Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 10 Desember 2016

BAHAGIAKU ADALAH BAHAGIA KALIAN

Pertama-tama saya ingin sharing tentang pengalaman saya dalam berbagi kepada sesama. Tujuannya bukan untuk pamer bahwa saya bisa memberi sesuatu. Sama sekali bukan untuk itu, naudzubillahi min dzalik, semoga saya dijauhkan dari sifat seperti itu. Hal yang saya soroti disini adalah tentang kisah 3 orang anak (true story) dalam kehidupannya yang menurut saya sulit.
            Namanya Rifaldi (10 tahun), Raju (6 tahun), dan Rizal (3 tahun). Mereka tinggal di Banjaran, daerah Bandung Selatan. Saya sudah mengetahui tentang cerita tentang mereka kurang lebih tiga atau empat bulan yang lalu. Itu saya dengar dari om (adik ibu) saya. Om saya sudah mengenal mereka terlebih dahulu dibandingkan saya. Pernah suatu ketika, om ini memperlihatkan foto pada saya setelah  ketiga anak ini dibelikan pakaian baru. Saat itu saya hanya sekilas melihatnya dan selanjutnya lupa. Saya tidak pernah mengetahui dari mana om mengenal mereka, yang jelas sebelumnya si-om ini tidak mengenal mereka. Dengan mencari-cari alamatnya, akhirnya dapat dan rutin mengunjungi mereka hanya untuk menengok keadaan mereka dan keluarganya dengan membawa sedikit bahan makanan.
            Singkat cerita, saat itu saya sedang bersama om, tiba-tiba dia berkata bahwa ketiga anak tersebut masuk TV di acara Survivor channel TransTV yang dipandu oleh Ruben Onsu dan Papam. Seketika saya langsung ingat dengan mereka, selama ini saya hanya mengetahui ceritanya sekilas saja. Kemudian saya coba ulangi siaran acara Survivor tersebut dan menontonnya bersama dengan keluarga. Di dalam hati saya merasa iba dengan ketiga anak tersebut akan kondisi keluarganya. Tiba-tiba saja tercetus ide untuk mengunjunginya pada weekend itu. Saat itu, saya mengutarakan niat pada om untuk mengantarkan ke rumahnya.




(Mereka bersama Ruben – sumber Instagram Ruben Onsu)

