Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 10 Desember 2016

BAHAGIAKU ADALAH BAHAGIA KALIAN

Pertama-tama saya ingin sharing tentang pengalaman saya dalam berbagi kepada sesama. Tujuannya bukan untuk pamer bahwa saya bisa memberi sesuatu. Sama sekali bukan untuk itu, naudzubillahi min dzalik, semoga saya dijauhkan dari sifat seperti itu. Hal yang saya soroti disini adalah tentang kisah 3 orang anak (true story) dalam kehidupannya yang menurut saya sulit.
            Namanya Rifaldi (10 tahun), Raju (6 tahun), dan Rizal (3 tahun). Mereka tinggal di Banjaran, daerah Bandung Selatan. Saya sudah mengetahui tentang cerita tentang mereka kurang lebih tiga atau empat bulan yang lalu. Itu saya dengar dari om (adik ibu) saya. Om saya sudah mengenal mereka terlebih dahulu dibandingkan saya. Pernah suatu ketika, om ini memperlihatkan foto pada saya setelah  ketiga anak ini dibelikan pakaian baru. Saat itu saya hanya sekilas melihatnya dan selanjutnya lupa. Saya tidak pernah mengetahui dari mana om mengenal mereka, yang jelas sebelumnya si-om ini tidak mengenal mereka. Dengan mencari-cari alamatnya, akhirnya dapat dan rutin mengunjungi mereka hanya untuk menengok keadaan mereka dan keluarganya dengan membawa sedikit bahan makanan.
            Singkat cerita, saat itu saya sedang bersama om, tiba-tiba dia berkata bahwa ketiga anak tersebut masuk TV di acara Survivor channel TransTV yang dipandu oleh Ruben Onsu dan Papam. Seketika saya langsung ingat dengan mereka, selama ini saya hanya mengetahui ceritanya sekilas saja. Kemudian saya coba ulangi siaran acara Survivor tersebut dan menontonnya bersama dengan keluarga. Di dalam hati saya merasa iba dengan ketiga anak tersebut akan kondisi keluarganya. Tiba-tiba saja tercetus ide untuk mengunjunginya pada weekend itu. Saat itu, saya mengutarakan niat pada om untuk mengantarkan ke rumahnya.




(Mereka bersama Ruben – sumber Instagram Ruben Onsu)

            Minggu, 13 November 2016, saya, ibu, bapak, dan adik sepupu saya menuju ke rumahnya. Kami transit di rumah uwa (kakaknya ibu) dan janjian dengan om saya yang datang bersama anak sulungnya. Kamipun langsung menuju ke rumahnya. Saya dan keluarga mengendarai mobil, sedangkan om bersama anaknya mengendarai motor. Lama juga untuk sampai ke rumahnya, saya kira tidak sejauh itu. Untuk menuju ke rumahnya, melewati medan yang lumayan. Sebenarnya kondisi jalanan tidak terlalu jelek, tetapi untuk sampai ke rumahnya harus melewati jalan yang menanjak dan sempit. Jika ada kendaraan dari arah yang berlawanan, salah satunya harus mengalah. Niatnya, saat itu kami ingin mengajak mereka ke tempat rekreasi terdekat. Akhirnya niat itu diurungkan karena melihat kondisi jalan dan cuaca.
            Kamipun sampai di rumahnya, rumahnya panggung, berdinding bilik, tidak ada kamar, hanya ada satu ruang yang pinggirnya disekat untuk dapur. Selebihnya, ruang keluarga yang setiap malam berubah menjadi ruang tidur. Di dindingnya, tergantung tas sekolah mereka. Di pojok ruangan ada kasur lipat dan bantal juga setumpuk pakaian. Tiba disana, kami disambut oleh Pak Maman, ia adalah ayah dari ketiga anak itu. Ramah sekali itulah kesan saya ketika pertama berjumpa dengan mereka. Saat itu hanya ada si bungsu Rizal yang sedang bersama ayahnya. Kemudian ibunya keluar dari dapur. Ramah juga saya lihat, saat itu kondisi ibunya dalam keadaan normal. Seperti yang saya lihat kisahnya di televisi dan berdasarkan cerita dari om saya, ibunya mengalami gangguan jiwa tetapi ‘kumat-kumatan’. Jika sedang kumat, katanya suka bicara nyerocos tidak karuan atau malah mengganggu orang. Jika sedang normal seperti ketika saya bertemu dengannya, orangnya baik kok, ada basa basinya seperti menawarkan minum atau berkata seperti ini, ”Punten, bumina acak-acakan kieu”. Berbeda dengan ibunya, kondisi ayahnya dalam keadaan sakit. Sakit dalam arti tangan yang berfungsi hanya sebelah kiri. Tangan sebelah kanannya seperti orang terkena penyakit stroke. Padahal menurut cerita, tangannya bisa seperti itu karena terjatuh dari munding (kerbau) saat sedang menggembala.
            Saat kami masuk, kami langsung menyerahkan sedikit oleh-oleh yang dibawa. Kami memang sengaja mengumpulkan baju layak pakai untuk diberikan pada mereka. Sebelum sampai ke rumahnya juga saya sengaja mampir ke supermarket untuk membeli makanan kebutuhan mereka seperti mi instan, minyak goreng, terigu, dan telur. Tidak lupa saya belikan makanan-makanan ringan untuk anak-anak tersebut, snack, susu kotak, dan aneka biskuit. Si kecil Rizal memperhatikan kami. Kemudian, Raju datang dan sang ayah menyuruhnya untuk mencari kakaknya, Rifal, yang sedang bermain. Sekitar lima menit kemudian, Raju datang bersama dengan Rifal. Mereka masuk ke rumah dan salam dengan kami semua. Obrolan dibuka oleh ayah dan ibu saya kepada Pak Maman dan istrinya. Istrinya memang tidak terlalu banyak bicara. Sambil sesekali menimpali obrolan para orang tua, saya memperhatikan anak-anak itu. Mereka terdiam. Saya membuka komunikasi dengan mereka.
“Sok atuh, ini makanannya dibuka. Mau ciki atau mau susu?”
Tidak ada jawaban dari mereka. Mereka terlihat malu-malu. Tetapi dari wajahnya saya lihat mereka ingin makan makanan yang saya bawa. Lalu ibu mereka menawarkan pada Rizal, “Hoyong?” Rizal membawa snack dan ibunya melanjutkan obrolan dengan kedua orang tua saya.
Melihat Rizal hanya memegang snack, saya tawarkan padanya untuk membukakan. “Sini, mau dibuka nggak? Dibukain sama teteh.” Rizal kemudian menyerahkan padaku untuk dibukakan. Setelah snacknya dibuka, dengan fokus dia makan sampai habis.


