Pertama-tama saya ingin sharing
tentang pengalaman saya dalam berbagi kepada sesama. Tujuannya bukan untuk
pamer bahwa saya bisa memberi sesuatu. Sama sekali bukan untuk itu, naudzubillahi min dzalik, semoga saya
dijauhkan dari sifat seperti itu. Hal yang saya soroti disini adalah tentang
kisah 3 orang anak (true story) dalam kehidupannya yang menurut saya sulit.
Namanya
Rifaldi (10 tahun), Raju (6 tahun), dan Rizal (3 tahun). Mereka tinggal di
Banjaran, daerah Bandung Selatan. Saya sudah mengetahui tentang cerita tentang
mereka kurang lebih tiga atau empat bulan yang lalu. Itu saya dengar dari om (adik ibu) saya. Om saya sudah
mengenal mereka terlebih dahulu dibandingkan saya. Pernah suatu ketika, om ini
memperlihatkan foto pada saya setelah
ketiga anak ini dibelikan pakaian baru. Saat itu saya hanya sekilas
melihatnya dan selanjutnya lupa. Saya tidak pernah mengetahui dari mana om
mengenal mereka, yang jelas sebelumnya si-om ini tidak mengenal mereka. Dengan
mencari-cari alamatnya, akhirnya dapat dan rutin mengunjungi mereka hanya untuk
menengok keadaan mereka dan keluarganya dengan membawa sedikit bahan makanan.
Singkat
cerita, saat itu saya sedang bersama om, tiba-tiba dia berkata bahwa ketiga
anak tersebut masuk TV di acara Survivor channel TransTV yang dipandu oleh
Ruben Onsu dan Papam. Seketika saya langsung ingat dengan mereka, selama ini
saya hanya mengetahui ceritanya sekilas saja. Kemudian saya coba ulangi siaran
acara Survivor tersebut dan menontonnya bersama dengan keluarga. Di dalam hati
saya merasa iba dengan ketiga anak tersebut akan kondisi keluarganya. Tiba-tiba
saja tercetus ide untuk mengunjunginya pada weekend itu. Saat itu, saya
mengutarakan niat pada om untuk mengantarkan ke rumahnya.
(Mereka bersama Ruben – sumber Instagram
Ruben Onsu)
Minggu,
13 November 2016, saya, ibu, bapak, dan adik sepupu saya menuju ke rumahnya.
Kami transit di rumah uwa (kakaknya ibu) dan janjian dengan om saya yang datang
bersama anak sulungnya. Kamipun langsung menuju ke rumahnya. Saya dan keluarga
mengendarai mobil, sedangkan om bersama anaknya mengendarai motor. Lama juga
untuk sampai ke rumahnya, saya kira tidak sejauh itu. Untuk menuju ke rumahnya,
melewati medan yang lumayan. Sebenarnya kondisi jalanan tidak terlalu jelek,
tetapi untuk sampai ke rumahnya harus melewati jalan yang menanjak dan sempit.
Jika ada kendaraan dari arah yang berlawanan, salah satunya harus mengalah.
Niatnya, saat itu kami ingin mengajak mereka ke tempat rekreasi terdekat.
Akhirnya niat itu diurungkan karena melihat kondisi jalan dan cuaca.
Kamipun
sampai di rumahnya, rumahnya panggung, berdinding bilik, tidak ada kamar, hanya
ada satu ruang yang pinggirnya disekat untuk dapur. Selebihnya, ruang keluarga
yang setiap malam berubah menjadi ruang tidur. Di dindingnya, tergantung tas
sekolah mereka. Di pojok ruangan ada kasur lipat dan bantal juga setumpuk pakaian.
Tiba disana, kami disambut oleh Pak Maman, ia adalah ayah dari ketiga anak itu.
Ramah sekali itulah kesan saya ketika pertama berjumpa dengan mereka. Saat itu
hanya ada si bungsu Rizal yang sedang bersama ayahnya. Kemudian ibunya keluar
dari dapur. Ramah juga saya lihat, saat itu kondisi ibunya dalam keadaan
normal. Seperti yang saya lihat kisahnya di televisi dan berdasarkan cerita
dari om saya, ibunya mengalami gangguan jiwa tetapi ‘kumat-kumatan’. Jika
sedang kumat, katanya suka bicara nyerocos tidak karuan atau malah mengganggu
orang. Jika sedang normal seperti ketika saya bertemu dengannya, orangnya baik
kok, ada basa basinya seperti menawarkan minum atau berkata seperti ini, ”Punten,
bumina acak-acakan kieu”. Berbeda dengan ibunya, kondisi ayahnya dalam keadaan
sakit. Sakit dalam arti tangan yang berfungsi hanya sebelah kiri. Tangan
sebelah kanannya seperti orang terkena penyakit stroke. Padahal menurut cerita,
tangannya bisa seperti itu karena terjatuh dari munding (kerbau) saat sedang
menggembala.