            Minggu, 13 November 2016, saya, ibu, bapak, dan adik sepupu saya menuju ke rumahnya. Kami transit di rumah uwa (kakaknya ibu) dan janjian dengan om saya yang datang bersama anak sulungnya. Kamipun langsung menuju ke rumahnya. Saya dan keluarga mengendarai mobil, sedangkan om bersama anaknya mengendarai motor. Lama juga untuk sampai ke rumahnya, saya kira tidak sejauh itu. Untuk menuju ke rumahnya, melewati medan yang lumayan. Sebenarnya kondisi jalanan tidak terlalu jelek, tetapi untuk sampai ke rumahnya harus melewati jalan yang menanjak dan sempit. Jika ada kendaraan dari arah yang berlawanan, salah satunya harus mengalah. Niatnya, saat itu kami ingin mengajak mereka ke tempat rekreasi terdekat. Akhirnya niat itu diurungkan karena melihat kondisi jalan dan cuaca.
            Kamipun sampai di rumahnya, rumahnya panggung, berdinding bilik, tidak ada kamar, hanya ada satu ruang yang pinggirnya disekat untuk dapur. Selebihnya, ruang keluarga yang setiap malam berubah menjadi ruang tidur. Di dindingnya, tergantung tas sekolah mereka. Di pojok ruangan ada kasur lipat dan bantal juga setumpuk pakaian. Tiba disana, kami disambut oleh Pak Maman, ia adalah ayah dari ketiga anak itu. Ramah sekali itulah kesan saya ketika pertama berjumpa dengan mereka. Saat itu hanya ada si bungsu Rizal yang sedang bersama ayahnya. Kemudian ibunya keluar dari dapur. Ramah juga saya lihat, saat itu kondisi ibunya dalam keadaan normal. Seperti yang saya lihat kisahnya di televisi dan berdasarkan cerita dari om saya, ibunya mengalami gangguan jiwa tetapi ‘kumat-kumatan’. Jika sedang kumat, katanya suka bicara nyerocos tidak karuan atau malah mengganggu orang. Jika sedang normal seperti ketika saya bertemu dengannya, orangnya baik kok, ada basa basinya seperti menawarkan minum atau berkata seperti ini, ”Punten, bumina acak-acakan kieu”. Berbeda dengan ibunya, kondisi ayahnya dalam keadaan sakit. Sakit dalam arti tangan yang berfungsi hanya sebelah kiri. Tangan sebelah kanannya seperti orang terkena penyakit stroke. Padahal menurut cerita, tangannya bisa seperti itu karena terjatuh dari munding (kerbau) saat sedang menggembala.
            Saat kami masuk, kami langsung menyerahkan sedikit oleh-oleh yang dibawa. Kami memang sengaja mengumpulkan baju layak pakai untuk diberikan pada mereka. Sebelum sampai ke rumahnya juga saya sengaja mampir ke supermarket untuk membeli makanan kebutuhan mereka seperti mi instan, minyak goreng, terigu, dan telur. Tidak lupa saya belikan makanan-makanan ringan untuk anak-anak tersebut, snack, susu kotak, dan aneka biskuit. Si kecil Rizal memperhatikan kami. Kemudian, Raju datang dan sang ayah menyuruhnya untuk mencari kakaknya, Rifal, yang sedang bermain. Sekitar lima menit kemudian, Raju datang bersama dengan Rifal. Mereka masuk ke rumah dan salam dengan kami semua. Obrolan dibuka oleh ayah dan ibu saya kepada Pak Maman dan istrinya. Istrinya memang tidak terlalu banyak bicara. Sambil sesekali menimpali obrolan para orang tua, saya memperhatikan anak-anak itu. Mereka terdiam. Saya membuka komunikasi dengan mereka.
“Sok atuh, ini makanannya dibuka. Mau ciki atau mau susu?”
Tidak ada jawaban dari mereka. Mereka terlihat malu-malu. Tetapi dari wajahnya saya lihat mereka ingin makan makanan yang saya bawa. Lalu ibu mereka menawarkan pada Rizal, “Hoyong?” Rizal membawa snack dan ibunya melanjutkan obrolan dengan kedua orang tua saya.
Melihat Rizal hanya memegang snack, saya tawarkan padanya untuk membukakan. “Sini, mau dibuka nggak? Dibukain sama teteh.” Rizal kemudian menyerahkan padaku untuk dibukakan. Setelah snacknya dibuka, dengan fokus dia makan sampai habis.


(Rizal sedang Fokus Makan Snack – Foto dokumentasi pribadi)

            Saya ingin sekali merangkul mereka. Merangkul dalam arti mendekatkan diri pada mereka. Kami memang belum saling mengenal tetapi entah mengapa saya sayang sekali dengan mereka, karena pada dasarnya saya menyukai anak kecil dan saya memang berniat untuk dekat dengan mereka. Saya ingin menjadikan ketiga anak tersebut sebagai adik asuh. Misi untuk dekat dengan mereka dengan modus menawarkan makanan sepertinya belum terlalu berhasil, saya ingin lebih dekat dengan mereka. Sambil mereka makan snack, saya rekam mereka dengan HP saya. Tidak bosan memandang mereka. Tiba-tiba si bungsu Rizal berkata, “Mamah beak (habis) cikina.” Ibunya hanya diam. Dari hadapan Rizal, saya perlihatkan hasil rekaman HP saya kepada mereka, “Ini siapa hayoo?” kata saya. Sepertinya Rizal dan Raju tertarik dan mulai agak mendekat kepada saya. Rifal juga tertarik, dia hanya senyum-senyum dari jauh, sepertinya dia malu. Lalu ini kesempatan saya untuk mengajak mereka ber-selfie ria.
“Aa Rifal, Raju, sini deket teteh. Kita selfie.” Mereka berdua mendekat. Rizal memang sudah duduk di sebelah saya sejak tadi. Anak kecil, masih cuek. Saya jadi antusias sendiri untuk selfie. Mereka sih sebenarnya juga antusias. Cuma masih malu-malu.
Cekrek. cekrek. cekrek. Beberapa foto berhasil diambil. Akhirnya mereka agak lebih dekat dan mencair.