(Rizal sedang Fokus Makan Snack – Foto dokumentasi pribadi)

            Saya ingin sekali merangkul mereka. Merangkul dalam arti mendekatkan diri pada mereka. Kami memang belum saling mengenal tetapi entah mengapa saya sayang sekali dengan mereka, karena pada dasarnya saya menyukai anak kecil dan saya memang berniat untuk dekat dengan mereka. Saya ingin menjadikan ketiga anak tersebut sebagai adik asuh. Misi untuk dekat dengan mereka dengan modus menawarkan makanan sepertinya belum terlalu berhasil, saya ingin lebih dekat dengan mereka. Sambil mereka makan snack, saya rekam mereka dengan HP saya. Tidak bosan memandang mereka. Tiba-tiba si bungsu Rizal berkata, “Mamah beak (habis) cikina.” Ibunya hanya diam. Dari hadapan Rizal, saya perlihatkan hasil rekaman HP saya kepada mereka, “Ini siapa hayoo?” kata saya. Sepertinya Rizal dan Raju tertarik dan mulai agak mendekat kepada saya. Rifal juga tertarik, dia hanya senyum-senyum dari jauh, sepertinya dia malu. Lalu ini kesempatan saya untuk mengajak mereka ber-selfie ria.
“Aa Rifal, Raju, sini deket teteh. Kita selfie.” Mereka berdua mendekat. Rizal memang sudah duduk di sebelah saya sejak tadi. Anak kecil, masih cuek. Saya jadi antusias sendiri untuk selfie. Mereka sih sebenarnya juga antusias. Cuma masih malu-malu.
Cekrek. cekrek. cekrek. Beberapa foto berhasil diambil. Akhirnya mereka agak lebih dekat dan mencair.


(Akhirnya bisa ber-selfie dengan mereka J )

