Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 14 Januari 2017

PENGALAMAN VAKSIN MENINGITIS DI KKP BANDUNG 2017

Setelah 2 tahun yang lalu saya pernah menulis mengenai pengalaman saya dalam vaksin meningitis di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Bandung. Setahu saya, vaksin meningitis di Bandung ini dilakukan di KKP Bandung yang letaknya di area bandara Husein Sastranegara, kali ini saya akan menulis hal yang sama tetapi lebih update (versi 2017). Hehe.

Seperti yang kita ketahui, vaksin meningitis ini mayoritas dilakukan oleh calon jamaah haji atau umroh. Karena salah satu syarat mendapatkan visa Arab Saudi adalah melampirkan kartu Vaksin ini. Saya pernah melakukannya sekitar 2 tahun yang lalu sekitar akhir tahun 2014.

Alhamdulillah, saya mendapatkan panggilan lagi untuk melakukan ibadah umroh (Insya Allah). Saya langsung melengkapi syarat-syarat yang dibutuhkan. Karena terakhir kali saya vaksin itu bulan Oktober 2014, maka saya harus vaksin ulang. Vaksin meningitis saya yang sebelumnya berlaku selama 2 tahun yaitu sampai bulan Oktober 2016. Saya bergegas menuju kesana. Untuk anda yang belum pernah vaksin meningitis, harus diketahui bahwa ada syarat yang harus dipenuhi, diantaranya : 

ü  Mengisi formulir data diri yang disediakan di KKP Kelas II Bandung
ü  Membawa foto copy paspor (1 lembar)
ü  Membawa 1 lembar foto 4x6 berlatar belakang putih dan di zoom 80% (pas foto untuk haji atau umroh)

Selanjutnya kita tinggal datang saja kesana. Jam pelayanan KKP Kelas II Bandung ini adalah pukul 07.30 – 15.00. Saat itu saya datang pukul 07.00 pagi. Ternyata sampai disana sudah banyak orang yang mengantri. Langsung saja saya masukkan berkas yang ada. Oya, karena buku vaksin saya sebelumnya masih ada, saya bawa dan lampirkan. Walaupun tidak ada peraturan tertulis bahwa bagi orang yang sudah pernah vaksin harus membawa buku kembali. Sepagi itu saya sudah mendapatkan nomor antrian 131.

Saya menunggu saja karena memang harus ditunggu. Tidak lupa saya telepon kantor untuk mengabarkan akan datang terlambat. Ketika jam pelayanan sudah dibuka, petugas memanggil pasien nomor urut 1 – 50 untuk masuk ke dalam ruangan. Selanjutnya nama kita bergiliran untuk melakukan tensi tekanan darah. Selanjutnya duduk lagi untuk dipanggil ke ruangan suntik.

Di dalam ruangan suntik, saya diberi test pack untuk mengetes kehamilan. Perlu diketahui, wanita dalam usia subur (dibawah 45 tahun) harus melakukan cek kehamilan karena vaksin meningitis berbahaya bagi wanita hamil. Jika dinyatakan negatif, maka kita diperkenankan untuk melakukan vaksin.

Setelah selesai suntik, kita keluar ruangan dan nama kita akan dipanggil untuk melakukan pembayaran. Setelah lunas, nama kita akan dipanggil kembali untuk penyerahan kartu vaksin.
Kali ini saya melakukan 2 macam vaksin yaitu meningitis dan influenza. Biayanya masih sama seperti tahun 2014 lalu. 305 ribu untuk vaksin meningitis dan 150 ribu untuk vaksin influenza. Pada dasarnya pelayanan cukup baik, hanya ruangannya sangat sempit sehingga untuk sekedar menunggu vaksin saja menjadi tidak nyaman. Saya sempat mengobrol dengan seorang petugas bahwa bulan Februari 2017 KKP Kelas II Bandung direncanakan akan pindah ke Cikapayang, tempatnya seberang gereja (menurut informasi) tapi entah realisasinya seperti apa. Mudah-mudahan fasilitas ruang tunggu dan pelayanannya makin bagus.