(Akhirnya bisa ber-selfie dengan mereka J )

            Tidak lama kemudian, kami mengobrol seputar kesan-kesan mereka syuting acara Survivor Trans TV. Pak Maman antusias menceritakan Papam yang jatuh di kebun singkong.
“Eta si Papam labuh di kebon. Rek dibantuan ngangkat teh beurat.” diiringi dengan tawa kami semua.
            Dari obrolan kami, diketahui bahwa Pak Maman mendapatkan upah dari menjaga sawah. Upahnya 10 ribu rupiah sehari. Itupun jika ada yang memintanya untuk menjaga sawah. Jika tidak, ya tidak ada pemasukan. Disitu saya berpikir bahwa diri saya sendiri yang sudah memiliki penghasilan tetap kadang-kadang masih lupa untuk bersyukur. Saya sadar, hal itu dikarenakan oleh nafsu dan sifat manusia (khusunya saya) yang tidak pernah merasa puas karena selalu melihat ke atas. Jika seperti itu jelaslah tidak pernah puas karena seperti pepatah Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau benar adanya. Tetapi jika saya melihat ke bawah, rasa syukur memang wajib di panjatkan karena kita lebih beruntung berkali-kali lipat dibandingkan dengan mereka. Dengan keadaan inipun kita masih sering mengeluhkannya. Padahal mungkin, hidup yang kita keluhkan adalah hidup yang orang lain inginkan.
            Kembali ke cerita anak-anak tersebut, jika saya lihat kondisi ekonomi dan rumahnya jauh dari kata layak. Untuk memasak, mereka harus menggunakan kayu bakar. Atap rumah banyak yang bocor. Tidak ada kamar mandi di rumah mereka. Saat itu pula, om saya bertemu dan mengadakan rapat dengan Pak RT (dan meninggalkan kami) untuk rapat karena akan membuatkan MCK, karena bagaimanapun air adalah sesuatu yang vital bagi kehidupan mereka. Untuk listrik, setiap bulan mereka harus membayar tiga puluh ribu rupiah kepada tetangga yang ditumpangi listriknya. Ingin sekali rasanya membantu mereka.
            Tidak terasa, sudah cukup lama kami berada di rumahnya. Saat itu saya bertanya pada anak-anak.
“Aa (Rifal), Raju, & Rizal tos pernah ka Kebon Binatang teu acan?”
Mereka menggelengkan kepala.
“Nanti pas libur sekolah ku teteh di jemput nya, kita ke Kebun Binatang. Mau nggak?”
Mereka mengangguk tersenyum dan terlihat antusias.
            Saat itu saya bertekad untuk mewujudkan keinginan mereka dan ingin membawa mereka berjalan-jalan keliling Bandung. Menyisihkan sedikit uang jajan saya untuk mereka tidak membuat saya keberatan. Justru tekad untuk memberi lebih banyak semakin besar. Demi mereka. Kamipun pamit pulang dan berjanji untuk bertemu ketika liburan sekolah nanti. Sebelum keluar rumah, kami minta berfoto bersama dengan mereka sekeluarga.



(Saya dan Keluarga Anak-anak)

            Mereka mengantarkan kami keluar rumah. Tiba-tiba saya teringat bahwa telur yang akan diberikan pada mereka tertinggal di dalam mobil. Ketiga anak tersebut saya minta ikut ke lapangan depan gang rumah mereka untuk mengambil telur. Saat itu saya ingin peluk mereka tetapi tidak jadi. Hehe. Akhirnya saya minta mereka untuk ber-selfie sekali lagi sebelum akhirnya kami benar-benar pulang. Kamipun pulang. Di dalam hati saya bergumam, “Semoga suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan mereka dan bertekad ingin membuat mereka tersenyum bahagia.” Sejak saat itu pula saya memutuskan untuk menjadi kakak asuh bagi mereka bertiga.


(Selfie dulu sebelum pulang)

            Hikmah bagi saya pribadi adalah dengan melihat sendiri kondisi mereka yang seperti itu, membuat mata saya terbuka. Sejak itu mereka selalu menjadi inspirasi bagi saya dan sebisa mungkin dapat memberi kebahagiaan walau sedikit kepada mereka. Membuat mereka senang bisa memberi kebahagiaan bagi saya. Nilainya berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan dengan kesenangan pribadi saya sendiri jika mengikuti nafsu manusia. Saya merasa hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan senyum dan kebahagiaan mereka. Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi saya pribadi agar bisa peduli dan terus membantu sesama.
            Mungkin saat ini baru mereka yang bisa saya bantu, semoga suatu saat saya bisa membantu lebih banyak orang yang membutuhkan. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud riya. Tulisan ini menjadi self reminder bagi saya pribadi agar tidak selalu melihat ke atas. Tapi agar selalu menunduk melihat kebawah. Belajar peduli dengan orang-orang yang kurang beruntung. Memberi dan berbagi kepada sesama tidak akan membuat kita menjadi miskin. Saya sangat meyakini itu. Jika boleh saya mengutip salah satu ayat Al-Quran “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 261) 
            Semoga sedikit pengalaman saya ini bisa menjadi inspirasi bahwa masih banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita. Mari kita saling membantu dengan orang yang lebih membutuhkan. J