            Tidak lama kemudian, kami mengobrol seputar kesan-kesan mereka syuting acara Survivor Trans TV. Pak Maman antusias menceritakan Papam yang jatuh di kebun singkong.
“Eta si Papam labuh di kebon. Rek dibantuan ngangkat teh beurat.” diiringi dengan tawa kami semua.
            Dari obrolan kami, diketahui bahwa Pak Maman mendapatkan upah dari menjaga sawah. Upahnya 10 ribu rupiah sehari. Itupun jika ada yang memintanya untuk menjaga sawah. Jika tidak, ya tidak ada pemasukan. Disitu saya berpikir bahwa diri saya sendiri yang sudah memiliki penghasilan tetap kadang-kadang masih lupa untuk bersyukur. Saya sadar, hal itu dikarenakan oleh nafsu dan sifat manusia (khusunya saya) yang tidak pernah merasa puas karena selalu melihat ke atas. Jika seperti itu jelaslah tidak pernah puas karena seperti pepatah Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau benar adanya. Tetapi jika saya melihat ke bawah, rasa syukur memang wajib di panjatkan karena kita lebih beruntung berkali-kali lipat dibandingkan dengan mereka. Dengan keadaan inipun kita masih sering mengeluhkannya. Padahal mungkin, hidup yang kita keluhkan adalah hidup yang orang lain inginkan.
            Kembali ke cerita anak-anak tersebut, jika saya lihat kondisi ekonomi dan rumahnya jauh dari kata layak. Untuk memasak, mereka harus menggunakan kayu bakar. Atap rumah banyak yang bocor. Tidak ada kamar mandi di rumah mereka. Saat itu pula, om saya bertemu dan mengadakan rapat dengan Pak RT (dan meninggalkan kami) untuk rapat karena akan membuatkan MCK, karena bagaimanapun air adalah sesuatu yang vital bagi kehidupan mereka. Untuk listrik, setiap bulan mereka harus membayar tiga puluh ribu rupiah kepada tetangga yang ditumpangi listriknya. Ingin sekali rasanya membantu mereka.
            Tidak terasa, sudah cukup lama kami berada di rumahnya. Saat itu saya bertanya pada anak-anak.
“Aa (Rifal), Raju, & Rizal tos pernah ka Kebon Binatang teu acan?”
Mereka menggelengkan kepala.
“Nanti pas libur sekolah ku teteh di jemput nya, kita ke Kebun Binatang. Mau nggak?”
Mereka mengangguk tersenyum dan terlihat antusias.
            Saat itu saya bertekad untuk mewujudkan keinginan mereka dan ingin membawa mereka berjalan-jalan keliling Bandung. Menyisihkan sedikit uang jajan saya untuk mereka tidak membuat saya keberatan. Justru tekad untuk memberi lebih banyak semakin besar. Demi mereka. Kamipun pamit pulang dan berjanji untuk bertemu ketika liburan sekolah nanti. Sebelum keluar rumah, kami minta berfoto bersama dengan mereka sekeluarga.



(Saya dan Keluarga Anak-anak)

            Mereka mengantarkan kami keluar rumah. Tiba-tiba saya teringat bahwa telur yang akan diberikan pada mereka tertinggal di dalam mobil. Ketiga anak tersebut saya minta ikut ke lapangan depan gang rumah mereka untuk mengambil telur. Saat itu saya ingin peluk mereka tetapi tidak jadi. Hehe. Akhirnya saya minta mereka untuk ber-selfie sekali lagi sebelum akhirnya kami benar-benar pulang. Kamipun pulang. Di dalam hati saya bergumam, “Semoga suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan mereka dan bertekad ingin membuat mereka tersenyum bahagia.” Sejak saat itu pula saya memutuskan untuk menjadi kakak asuh bagi mereka bertiga.


(Selfie dulu sebelum pulang)

            Hikmah bagi saya pribadi adalah dengan melihat sendiri kondisi mereka yang seperti itu, membuat mata saya terbuka. Sejak itu mereka selalu menjadi inspirasi bagi saya dan sebisa mungkin dapat memberi kebahagiaan walau sedikit kepada mereka. Membuat mereka senang bisa memberi kebahagiaan bagi saya. Nilainya berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan dengan kesenangan pribadi saya sendiri jika mengikuti nafsu manusia. Saya merasa hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan senyum dan kebahagiaan mereka. Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi saya pribadi agar bisa peduli dan terus membantu sesama.
            Mungkin saat ini baru mereka yang bisa saya bantu, semoga suatu saat saya bisa membantu lebih banyak orang yang membutuhkan. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud riya. Tulisan ini menjadi self reminder bagi saya pribadi agar tidak selalu melihat ke atas. Tapi agar selalu menunduk melihat kebawah. Belajar peduli dengan orang-orang yang kurang beruntung. Memberi dan berbagi kepada sesama tidak akan membuat kita menjadi miskin. Saya sangat meyakini itu. Jika boleh saya mengutip salah satu ayat Al-Quran “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 261) 
            Semoga sedikit pengalaman saya ini bisa menjadi inspirasi bahwa masih banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita. Mari kita saling membantu dengan orang yang lebih membutuhkan. J


-SEKIAN-

Ini Link YouTube Kisah Mereka di Acara Survivor TransTV

part 1
part 2
part 3
part 4





0 komentar:

Posting Komentar