnya hampir mencapai 7 kg, hahaha. Kalap belanja sepertinya. Pak Ustadz pun melihat saya keberatan membawa tas tersebut karena saya bawanya hampir diseret-seret. Karena itulah Pak Ustadz menyuruh saya untuk menyimpan tas tersebut di bagasi saja karena melihat saya harus fokus untuk menuntun nenek saya, dan akan bertambah ribet jika saya harus membawa tas tersebut. Tas itupun diberi sticker penanda “PATRA” untuk memberikan ciri milik rombongan kami. Lalu, kamipun melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar di bandara. Sambil menunggu, kami makan nasi box yang tadi dibagikan di bus sebelum turun ke bandara. Cukup melelahkan juga menunggu itu, sampai tiba akhirnya pukul 18.00 kami masuk ke dalam bandara untuk check-in. Kami shalat maghrib dan isya di dalam bandara. Setelah check-in baru kami tahu bahwa penerbangan kami lagi-lagi mengalami delay selama  1 jam. Penerbangan harusnya pukul 22.30, mundur menjadi pukul 23.35. Selama menunggu masuk ke pesawat tersebut, kami duduk di ruang tunggu penumpang, suhu ruangan saat itu cukup dingin karena AC, untungnya saat itu jaket yang saya pakai cukup untuk menghalau rasa dingin. Saya lihat, ditengah penantian penerbangan pesawat itu, rombongan kami ada yang mengobrol, ada pula yang tidur, ada yang berfoto-foto, juga ada yang jajan membeli kopi atau teh panas. Sama halnya dengan nenek saya yang membeli roti dan segelas kopi susu di bandara.

Jeddah - Jakarta

            Tiba saatnya pukul 23.35, kami mulai memasuki pesawat. Beberapa saat kemudian kami take off. Alhamdulillah bisa segera duduk di pesawat. Ketika pesawat mulai terbang, dalam hati saya berdoa agar diberi kelancaran selama dalam perjalanan juga agar suatu saat nanti saya bisa kembali ke tanah Arab ini. Tidak lama kemudian saya tertidur di pesawat. Ketika pramugari memberikan makanan ringan seperti roti, saya bangun. Kemudian, beberapa saat kemudian datang makanan berat, menunya nasi, ikan fillet, dan sayur bayam. Enak sekali, karena memang malam itu saya lapar. Haha. Selanjutnya saya tidur, ketika terbangun, saya lihat masih 5 jam lagi untuk mendarat di Jakarta sehingga tidak jelas juga saya melakukan apa disitu. Mungkin tidur bangun tidur bangun. Tiga jam kemudian, makanan datang lagi. Kali ini menunya mashed potatoes, grilled tomatoes, sousages, dan steam eggs, sebenarnya saya agak asing memakan makanan seperti itu, tapi ketika saya coba rasanya enak juga. Malah  jadi rada-rada ketagihan.
            Kondisi penerbangan saat itu memang kurang baik. Beberapa kali diberitahukan bahwa kita harus tetap memasang seat belt karena beberapa kali terjadi goncangan di udara. Akhirnya, tepat pukul 13.30 WIB kami landing di Bandara Internasional Soekarno Hatta (Cengkareng). Alhamdulillah selamat sampai bandara. Di bandara, sudah menunggu Pak Fuad dan Pak Tri dari Panghegar untuk menjemput kami. Selesai mengurus bagasi, koper-koper rombongan kemudian diangkut menuju ke Bandung (Hotel Panghegar) menggunakan mobil box, sedangkan kami semua menggunakan bus. Pukul. 15.00 bus mulai berjalan menuju Bandung. Harapannya, kami bisa segera cepat sampai, karena selain rindu dengan keluarga di Bandung, kami juga merasa cape. Tapi harapan tinggal harapan, keluar dari kompleks bandara, jalanan macet sekali karena saya ingat itu adalah long weekend pasti Bandung menjadi serbuan orang Jakarta. Sayapun tertidur, saya bangun sekitar pukul 16.45 ketika dibagikan makanan di dalam bus. Kali ini makannya ayam K*C, saya lihat masih di kawasan MT Haryono, berarti masih jauh sekali menuju Bandung. Adzan Maghrib berkumandang dan kami semua berada di dekat rest area, kami berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah di rest area lalu melanjutkan perjalanan setelahnya. Pukul 20.30, kami sampai di Hotel Panghegar, saya dijemput oleh orang tua, bibi, dan sepupu saya, koper-koper sayapun sudah ada di hotel tinggal dimasukkan ke dalam mobil saja. Saya lihat anggota rombongan yang lain juga sedang melepas rindu dengan keluarga yang menjemputnya. Selepas memasukkan koper ke mobil, kami berkumpul sejenak di lobby hotel panghegar, kami saling bersalam-salaman, berpelukan, nangis-nangisan, dan memberikan salam perpisahan dengan sesama jamaah umroh yang lain. Terakhir, kami berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Semoga, kebersamaan dan silaturahmi ini bisa terus terjalin karena walaupun hanya 9 hari bersama-sama semuanya sudah seperti saudara. I Love You All.