-SEKIAN-

Ini Link YouTube Kisah Mereka di Acara Survivor TransTV

part 1
part 2
part 3
part 4





Jumat, 09 Desember 2016

KETIKA GAIRAH MENULIS(KU) MUNCUL LAGI

            Saya adalah orang yang suka menulis (sebenarnya). Tulisannya lebih ke prosa atau karangan bebas. Pengalaman-pengalaman yang saya lalui biasanya menjadi materi tulisan saya. Saya bukan ahli sastra atau Bahasa Indonesia yang baik, tetapi saya berusaha untuk menulis dengan baik (sambil belajar). Biasanya ketika saya mempunyai waktu luang atau ketika tiba-tiba ada sekilas inspirasi, akan saya tuangkan melalui tulisan. Saya orang yang moody. Ketika inspirasi ini muncul didukung dengan kondisi tubuh yang fit (tidak sedang capek) kemudian ketika laptop dekat dari pandangan, saat itulah saya mencurahkan isi pikiran saya pada sebuah tulisan. Jika tidak, ya tidak akan ada tulisan apapun. Contoh kecilnya adalah blog ini yang sudah saya buat cukup lama, antara tahun 2010 atau 2011. Malah kadang saya lupa kalau punya blog.

            Tujuan saya menulis sebenarnya bukan untuk pamer pengalaman.  Awalnya hanya untuk konsumsi saya pribadi saja, atau bahasa lain-nya yaitu mendokumentasikan pengalaman saja. Jadi, ketika suatu saat saya sudah jadi seorang ibu atau bahkan nenek atau mungkin jika saya sudah meninggal, tulisan di blog ini bisa dibaca oleh anak cucu saya, mengingat sekarang zaman dengan teknologi digital, tidak perlu menulis di buku diary. Lebih jauh, blog dapat di akses oleh siapa saja di seluruh dunia. Informasi-informasi yang saya tulis mudah-mudahan dapat memberikan inspirasi bagi orang lain yang membacanya. Syukur-syukur dapat terbantu akan infomasi yang terkandung di dalamnya. Sempat vakum, lalu aktif, lalu vakum, lalu aktif lagi. Itulah tren saya di dunia per-blog-an ini. Inginnya sih selalu bisa menulis. Paling tidak sebulan 2 tulisan. Tapi melihat aktivitas pekerjaan jadi tidak sempat untuk menulis. Bukan sok sibuk atau jadi orang sok penting, tapi itulah manusia (saya). Ada ketidakstabilan dalam diri setiap orang. Suasana hati! Itulah mengapa blog saya hidup mati hidup mati.

 
(gambar dari google)

            Satu hal lagi yang membuat gairah menulis saya kembali muncul adalah dengan membaca tulisan orang lain. Entah itu tulisan di blog lain, koran, berita online, atau apapun itu. Saya juga cukup gemar membaca. Setelah membaca, kadang saya selalu ingin berkomentar. Komentar itu biasanya muncul ketika hal yang saya baca bertentangan dengan pikiran saya (baca : kontra). Untuk mencurahkan pikiran yang berkecamuk tersebut, saya biasanya menulis untuk diri saya sendiri. Saya tidak ingin asal berkomentar, apalagi di sosial media. Nanti bisa-bisa terjerat undang-undang ITE. Kalaupun berkomentar di sosial media saya mencoba mengemasnya dalam bentuk bahasa yang halus, yang tetap menjaga kondusivitas, mendamaikan, dan yang terpenting tidak dengan bahasa yang provokatif. Karena yang saya amati (bukan sok-sok-an) pengamat ya. Situasi Indonesia saat ini (yang menurut saya agak kacau) ya karena peran media. Media sendiri tidak bisa dibendung. Sedikit-sedikit jadi viral. Efeknya dahsyat. Jadi berhati-hatilah.

            Tulisan ini hanyalah buah pikiran saya yang dicurahkan lewat sedikit karangan bebas yang suka-suka (apa sih?!)


Kamis, 17 November 2016

TULUS, Setulus Aku Mengidolakanmu

(Apa banget lah judulnya.. Hahahha..)