Saat
kami masuk, kami langsung menyerahkan sedikit oleh-oleh yang dibawa. Kami
memang sengaja mengumpulkan baju layak pakai untuk diberikan pada mereka.
Sebelum sampai ke rumahnya juga saya sengaja mampir ke supermarket untuk
membeli makanan kebutuhan mereka seperti mi instan, minyak goreng, terigu, dan
telur. Tidak lupa saya belikan makanan-makanan ringan untuk anak-anak tersebut,
snack, susu kotak, dan aneka biskuit. Si kecil Rizal memperhatikan kami.
Kemudian, Raju datang dan sang ayah menyuruhnya untuk mencari kakaknya, Rifal,
yang sedang bermain. Sekitar lima menit kemudian, Raju datang bersama dengan
Rifal. Mereka masuk ke rumah dan salam dengan kami semua. Obrolan dibuka oleh
ayah dan ibu saya kepada Pak Maman dan istrinya. Istrinya memang tidak terlalu
banyak bicara. Sambil sesekali menimpali obrolan para orang tua, saya
memperhatikan anak-anak itu. Mereka terdiam. Saya membuka komunikasi dengan
mereka.
“Sok atuh, ini makanannya dibuka. Mau
ciki atau mau susu?”
Tidak ada jawaban dari mereka. Mereka
terlihat malu-malu. Tetapi dari wajahnya saya lihat mereka ingin makan makanan
yang saya bawa. Lalu ibu mereka menawarkan pada Rizal, “Hoyong?” Rizal membawa
snack dan ibunya melanjutkan obrolan dengan kedua orang tua saya.
Melihat Rizal hanya memegang snack,
saya tawarkan padanya untuk membukakan. “Sini, mau dibuka nggak? Dibukain sama
teteh.” Rizal kemudian menyerahkan padaku untuk dibukakan. Setelah snacknya
dibuka, dengan fokus dia makan sampai habis.
(Rizal sedang Fokus Makan Snack –
Foto dokumentasi pribadi)
Saya
ingin sekali merangkul mereka. Merangkul dalam arti mendekatkan diri pada
mereka. Kami memang belum saling mengenal tetapi entah mengapa saya sayang
sekali dengan mereka, karena pada dasarnya saya menyukai anak kecil dan saya
memang berniat untuk dekat dengan mereka. Saya ingin menjadikan ketiga anak
tersebut sebagai adik asuh. Misi untuk dekat dengan mereka dengan modus
menawarkan makanan sepertinya belum terlalu berhasil, saya ingin lebih dekat
dengan mereka. Sambil mereka makan snack, saya rekam mereka dengan HP saya.
Tidak bosan memandang mereka. Tiba-tiba si bungsu Rizal berkata, “Mamah beak (habis)
cikina.” Ibunya hanya diam. Dari hadapan Rizal, saya perlihatkan hasil rekaman
HP saya kepada mereka, “Ini siapa hayoo?” kata saya. Sepertinya Rizal dan Raju
tertarik dan mulai agak mendekat kepada saya. Rifal juga tertarik, dia hanya
senyum-senyum dari jauh, sepertinya dia malu. Lalu ini kesempatan saya untuk
mengajak mereka ber-selfie ria.
“Aa Rifal, Raju, sini deket teteh.
Kita selfie.” Mereka berdua mendekat. Rizal memang sudah duduk di sebelah saya
sejak tadi. Anak kecil, masih cuek. Saya jadi antusias sendiri untuk selfie.
Mereka sih sebenarnya juga antusias. Cuma masih malu-malu.
Cekrek. cekrek. cekrek. Beberapa foto
berhasil diambil. Akhirnya mereka agak lebih dekat dan mencair.
(Akhirnya bisa ber-selfie dengan
mereka J )
Tidak
lama kemudian, kami mengobrol seputar kesan-kesan mereka syuting acara Survivor
Trans TV. Pak Maman antusias menceritakan Papam yang jatuh di kebun singkong.
“Eta si Papam labuh di kebon. Rek
dibantuan ngangkat teh beurat.” diiringi dengan tawa kami semua.
Dari
obrolan kami, diketahui bahwa Pak Maman mendapatkan upah dari menjaga sawah.
Upahnya 10 ribu rupiah sehari. Itupun jika ada yang memintanya untuk menjaga
sawah. Jika tidak, ya tidak ada pemasukan. Disitu saya berpikir bahwa diri saya
sendiri yang sudah memiliki penghasilan tetap kadang-kadang masih lupa untuk
bersyukur. Saya sadar, hal itu dikarenakan oleh nafsu dan sifat manusia
(khusunya saya) yang tidak pernah merasa puas karena selalu melihat ke atas.