(Foto sebelum pulang ke rumah masing-masing)

Itulah sharing pengalaman Umroh saya tanggal 16-24 Desember 2014, mudah-mudahan bermanfaat untuk yang membacanya. Semoga semuanya bisa kembali dan bisa merasakan indah dan nikmatnya mengunjungi Baitullah.
.Habis.

UMROH #Part4


21 Desember 2014

            Hari ini menurut agenda kami akan melakukan City Tour Mekkah, kami akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sekitar Mekkah. Setelah sebelumnya kami melakukan shalat subuh di masjid, kami langsung kembali ke hotel. Rencananya pukul 09.00 kami berkumpul di lobby untuk berangkat bersama menggunakan bus ke tujuan pertama. Tujuan pertama mengunjungi Jabal Tsur, letaknya di sebelah selatan Mekkah sekitar 6 km dari Masjidil Haram. Kalau nggak salah dulu Rasulullah bersama dengan sahabatnya Abubakar Asshiddiq pernah berlindung di tempat tersebut ketika dalam perjalanan ke Madinah. Setelah  Rasulullah SAW selamat dari kepungan orang kafir Quraisy dirumahnya, maka beliau dengan diam-diam menyinggahi sahabat Abu Bakar Ashiddiq. Dari rumah Abu Bakar beliau bersama-sama dengan Abu Bakar lebih dahulu berlindung bersembunyi di Jabal Tsur kemudian menuju Madinah, sebagian orang-orang kafir Quraisy waktu mengejar Rasulullah SAW ada yang telah sampai Gua Tsur, mereka mendapatkan gua tersebut, tertutup dengan sarang laba-laba, dan nampak burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Dengan melihat keadaan yang sedemikian itu, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mungkin bersembunyi di gua tersebut. Setelah orang kafir Quraisy pergi maka beberapa hari kemudian Abu Bakar Ashiddiq berangkat menuju Madinah dengan selamat. Itu sebabnya di sekitar masjidil haram, banyak sekali burung-burung merpati dan kita bisa dengan bebas memberi makan burung merpati  tersebut. Di Jabal Tsur  kami hanya sebentar saja dan berdoa bersama disitu, setelahnya kami langsung menuju ke Jabal Nur.
            Jabal Nur berada di kawasan Hejaz atau atau sekitar 7 km dari Masjidil Haram. Di Jabal Nur, kami hanya melihat melalui bus saja. Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mendaki ke atas yaitu ke Gua Hira. Waktu pendakian kalau tidak salah memakan waktu 3 jam menurut informasi yang saya dengar. Seperti kita ketahui bahwa di Gua Hiro-lah Rasulullah bertahan dan (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Ini adalah gua kecil dengan panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter, serta letaknya berada 4 meter dari atas bagian puncak gunungnya. Dan ditempat ini pula wahyu pertama turun yaitu Surat Al Alaq ayat 1-5. Nabi Muhammad sudah sejak lama suka datang ke Gua Hira untuk menyendiri. Nabi Muhammad sering menenangkan pikiran di sana, hingga suatu hari wahyu tersebut turun melalui malaikat Jibril. Setelah wahyu pertama turun, lalu Nabi Muhammad melalui serangkaian proses panjang menjadi nabi dan rasul hingga Isra dan Miraj.