_.SEKIAN._

Jumat, 13 Januari 2017

PELAJARAN DALAM KETERPAKSAAN (PENGALAMAN)


Dahulu, saya adalah orang yang sangat pemalu. Boro-boro untuk bicara dengan orang lain, untuk berbicara dengan saudara saja jika itu tidak terlalu penting ya tidak. Mungkin saya seseorang dengan tipe pengamat. Untuk mengetahui sesuatu, saya biasanya mendengarkan atau hanya mempelajari sekitarnya tanpa mencoba, tetapi dalam otak biasanya berpikir. Bahasa kerennya mungkin berpikir dalam diam.

Saya sadar, kelemahan saya saat itu adalah saya tidak biasa berbicara di hadapan orang banyak. Saya cenderung pasif. Hal itu terjadi sampai saya duduk di bangku perkuliahan. Suatu ketika, di suatu semester keluarlah nilai mata kuliah berikut dengan Indeks Prestasi (IP) – nya. Seperti biasa, saya selalu menghadap kepada Dosen Wali untuk evaluasi dan perencanaan studi. IP saya di semester itu hanya sekitar 2,6 saja. Ketika itu saya dengan santai menghadap dosen wali saya. Tanpa di duga, dosen wali saya menasehati saya dengan agak “keras”.

“Kamu tahu apa salah kamu sampai nilainya cuma segini?” tanyanya
Saya diam sambil berpikir apa yang harus saya jawab. Tiba-tiba saja secara spontan saya jawab, “Nggak rajin, Pak.”
“Yakin? Setahu saya kamu rajin kuliah. Absennya penuh kan?”
Saya mengangguk.
“Mau tahu apa salah kamu?” katanya lagi
“Iya pak.” jawab saya
“Kamu itu pasif. Coba aktif. Kalau di kelas jawab pertanyaan. Kalau nggak tahu apa yang harus dijawab, ajukan pertanyaan. Mau nilainya kayak gini terus?”
Saya menggeleng.

Kurang lebih seperti itu nasehatnya pada saya. Selanjutnya diisi dengan perencanaan studi semester berikutnya. Nasehat dosen wali saya itu sampai saat ini terus terngiang-ngiang di kepala saya. Memang, saat itu penyampaiannya tidak sambil marah-marah. Penyampaiannya tegas dan saya memandang bahwa nasehatnya itu keluar agar saya maju. Agar saya tidak terjebak di zona nyaman saya yaitu diam.. diam.. diam.


Saya coba perbaiki sistem belajar saya pada semester berikutnya. Mencoba untuk mengikuti saran yang diberikan oleh dosen wali saya tersebut. Persoalan terbesar dalam diri saya saat itu adalah malu. Ya, pemalu. Gara-gara sifat malu ini, segala sesuatu yang menjadi pertanyaan di otak saya dipendam. Itu yang membuat saya tidak maju-maju. Sebenarnya, motivasi saya saat itu untuk lebih aktif, semata adalah karena nilai. Maklumlah, mahasiswa yang sudah dekat dengan skripsi pasti apapun dikejar demi nilai bagus. Saya coba untuk lebih aktif pada semua mata kuliah. Kadang untuk angkat tangan mengajukan pertanyaan saja gemetar. Mau berbicara itu rasanya berat sekali. Kelu. Kemudian, saya lawan rasa malu itu. DEMI NILAI.

Alhamdulilah, pada akhir semester, nilai saya melonjak naik. Dengan IP diatas 3,0, tentu senang rasanya. Pengorbanan saya untuk menghiraukan rasa malu dan lebih aktif di kelas berbuah hasil. Ketika perwalian dan berhadapan dengan dosen wali, beliau juga tersenyum karena saya dapat membuktikan peningkatan IP. Ketika masuk ruangannya, saya langsung disalami oleh beliau.

“Naah, bisa kan Bu (beliau kadang memanggil mahasiswanya dengan sebutan Ibu)? Gitu dong. Selamat. Selamat” katanya
“Iya Alhamdulillah pak, bisa.” jawabku
“Pertahankan ya, kalau bisa tingkatkan lagi.” nasehatnya
“Iya Pak, benar kata Bapak harus aktif. Terima Kasih ya Pak.”