                Saya bukanlah seseorang yang hobi banget sama musik. Bukan juga orang yang ngefans banget sama penyanyi-penyanyi masa kini. Bisa dihitung dengan jari lah siapa saja penyanyi yang saya suka. Khusus penyanyi Indonesia, saya cukup ngefans sama Afgan (pada waktu itu) dan saya bingung siapa lagi karena rasa-rasanya gak ada lagi. Saya juga pernah ngefans sama salah satu boyband dari Irlandia tahun 2001 sampai akhirnya si boyband itu bubar. Siapa lagi kalau bukan westlife. Iya, dulu kalau ada sesuatu yang bernuansa westlife, pasti dibeli dan dikoleksi. Tapi gak sempet juga untuk nonton konsernya walau sudah diadakan beberapa kali di Indonesia.



(foto westlife - sumber google)

                Tidak ada kriteria khusus bagi saya untuk menyukai atau ngefans sama penyanyi-penyanyi Indonesia. Khusus penyanyi Indonesia, saya rasa terbatas. Entah karena selera musik saya atau karena hal lain. Satu hal yang pasti, saya adalah penikmat musik. Musik yang membuat nyaman di telinga. Bisa juga musik yang liriknya itu dalem. Kadang lirik yang dalem itu identik dengan lagu galau. Sebenernya nggak juga sih, yang pasti gak harus selalu tentang lagu cinta. Kalau untuk aliran musik Rock, jauh-jauh deh dari telinga saya, gak nerima soalnya ini kuping. Hehehe.

            Ceritanya bermula dari sini, saya orang yang lumayan aktif di sosial media. Path salah satunya, saya lumayan sering lihat teman di path yang posting sedang mendengarkan lagu TULUS. Entah itu judulnya Sewindu, Diorama, Sepatu, Gajah, atau Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Lama-lama saya dengerin juga itu lagu, ternyata memang lagunya sesuai dengan selera saya. Pas saya dengerin liriknya, bagus juga. Jadilah saat itu saya mulai suka lagu-lagu Tulus tanpa tahu siapa itu Tulus, orangnya yang mana, atau video klipnya seperti apa. Sama sekali nggak penasaran. Tapi akhirnya saya lihat juga di internet, ‘’oh, Tulus yang itu’’ hanya sekedar tahu saja orangnya. Padahal dulu kalau di acara kampus suka manggung.



(Tulus – sumber google)

                Menjelang dirilisnya album Tulus yang (Rilis album ketiga 3 Agustus), di sosial media, ramai diberitakan Tulus akan Pamit. Entah pamit dari apa juga, yang pasti saya pikir akan sangat sayang sekali kalau Tulus harus ‘resign’ atau berhenti dari karier musiknya. Mana saya suka banget sama lagu-lagunya lagi. Seakan tidak rela kalau Tulus harus benar-benar pamit. Dari situlah muncul kepenasaranan saya. Saya mulai googling semua hal tentang Tulus. Lama kelamaan, kesibukan saya membuat saya lupa akan pamitnya Tulus itu. Sempat seminggu lebih saya gak sempet cari info tentang Tulus itu. Ya sudah, tanggal 3 itu terlewat begitu saja. Setelah saya agak santai dari dunia pekerjaan, saya googling lagi dan “ohh, ternyata pamit itu adalah lagu baru Tulus” yang sebenernya sudah mulai wara-wiri di radio sejak bulan Februari 2016. Saya sering banget denger lagu itu tapi lagi-lagi tidak tahu siapa yang menyanyikannya dan gak tahu judulnya apa. Dodol sih emang :D Yap! Lagunya Tulus dan langsung penasaran pengen tahu album ketiganya Tulus.

                Dari situ makin ngefans-lah saya sama Tulus dan lagu-lagunya tentunya. Sampai-sampai playlist saya kalau lagi di rumah itu ya lagu Tulus dari album ke-1 sampai ke-3. Keluarga saya mungkin sampai bosan mendengarnya. Teruslah saya dengarkan lagu Tulus sampai ibu saya juga ikut senang mendengarkan lagu Tulus. Suatu hari, saya sedang buka web situstulus.com dan melihat-lihat agenda Tulus. Oalaaa, ada agenda Tulus di Bandung. Tanggal 14 Oktober 2016, jam 19.00. Tempatnya di Saka Bistro, Jl. Karang Sari, yang artinya dekat banget dari rumah saya. Naik motor 5 menit sampai. Tempatnya di cafe pula, dan itu berpotensi untuk konser yang agak privat, mengingat saya tahu bahwa Saka Bistro itu ya luasnya segitu. Saya cuma berpikir “pengen nonton”. Tapi sudahlah saya lihat agenda pekerjaan dulu karena tanggal 12-14 Oktober kebetulan saya harus ke Gunung Manglayang untuk mengawasi kegiatan latihan siswa kelas X di sekolah, sembari tetap cari info untuk yang di Saka Bistro itu. Didapatlah info bahwa harga tiketnya Rp. 350.000,- include makanan. Waduh mahal juga pikir saya.