(Foto Jabal Nur – foto dari google)

            Dari Jabal Nur kami langsung menuju ke Jabal Rahmah, Jabal Rahmah ini merupakan tempat bertemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa. Maka dari itu, banyak yang ke Jabal Rahmah untuk berdoa meminta jodoh disitu. Untuk mengenangnya, di atas Jabal Rahmah terdapat suatu tugu yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar 1,8 meter dan tingginya 8 meter. Masyarakat setempat percaya, lokasi bertemunya Adam dan Hawa persis di titik tugu tersebut. Alhamdulillah, saya sempat menaiki Jabal Rahmah dan berdoa di atasnya. Berdoa meminta yang terbaik untuk urusan satu itu. Saat itu nenek saya tidak ikut menaiki bukit tersebut karena masih sakit kaki katanya. Saya naik ke bukit tersebut bersama dengan Ibu Linda satu rombongan Panghegar.  



 (Foto Jabal Rahmah)

Destinasi selanjutnya adalah Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Disitu, kami hanya berkeliling saja dengan menggunakan bus sambil dijelaskan oleh Pak Ustadz, mulai muncul tenda-tenda di sekitarnya. Tempat-tempat tersebut biasanya dikunjungi oleh para jamaah haji di musim haji. Disitulah para jamaah haji melakukan mabit.
            City Tour diakhiri disitu. Kamipun bergegas untuk menuju ke Masjid Ji’ronah untuk mengambil miqot. Pada hari ini kami akan melakukan umroh ke dua. Umroh kedua ini siifatnya sunnah. Ada beberapa jamaah umroh panghegar yang tidak mengikutinya, terutama jamaah yang sudah berumur. Ketika saya tanya kepada nenek saya, beliau ternyata ingin mengikuti umroh kedua ini, saya tanya berulang-ulang untuk meyakinkannya dan ternyata memang niat melakukannya karena akan membadalkan umroh untuk almarhum kakek saya. Karena itu saya benar-benar yakin bahwa nenek saya sanggup menjalani umroh kedua karena jika hal itu berhubungan dengan almarhum aki, pasti bersemangat menjalankannya. Badal Umroh adalah melaksanakan ibadah umroh atas nama orang lain. Jadi kita harus niat umroh atas nama seseorang yang dibadalkan. Sebaiknya, jika membadalkan umroh kepada seseorang yang tidak mungkin dapat melaksanakan umroh, seperti kepada orang yang sudah meninggal, atau bagi siapapun yang secara fisik tidak mampu lagi melaksanakan umroh.
            Kami mengambil miqot di Masjid Ji’ronah, menarik untuk saya ketika mendengar Pak Ustadz menceritakan sejarah Masjid Ji’ronah ini. Sebelum menjadi masjid, diceritakan disini pernah hidup seorang wanita sholehah yang pekerjaannya hanya menenun. Setiap hari dia menenun dan hanya berhenti ketika waktunya shalat saja. Pagi hari sampai malam hari ia menenun benang menjadi kain, selanjutnya setelah jadi kain, diurai kembali menjadi benang. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Saya sebenarnya kurang paham apa maksudnya mengurai kain itu menjadi benang kembali. Yang pasti di Masjid inilah, Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut (HR. Bukhari dan Muslim). Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 16 km dari kota Makkah.