Hal yang menjadi perhatian saya disini adalah  bukan soal akademik. Diluar itu saya merasakan bahwa untuk maju adalah mau meninggalkan zona nyaman. Zona nyaman saya adalah diam. Malu dan kurang aktif. Hal tersebut dahulu saya anggap sepele. Ternyata, hal tersebut benar-benar saya butuhkan di dunia kerja.

Seiring dengan kedewasaan dan keterpaksaan, mau atau tidak mau dan suka atau tidak suka hal-hal semacam ini memang harus dilatih. Public speaking lah yang membuat kita dapat dihargai oleh orang lain. Bagi orang yang bekerja pada bidang jasa, tentu hal seperti ini adalah modal utama, keterampilan ini mempengaruhi reputasi kita. Saya mengalami itu.



Ternyata, setelah terbiasa berbicara dengan orang lain, kita juga dapat menilai dan mengetahui berbagai macam karakter orang. Ya, ini semua saya anggap sebagai pelajaran dan pengalaman. Mungkin, sekarangpun masih banyak yang memandang saya pemalu. Sadar bahwa saya harus terus belajar. Keterampilan saya dalam berbicara masih perlu diasah kembali. Terbayang jika diri ini tidak belajar mengenai public speaking. Akan jadi seperti apa saya ini? Bagaimana saya harus menghadapi orang jika tidak dibekali dengan softskill ini?

Di dalam tulisan ini juga saya ingin mengucapkan rasa terima kasih saya yang tak terhingga atas motivasi dan nasehat dari dosen wali saya Bapak Drs. P. C. Suroso, MSP., Lic.Rer.Reg. karena berkat beliaulah saya mampu untuk keluar dari zona nyaman saya. Tidak selamanya Silent is Gold. Karena kita bisa mendapatkan gold lebih banyak jika meninggalkan silent. Kurang lebih begitu yang saya rasakan.


Sekian tulisan saya di malam yang sunyi ini. Tulisan ini hanyalah hasil karya jari-jari yang menari begitu saja di atas keyboard laptop saya atas inspirasi dari otak.

=SEKIAN=

Kamis, 05 Januari 2017

The Best City I've Ever Visited in 2016 (Part II)



Senin, 24 Oktober 2016
                Pagi itu saya bangun pagi pukul 04.30. Begitu bersemangat untuk segera bangun. Kalau biasanya bangun tidur itu saya menghabiskan waktu 10-15 menit di tempat tidur sebelum akhirnya mandi, pagi itu saya langsung bergegas mandi. Di dalam hati saya bergumam, “Hari ini bakal liburan dan senang-senang. Harus semangat dong”. Langsung saja saya mandi dan setelahnya misscall sahabat saya untuk segera bangun. Khawatir dia terlambat jadi siapapun yang bangun duluan, maka kewajibannya untuk misscall. Pagi itu saya berangkat dari rumah pukul 05.45. Langsung menuju ke bandara Husein Sastranegara dengan diantar oleh adik saya. Saya langsung menuju tempat tunggu bandara sambil menunggu dia yang katanya sedang di jalan dengan menaiki GoJek. Kira-kira 30 menit menunggu, akhirnya dia datang. Saya saat itu sarapan roti dahulu dan kami langsung melakukan check in di bandara.

                Tidak lama menunggu, kamipun mulai memasuki pesawat. Di dalam pesawat saya berniat untuk tidur, karena aktivitas beberapa hari ini kurang tidur. Tapi ketika akan tidur selalu saja ada obrolan diantara kami. Tidurpun batal. Pukul 08.50 kami sampai di Bandara Juanda Surabaya. Keluar dari bandara, kami menunggu di tempat penjemputan. Rencananya Z akan menjemput kami, udara panas langsung membuat tubuh saya berkeringat. Memang jauh beda dengan di Bandung. Hehe. Si-Z tidak kunjung datang, baru sekitar pukul 11.00 siang dia datang. Rupanya dia baru pertama kali ke bandara Juanda sehingga sempat nyasar. Itu adalah pertemuan saya yang pertama kali dengan Z. Kami berkenalan dan langsung menuju ke mobil.