                Saya utarakan niat saya pada ibu dan bapak untuk nonton Tulus dan mereka bilang, “ya nonton aja Teh, mumpung deket” tapi masa iya saya nonton sendirian, ga asik banget. Yasudah, saya sempet lupa 2 atau 3 hari tentang konser Tulus itu. Kesibukan membuat lupa akan keinginan nonton konser. Siang hari, di kantor, saya sedang agak jenuh. Saya mulai nge-chat sahabat saya dan saya ajak untuk nonton Tulus. Ternyata dia tidak suka musik Tulus. Seleranya malah dangdut. Yasudah, tak apa, saya tak bisa paksa juga kan? Kemudian, saya ajak sahabat saya satu lagi untuk nonton Tulus. Alhamdulillah, dia juga mau nonton Tulus dan YES, ADA TEMEN!

                Saat itu jam 11 siang, saya telepon Saka Bistro dan katanya tiket sangat terbatas. Niatnya, pulang kantor hari itu juga saya mau mampir ke Saka untuk beli tiket. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan, sore itu cuaca di kantor hujan besar. Jarak kurang lebih 18 km dari kantor menuju Saka bistro sangat tidak memungkinkan untuk cepat-cepat menuju ke sana. Ide-pun muncul, saya langsung kontak adik saya yang sore itu memang tugasnya untuk menjemput Bapak dari kantor. Saya suruh dia untuk beli tiket Tulus ke saka bistro. Alhamdulillah, dia menyanggupi (padahal biasanya susah disuruh, hahaha).

                Ternyata eh ternyata, yang membeli tiket Tulus adalah ayah dan ibu saya. Hippiii. Saat saya akan pulang dari kantor, Ibu menelepon saya. “Teh, tiket Tulus udah ibu beli. Tadi dapet 2 tempat terakhir di section 3.” Yang penting sih dapat, tempat tidak masalah. Hehe. Tidak lama saya sampai di rumah, ada WA masuk dari staf Saka Bistro menginformasikan letak kursi yang saya dapat. Selanjutnya akan diinformasikan pilihan menu makanan ketika hari-H. Saat itu, makanan menjadi tidak penting buat saya. Makanan apapun yang disajikan bolehlah. Tujuannya kan bukan makan, tapi nonton Tulus. Hehe. Saya dan sahabat saya girang banget udah dapet tiket nonton Tulus. Chat-chatan tiap hari isinya cuma menghitung mundur ke tanggal pelaksanaan event tersebut.
               

 

(tiket Tulus)

              Jumat, 14 Oktober 2016 adalah waktu yang saya tunggu-tunggu sejak 2 minggu sebelumnya. Hari itu, jam 08.30 saya turun dari gunung Manglayang, langsung menuju kantor. Jam 09.30 siswa juga sudah sampai di sekolah, setelah melihat tradisi turun gunung saya buru-buru ke kantor dan makan. Ternyata ada urusan yang harus diselesaikan, baru pada pukul 14.00 saya bisa pulang dari kantor. Sesuai dengan rencana sebelumnya janjian dengan dia yang hari itu ada kuliah tambahan. Saya langsung menuju ke Unisba untuk menjemputnya, setelah itu kita langsung menuju ke rumah saya. Barang bawaan saya sangat banyak pada hari itu. Sampai di rumah kita istirahat sebentar dan curhat-curhat sebentar. Maklum, saat itu kita udah lama banget nggak ketemu. Ada mungkin 1 bulan, makanya sekalinya ketemu ya curcol.

              Sore itu, Bandung diguyur hujan. Jam 17.00 kita siap-siap mandi dan segala macemnya. Jam 18.15 kita menuju ke Saka Bistro, diantar oleh adik saya karena hujannya nggak berhenti-berhenti. Sampai di Saka Bistro kita langsung diarahkan ke meja tempat kita duduk. Pas masuk ngerasa sedikit agak norak juga sih. Ngeliat orang lain kayaknya rapih-rapih banget mau nonton konser, dandanannya gak jauh sama dandanan orang mau ke pesta, sedangkan kita agak-agak casual gitu. Pas duduk juga, meja kita udah dinamain siapa-siapa aja yang duduk disitu. Waktu melihat nama-nama di meja lain, kebanyakan adalah dokter. Waduh, ini orang-orang penting semua mungkin ya. Tapi ya sudah lah ya soalnya saya datang ke situ juga hanya untuk nonton Tulus, gak ada tujuan lain.