(Foto Masjid Ji’ronah)

Disitu, kami melakukan shalat sunah ihram, dan di dalam bus kami membaca niat dipandu Pak Ustadz. Karena kami sudah berniat ihram, maka larangan-larangan yang ada ketika berihram berlaku kembali. Waktu menunjukkan pukul 13.30, kami langsung menuju ke hotel untuk menyimpan barang-barang kami dan langsung berkumpul kembali di lobby hotel untuk sama-sama berangkat menunaikan umroh kedua. Sampai di Masjid, kami  langsung menuju ke tempat thawaf. Melihat cuaca yang agak terik, saya mengkhawatirkan kondisi nenek saya. Alhamdulilah baik-baik saja. Tujuh putaran thawaf selesai dilakukan, lantas kami menuju ke bukit safa dan marwah untuk melakukan sa’i. Di tengah perjalanan kami melakukan sa’i, terdengar suara adzan ashar dan kamipun berhenti sejenak disitu dan melakukan shalat ashar bersama diantara bukit safa dan marwah.  Selesai shalat ashar, kami melanjutkan sa’i kembali. Setelah 7 kali, kamipun melakukan tahalul lagi. Sekitar pukul 16.30 kami selesai melaksanakan umroh ke-dua ini. Beberapa dari rombongan kami ada yang memutuskan untuk tinggal di masjid menunggu waktu maghrib dan isya. Saya bersama dengan nenek saya dan pak ustadz kembali ke hotel. Nenek saya dan saya melakukan shalat magrib di hotel saja. Tetapi ketika shalat isya saya kembali ke Masjid sendirian dengan meninggalkan nenek saya di kamar. Hari itu, selesai juga dengan cukup melelahkan.

22 Desember 2014

            Hari ini, acaranya bebas. Kami lebih banyak beribadah di masjid. Pagi hari, nenek saya mengajak saya untuk membeli tambahan oleh-oleh lagi. Saya manggut-manggut aja sebenernya. Karena saya harus putar otak bagaimana cara packing barang belanjaan nenek saya yang banyak sekali itu. Saya sendiri tidak terlalu banyak membeli oleh-oleh. Alakadarnya saja. Shalat dzuhur kami lakukan di masjid, selepas dzuhur saya, nenek saya, dan beberapa orang lagi diajak oleh Pak Ustadz untuk kembali ke masjid, melakukan thawaf sunnah sambil memegang ka’bah. Saya dan nenek saya berhasil untuk kembali mencium ka’bah, sayapun berhasil untuk shalat di Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah lokasi sebelah utara Ka'bah yang dibatasi tembok yang berbentuk setengah lingkaran. Disitulah Nabi Ismail tinggal semasa hidupnya dan kemudian menjadi kuburan beliau dan juga ibunya. Satu hal yang belum kesampaian adalah mencium hajar aswad, ketika saya berhasil mendekat hajar aswad, saya hanya berhasil menyentuh sekilas saja. Saya lakukan itu sambil menuntun nenek saya. Ketika hampir berhasil mendekat dan menyentuhnya saya ditarik oleh Pak Ustadz, karena ia melihat nenek saya yang kesulitan bergerak ditengah kerumunan orang yang ingin mencium hajar aswad. Lagi-lagi saya memang tidak boleh egois, karena saya bersama dengan nenek saya yang fisiknya tidak sekuat dulu. Mungkin umroh kali ini saya tidak berhasil mencium Hajar Aswad. Ya, Allah undang saya kembali untuk umroh dan izinkan saya untuk mencium Hajar Aswad. Selesai thawaf sunnah itu kami menunggu shalat ashar dan bergegas kembali ke hotel, di perjalanan menuju ke hotel lagi-lagi nenek saya mengeluarkan hasrat untuk belanja. Sabar, sabar sebut saya dalam hati. Shalat maghrib saya lakukan di masjid. Untuk Shalat isya saya lakukan di kamar, karena malam itu saya harus mulai packing bawaan nenek saya. Untuk bawaan saya sendiri tidak masalah, masih ada space kosong di koper  sedangkan sebagian bawaan nenek saya, tititipkan di koper saya saking penuhnya. Sekitar pukul 08.00 malam, kami melakukan meeting di ruang makan. Karena esok hari kami harus check out dari hotel. Kami diharuskan  berkumpul di lobby hotel pukul 02.00 karena akan shalat tahajjud dan akan melakukan thawaf wada. Selesai meeting kamipun kembali  ke kamar masing-masing dan melanjutkan packing yang tertunda. Next, ada di Umroh Part 5 ya...