Jika seperti itu jelaslah tidak pernah puas karena seperti pepatah Rumput
Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau benar adanya. Tetapi jika saya melihat ke
bawah, rasa syukur memang wajib di panjatkan karena kita lebih beruntung
berkali-kali lipat dibandingkan dengan mereka. Dengan keadaan inipun kita masih
sering mengeluhkannya. Padahal mungkin, hidup yang kita keluhkan adalah hidup
yang orang lain inginkan.
Kembali
ke cerita anak-anak tersebut, jika saya lihat kondisi ekonomi dan rumahnya jauh
dari kata layak. Untuk memasak, mereka harus menggunakan kayu bakar. Atap rumah
banyak yang bocor. Tidak ada kamar mandi di rumah mereka. Saat itu pula, om
saya bertemu dan mengadakan rapat dengan Pak RT (dan meninggalkan kami) untuk rapat
karena akan membuatkan MCK, karena bagaimanapun air adalah sesuatu yang vital
bagi kehidupan mereka. Untuk listrik, setiap bulan mereka harus membayar tiga
puluh ribu rupiah kepada tetangga yang ditumpangi listriknya. Ingin sekali
rasanya membantu mereka.
Tidak
terasa, sudah cukup lama kami berada di rumahnya. Saat itu saya bertanya pada
anak-anak.
“Aa (Rifal), Raju, & Rizal tos
pernah ka Kebon Binatang teu acan?”
Mereka menggelengkan kepala.
“Nanti pas libur sekolah ku teteh di
jemput nya, kita ke Kebun Binatang. Mau nggak?”
Mereka mengangguk tersenyum dan
terlihat antusias.
Saat
itu saya bertekad untuk mewujudkan keinginan mereka dan ingin membawa mereka
berjalan-jalan keliling Bandung. Menyisihkan sedikit uang jajan saya untuk
mereka tidak membuat saya keberatan. Justru tekad untuk memberi lebih banyak
semakin besar. Demi mereka. Kamipun pamit pulang dan berjanji untuk bertemu
ketika liburan sekolah nanti. Sebelum keluar rumah, kami minta berfoto bersama
dengan mereka sekeluarga.
(Saya dan Keluarga Anak-anak)
Mereka
mengantarkan kami keluar rumah. Tiba-tiba saya teringat bahwa telur yang akan
diberikan pada mereka tertinggal di dalam mobil. Ketiga anak tersebut saya
minta ikut ke lapangan depan gang rumah mereka untuk mengambil telur. Saat itu
saya ingin peluk mereka tetapi tidak jadi. Hehe. Akhirnya saya minta mereka
untuk ber-selfie sekali lagi sebelum akhirnya kami benar-benar pulang. Kamipun
pulang. Di dalam hati saya bergumam, “Semoga suatu saat nanti bisa bertemu lagi
dengan mereka dan bertekad ingin membuat mereka tersenyum bahagia.” Sejak saat
itu pula saya memutuskan untuk menjadi kakak asuh bagi mereka bertiga.
(Selfie dulu sebelum pulang)
Hikmah
bagi saya pribadi adalah dengan melihat sendiri kondisi mereka yang seperti
itu, membuat mata saya terbuka. Sejak itu mereka selalu menjadi inspirasi bagi
saya dan sebisa mungkin dapat memberi kebahagiaan walau sedikit kepada mereka.
Membuat mereka senang bisa memberi kebahagiaan bagi saya. Nilainya berkali-kali
lipat lebih besar dibandingkan dengan kesenangan pribadi saya sendiri jika
mengikuti nafsu manusia. Saya merasa hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan
dengan senyum dan kebahagiaan mereka. Ini menjadi pembelajaran yang sangat
berharga bagi saya pribadi agar bisa peduli dan terus membantu sesama.
Mungkin
saat ini baru mereka yang bisa saya bantu, semoga suatu saat saya bisa membantu
lebih banyak orang yang membutuhkan. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud
riya. Tulisan ini menjadi self reminder bagi saya pribadi agar tidak selalu
melihat ke atas. Tapi agar selalu menunduk melihat kebawah. Belajar peduli
dengan orang-orang yang kurang beruntung. Memberi dan berbagi kepada sesama
tidak akan membuat kita menjadi miskin. Saya sangat meyakini itu. Jika boleh
saya mengutip salah satu ayat Al-Quran “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan
oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)
Semoga
sedikit pengalaman saya ini bisa menjadi inspirasi bahwa masih banyak
orang-orang yang tidak seberuntung kita. Mari kita saling membantu dengan orang
yang lebih membutuhkan. J
-SEKIAN-
Ini Link YouTube Kisah Mereka di Acara Survivor TransTV
part 1
part 2
part 3
part 4









0 komentar:
Posting Komentar