          Jam menunjukkan pukul 19.00, tapi tidak ada tanda-tanda acara akan dimulai, sebenarnya pukul 19.30 sudah didistribusikan makanan-makanan ke semua penonton. Pukul 20.00 muncullah band AGI (sebenernya gak tau band dari mana juga sih) yang pasti saya sama sekali tidak ingat lagu apa yang dinyanyikan band tersebut. Saat itu saya hanya fokus makan dan nunggu Tulus. Hahaha. Saat itu sudah dibagikan makanan penutup, kuenya lumayan menggiurkan sih. Waktu menunjukkan pukul 21.30 dan ketika baru 1 sendok nyuap itu kue. Jreng..jreng..jreng TULUS muncul. Antara percaya gak percaya. Ya Allah, Tulus. Seketika jadi gak fokus dan kue itu dibiarin begitu aja.


 

(TULUS – Performing at Saka Bistro)

               Awal-awal nyanyi Merdu Untukmu – Intro gitu dilanjut dengan lagu apalah saya lupa. Mata tetep fokus ngeliatin Tulus sembari nyanyi-nyanyi. Makanan udah nggak disentuh lagi deh. Lagu kedua juga udah. Tiba-tiba Tulus menyapa audience dan bilang ayo semangat dong, ikutan nyanyi intinya. Karena audience tetep duduk di bangku masing-masing. Pas mau mulai lagu ketiga, Tulus minta penonton untuk maju.  Saya dan sahabat saya maju langsung terdepan walaupun kita ada di kirinya panggung Tulus, tapi walau gitu kita tetap terdepan. Seneng banget lah pokonya. Sesekali Tulus menyapa penonton sisi kiri (ya kita-kita). Kita manggil-manggil Tulus deh sambil nyanyi-nyanyi. Tas, dompet, kita tinggal di kursi deh. Gak mikir takut hilang, yang penting ada di paling depan panggung Tulus deh. Suasana udah mulai cair, penonton ikut-ikut nyanyi termasuk kita juga.  Tulus mempersilahkan kita untuk kembali duduk ke kursi masing-masing dan jawaban kita TENTU GAK MAU. Posisinya udah strategis gini dong, walaupun ketutup sama seorang pemain bass nya.

            Suaranya Tulus itu enak banget menurut saya. Merdu dan soft. Pokonya sulit diungkapkan dengan kata-kata deh. Di depan, sambil nyanyi saya liatin lah itu Tulus, dilihat-lihat ganteng juga, posturnya tinggi besar, tinggi saya aja cuma sebahunya Tulus. Sesekali, Tulus mendekat ke arah kita dan dengan sigap ini HP foto-foto dia dong, mumpung deket. Geer banget pokonya ‘asa diliatin’ gitu. Sambil nyanyi, kita sodorin tangan untuk salaman sama Tulus. Tak diduga tangannya sahabat saya di pegang sama Tulus, aku juga ikutan deh, jadilah tangan kita berdua dipegang Tulus. Lumayan lama juga. Hahaha. Ceritanya ‘gak akan cuci tangan seminggu’ ahahhaa.


 

(Berhasil pegang tangan Tulus)

              Sebisa mungkin, ini HP gak lepas dari tangan. Begitu Tulus mendekat. Cekrek. Nyanyi dikit, video. Mendekat lagi, Cekrek. Alhasil banyak banget foto yang saya ambil pas lagi perform itu. Tapi sayang, di tengah asyiknya memotret dan merekam Tulus manggung itu, ada saja gangguan dari bbm, line, wa, voice call, sms, telepon, dan lain-lain sehingga videonya terputus-putus. Sampai dengan berakhirnya lagu-lagu yang dinyanyikan Tulus, kita berdua terbawa suasana juga. Seneng banget bisa nonton Tulus dan nggak nyangka bisa sedekat itu. Di acara ini, kurang lebih Tulus nyanyiin 10 lagu. Pas lagu terakhir dinyanyiin, yaaah. Waktu berlalu begitu cepat. Memang benar ya, kalau kita enjoy di suatu kegiatan pasti waktu itu berjalan begitu cepat, tidak terasa. Tulus pun pamit dan turun panggung. Pas dia turun panggung, saya masih sempat pegang tangannya lagi. Hahaha. Alay.