Selasa, 06 Januari 2015

UMROH #Part3



Madinah – Mekkah

            Perjalanan dari Madinah ke Mekkah menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam, itupun karena jalanan agak macet terutama jalanan di sekitar Madinah. Kami juga berhenti di Masjid Dzulhulaifah atau sering disebut Bir Ali untuk mengambil miqot umroh. Seperti diketahui bahwa rukun umroh itu ada empat, dimulai dari miqot atau mengambil niat berihram, tawaf, sa’i, tahalul (mencukur rambut). Selama kita sudah niat berhihram dan niat umroh, kita tidak diperkenankan melanggar aturannya, misalnya kita dilarang membuka aurat, bagi laki-laki dilarang menggunakan pakairan berjahit dan hanya menggunakan kain ihram saja, dilarang membunuh hewan, memakai wewangian, berpikiran mesum, berkata kotor, bertengkar, melakukan hubungan suami-istri, tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan, dan lain-lain. Jika kita melanggar, kita diwajibkan membayar dam (denda) tergantung dari kesalahannya, ada yang membayar sejumlah uang, hingga ada yang harus menyembelih kambing atau unta. Selanjutnya, berhenti untuk solat maghrib dan isya di mesjid rest area menuju ke Mekkah sekitar jam  setengah delapan malam. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan. Di perjalanan menuju Mekkah selanjutnya saya hanya tertidur di dalam bus, selain agak cape juga untuk menghemat energi ketika melaksanakan umroh.
            Lagi-lagi saya terbangunkan oleh suara mikrophone dari Pak Ustadz yang mengatakan kita sudah hampir sampai ke hotel, disitu terlihat menara jam Abraj al Bait yang terkenal itu, mendadak mata saya tidak mengantuk lagi. Beberapa menit kemudian saya sampai juga ke hotel. Selama di Mekkah ini saya menginap di Hotel Fajr Al Badie, letaknya sekitar 500 – 550 meter (mungkin) dari Masjidil Haram yang pasti cukup ngos-ngosan buat saya untuk jalan kesana, tetapi alhamdulilah saya gak sampe sakit kaki ataupun pegal-pegal, memang Allah memberi kemudahan untuk saya (yang saya rasakan) dalam ibadah sampai sejauh ini. 

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

           

(Foto Abraj Al Bait – Clock Tower)



(Hotel Fajr Al Badie Makkah – Foto dari google)

            Kami semua sampai di hotel sekitar pukul 22.30, setelah itu kami langsung masuk ke kamar masing-masing untuk menyimpan barang dan berwudhu dulu sebelum melaksanakan rukun umroh berikutnya. Jam 23.00 kami berkumpul di lobby hotel untuk sama-sama berangkat ke Masjidil Haram. Setelah semuanya dikira sudah berkumpul, kami semua berjalan bersama membuat barisan menuju ke masjid, hal ini dilakukan supaya jamaah umroh Panghegar tidak tercerai berai, agar barisannya tidak terputus juga. Setelah berjalan bersama-sama akhirnya saya sampai di gerbang Masjidil Haram, tepatnya masuk melalui King Fahd Gate no. 88. Pintu tersebut selanjutnya menjadi patokan kami kalau-kalau tersasar. Hal yang ada di benak saya saat itu adalah percaya tidak percaya bisa sampai juga di Masjidil Haram.  Selanjutnya kami masuk ke area dalam masjid. Masjid yang megah, kokoh, bersejarah, ahh pokoknya wah.
            Beberapa saat kemudian,ketika saya sedang menatap ke depan, ka’bah makin terlihat jelas di hadapan saya. Subhanallah. Itu yang pertama kali terucap. Kokoh dan Megah. Ya, rumah Allah sekarang ada di hadapan saya. Mata saya terpana melihat ka’bah. Perasaan syukur, haru, dan bahagia bisa berkunjung ke baitullah memenuhi hati ini. Allah yang maha agung terima kasih telah mengundang saya untuk berkunjung ke tanahMu. Tempat yang begitu dibanggakan dan diagungkan oleh seluruh muslim di penjuru dunia ini. Sungguh beruntung dan nikmat yang tak terkira bisa kesana.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

            Sambil berjalan mendekat ka’bah untuk melakukan thawaf, mata saya tertuju pada ka’bah. Benar-benar mempesona. Merinding, percaya tidak percaya sekarang ka’bah ada di hadapan mata. Menurut instruksi dari Pak Ustadz, kami diharuskan fokus dahulu untuk melakukan tawaf, jangan dulu memegang ka’bah agar kita bisa fokus melaksanakan rukun umroh. Kami pun bersama-sama melakukan thawaf sebanyak 7 keliling dimulai dari Hajar aswad dan berakhir di situ pula, batasnya adalah lampu hijau.



(Thawaf – gambar dari google)

Setelah selesai melaksanakan thawaf, kami langsung menuju ke area sa’i. Sa’i adalah berjalan dari bukit  safa ke bukit marwah dan sebaliknya  sebanyak tujuh kali dan berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke bukit Safa dihitung satu kali. Jarak dari bukit safa ke bukit marwah kurang lebih 450 meter. Kalau di total, sekali melakukan sa’i berarti kita berjalan 7 kali x 450 meter. Hasilnya 3150 meter. Oia, bagi laki-laki disunahkan untuk berlari-lari kecil di batas yang ada lampu hijaunya. Lumayan juga kan, tapi Allah memudahkan saya dalam melaksanakannya. Alhamdulillah. Tidak sampai sakit dan pegal-pegal.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)



(Sa’i – foto dari google. Saya tidak sempat memfoto disitu)

Selesai melakukan sa’i kami berkumpul di bukit marwah untuk melaksanakan tahalul. Tahalul yaitu merupakan rukun umroh sehingga harus dilaksanakan. Tahalul adalah memotong rambut minimal 3 helai sebagai tanda bahwa telah diakhirinya umroh. Bagi laki-laki, disunahkan untuk memotong rambut hingga gundul. Ketika proses tahalul selesai, maka artinya kita sudah bebas dari larangan-larangan yang berlaku ketika menggunakan ihram. Kita juga melakukan shalat sunah di dekat area thawaf ketika selesai melaksanakan umroh. Waktu menunjukkan pukul 02.45 WAS. Kita beristirahat di Masjidil Haram sambil menunggu waktu subuh. Sebelum waktu subuh, kita sama-sama melakukan shalat tahajjud dulu. Ketika tiba saatnya waktu subuh, saya merasa tubuh ini merinding. Ini adalah kali pertama saya melakukan shalat fardhu di Masjidil Haram berjamaah dengan seluruh jamaah dari seluruh dunia. Inipun kali pertama saya shalat di dekat ka’bah, berarti saf depan di seluruh dunia. Allahu Akbar. Pagi itu saya merasakan kenikmatan shalat yang amat sangat, karena jujur saja saya sebelumnya kadang suka bolong-bolong dalam melaksanakan shalat, tapi disini saya merasakan kenikmatan shalat sehingga muncul tekad dalam diri saya untuk lebih rajin dan belajar lebih khusyuk lagi dalam shalat. Usai melaksanakan shalat subuh kami semua kembali ke hotel.