 

(Tuluuuus...Pas mau meninggalkan panggung)

               Setelah Tulus kembali ke backstage (yang sebenarnya hanya sebuah ruangan tertutup tirai di dekat tempat saya duduk), kita berdua kembali ke tempat duduk kita yang sebenarnya. Kemudian penonton-penonton lain juga bergegas pulang. Dasar kita ya, kegirangan nonton Tulus sampai sebelum pulang kita diem di depan backstage-nya Tulus. Kali aja Tulus nongol. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.10. Lalu ada teteh-teteh seorang dokter juga yang sama-sama ngefans Tulus dan nungguin di backstage itu. Kita semua manggil Tulus berharap bisa foto bareng. Tidak lama kemudian, eeeh Tulus-nya nongol dari balik tirai backstage itu dan menyapa kita-kita. Tidak banyak orang saat itu, mungkin hanya belasan orang. Asli ramah banget ini Tulus. Orangnya baik secara gitu dia masih mau nyapa kita-kita yang mungkin agak alay ini. Teteupp.


 

(Tulus nongol dari balik tirai menyapa kita semua)

            Tangan langsung cekatan fotoin Tulus. Abis itu siap-siap untuk selfie. Kita semua minta untuk selfie. Tapi sebelum selfie, Tulus bilang “Bentar...bentar.. Bilang haloo..” katanya sambil ketawa-ketawa. Ternyata dia sedang snapgram-an. Ada mungkin 2 kali snapgram. Abis itu Tulus meladeni kita-kita yang ingin selfie. Lumayan lama juga, ada mungkin 10 menit meladeni fansnya untuk selfie walau tidak teratur (maklum lah ya dasar fans). Tidak lama kemudian, Tulus masuk lagi ke backstage-nya dan disitu kita kenalan sama teteh-teteh yang dokter itu kemudian minta line-nya untuk saling bertukar foto dan video yang direkam di HP masing-masing selama konser. Saat itu ada sms masuk ke HP saya, ternyata Bapak saya sms “Teh dimana, Bapak di parkiran” oalah ternyata sudah di jemput oleh bapak dan adik saya. Langsung kami berdua menuju ke mobil dengan tampang super happy. Kurang lebih pukul 23.45 sampai ke rumah. Kebetulan malam itu sahabat saya menginap di rumah saya. Kami langsung ganti baju dan bersiap tidur.


 

(Selfie sama Tulus)

          Ternyata tidak tidur, masing-masing dari kami update dulu di sosmed masing-masing. Path dan instagram. Ketika melihat snapgram-nya Tulus, sahabat saya bilang “Teh, ada kita loh di snapgram-nya Tulus” langsung saya lihat snapgramnya dan putar berulang kali. Akhirnya dia berhasil meng-capture snapgram yang ada kitanya. Hahaha. Seneng banget, ini mah gak bakalan dihapus. Jadilah malam itu kita tidur sekitar jam 01.30 pagi gara-gara ngobrolin si Tulus. Sosmed kita dipenuhi oleh teman-teman yang iri karena kita bisa berfoto dan sangat dekat dengan Tulus. Tidur pun mimpinya indah. Lebay dikit gapapa ya.

 

(Kita muncul di snapgram-nya Tulus)


         Sampai beberapa hari setelah nonton Tulus itu, kita belum bisa move-on dari Tulus. Tapi sampai dengan hari ini, lagu-lagu Tulus selalu mengisi hari-hari kami. Baru kali ini (khususnya saya) ngefans sama penyanyi Indonesia sampai sebegininya. Hahaha. Kalau dikatain 4L4Y, agak alay emang. Tapi gak apa-apa lah sekali-kali ya. Pokoknya, kesan terhadap Tulus ya positif banget. Suaranya oke, ramah, baik hati, dll. Tentu ramah adalah modal utama seorang public figure ya. Karena saya sering banget ketemu dengan artis atau penyanyi lain yang mukanya judes banget, sok jual mahal juga. Mudah-mudahan Tulus selalu bisa untuk dekat dengan fans-nya dan berkarya lebih baik lagi.



(foto hasil karya teteh @fahdiyani86)


(Tulus - Pamit)


(Tulus - 1000 Tahun Lamanya)


Semoga suatu saat bisa nonton konsernya Tulus lagi. 😊😊😊