20 Desember 2014
            Hari ini menurut agenda acaranya bebas, tetapi lebih banyak berdiam dan ibadah sunah di masjid. Rencananya, kami akan kembali ke masjid ketika waktu shalat dhuha tetapi rencana tinggal rencana. Seperti diketahui, selepas shalat subuh tadi kami semua kembali ke hotel untuk beristirahat karena malamnya baru melaksanakan umroh. Sewaktu akan ke masjid, saya lihat teman-teman sekamar semuanya masih tidur. Fokus saya tentunya kepada nenek saya. Setelah melaksanakan umroh semalam, nenek saya memang agak “rewel” karena kecapean. Kondisi badannya agak nge-drop juga, cukup khawatir saya saat itu. Kadang tidak sabaran juga ketika melakukan sesuatu. Faktor usia mungkin yang melatarbelakanginya. Mungkin ini sebagai ujian kesabaran juga untuk saya dalam menjaga nenek saya. Tapi saya ikhlas dan alhamdulillah semuanya masih terbilang lancar. Pada waktu-waktu shalat, saya ke masjid bersama dengan ibu-ibu teman sekamar. Khusus hari ini, nenek saya ditinggal di kamar sendirian. Agak nggak tega juga meninggalkannya sendiri, tapi keinginan saya untuk ke masjid juga besar, mumpung di sini, karena kita tidak tahu kapan akan ke Mekkah lagi. Untungnya, nenek saya bersedia ditinggal sendirian di kamar. Biarlah ema (begitu saya memanggilnya) istirahat di kamar untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.
            Begitu selesai shalat dzuhur, saya kembali ke hotel karena khawatir kalau meninggalkan ema terlalu lama.  Sampai kamar, saya lihat ema sedang makan di kamar, kondisinya membaik tetapi katanya pegal pada kakinya dan digosokanlah minyak tawon andalannya. Pukul 14.00 saya kembali ke masjid, lagi-lagi nenek saya ditinggal di kamar. Saya pergi berdua bersama dengan ibu Sri, teman sekamar saya. Karena waktu shalat ashar masih lumayan lama, kami melakukan thawaf sunnah. Saya lihat kondisi siang itu cukup padat untuk melakukan thawaf.


(Foto sesaat sebelum thawaf sunnah)

Melihat kondisi tempat thawaf yang begitu penuh, rasanya sulit sekali untuk memegang ka’bah. Padahal, saya sangat ingin sekali memegang dan mencium ka’bah. Kemudian saya langsung melakukan thawaf sambil berjalan mendekat menuju ka’bah. Alhamdulillah, tanpa hambatan saya langsung menemukan space kosong untuk dapat memegang ka’bah, padahal saat itu suasananya sedang penuh sekali. Allah memudahkan saya untuk memegang dan mencium ka’bah. Saya langsung cium ka’bah. Wangi sekali, sampai sekarangpun saya sangat mengingat wangi ka’bah itu. Sambil mencium dan memegang ka’bah saya panjatkan segala doa dan utamanya saya bersyukur atas segala yang telah Allah berikan untuk saya sampai saat ini. Ada sekitar 5 menit saya mencium ka’bah, selanjutnya mulai terasa penuh oleh orang-orang. Mungkin, saya tidak boleh egois berlama-lama berdiri di situ karena banyak sekali orang-orang yang berebut disitu. Lagi-lagi saya ingat surat Ar-Rahman. Nikmat mana lagi yang saya dustakan.

Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan
Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan (Q.S Ar-Rahman)

Setelah menyelesaikan thawaf sunnah itu, saya menunggu waktu shalat ashar di masjid dan kembali lagi ke hotel. Sebelum masuk kamar, saya sempatkan dulu untuk sedikit membeli souvenir di toko sekitar hotel dan kebab karena lapar. Sebenarnya, di hotel sudah disediakan makan sih tetapi entah mengapa saya kurang selera sama rasanya. Jadilah saya jajan kebab seharga 4 real yang kemudian saya beli lagi dan lagi karena enyaak. Beda sama kebab di Indonesia yang full sayur dan dagingnya hanya beberapa lembar. Kalau kebab disana full daging, sayurnya tidak terlalu banyak.
            Rencananya, saya akan kembali ke masjid sebelum shalat magrib, ternyata nenek saya ingin ikut ke masjid. Jadilah saya ke masjid bersama dengan nenek saya. Kami di masjid sampai waktunya selesai shalat isya. Pulang dari masjid, ternyata nenek saya sudah berniat untuk belanja membeli tambahan oleh-oleh untuk anak dan cucunya serta untuk saudara lainnya. Cukup banyak juga yang dibelanjakan dan yang pasti membuat koper makin penuh. Hari itu selesai juga, setelah kembali ke hotel kami lebih banyak beristirahat dan menyiapkan untuk agenda esok hari. Lanjut lagi di Umroh Part 4 ya. Ngantuk, hehehe...