                Tujuan selanjutnya adalah makan. Ya, saya dan sahabat saya memang kelaparan malah dia sampai masuk angin karena kelaparan. Hahaha. Kami menuju ke tempat makan. Dipilihlah pujasera yang berjualan Ayam Penyet, tetapi sebelumnya kami sempat singgah di Masjid terbesar di Surabaya yaitu Masjid Al-Akbar. Sengaja kami turun di depan masjid untuk berfoto. Sehabis makan, kami langsung menuju ke Rumah Makan Bu Rudy, bukan untuk makan tapi dari awal saya ingin beli sambal Bu Rudy karena itu yang menjadi kesukaan ayah saya. Setelah sempat nyasar, akhirnya kami sampai. Kami membeli beberapa botol sambal dan makanan lainnya. Perjalanan kami lanjutkan, kami langsung on the way menuju ke Malang sekitar pukul 14.30an. Saat itu jalanan kota Surabaya macet, tidak kalah dengan Bandung macetnya. Saya tidur aja di mobil. Ternyata perjalanan Surabaya – Malang itu cukup jauh ya. Mungkin sama seperti Bandung – Jakarta.

                Pukul 18.30 kami sudah sampai di kota Malang, sebelum makan, kami singgah dulu di masjid untuk shalat. Mobil kami parkirkan di area masjid, kami berjalan kaki menuju tempat penjual bakso. Bakso menjadi pilihan makan malam kami. Rasanya kurang pas jika ke Malang tidak membeli bakso. Lumayan lama kami di tempat penjual bakso. Sambil menyantap bakso, kami mengobrol perihal rencana keesokan harinya. Pukul 20.00 kami langsung menuju ke hotel, sempat nyasar juga menuju ke hotel karena rute yang kita ambil jauh sekali. Kami check in di hotel Balava. Malam itu saya habiskan di hotel saja, selain capek juga saya mengantuk. Siapkan tenaga untuk explore Malang keesokan harinya.

Selasa, 25 Oktober 2016
                Hari ini, sesuai rencana kami akan explore kota Malang. Pagi-pagi sekitar pukul 07.00 kami berdua sudah turun ke restoran hotel untuk sarapan. Kira-kira 45 menit kami habiskan waktu disitu. Sambil menunggu Z menjemput kami, kamipun ngobrol-ngobrol tentang kesan kami dalam liburan kali ini. Liburan ini terbilang hemat. Rencananya kita akan pulang menggunakan kereta api ekonomi, lalu obrolan ini membuat kami ingin meng-upgrade kelas kereta api. Bukan apa-apa, kalau kereta ekonomi kan duduknya berhadapan dengan orang lain, kami malu dan khawatir kalau nanti tidur malah nggak nyaman. Hahaha. Kurang bebas aja rasanya. Maka, rencana itu baru sebatas obrolan dan belum benar-benar terealisasi. Tidak lama, Z menghubungi dan kami langsung menuju mobil di parkiran. Kemudian kami menuju ke Batu.

                Di perjalanan, kami singgah ke mini market untuk membeli cemilan. Jalanan saat itu tidak macet alias lancar jaya. Kira-kira pukul 10 pagi kami sudah sampai kota Batu. Udaranya sejuk, persis seperti Ciwidey (kalau di Bandung). Pukul 10.30 kami sampai ke tujuan pertama yaitu Eco Green Park. Sebuah tempat wisata alam yang di dalamnya terdiri dari taman edukasi ekologi yang mempelajari ilmu pengetahuan selain edukasi di dalamnya. Banyak spot foto yang bagus. Walaupun kesannya ini seperti tempat untuk anak kecil, tapi saya pribadi menyukai tempat ini.

                Tiba di Eco Green Park, kami langsung menuju ke loket tiket untuk membeli 3 lembar tiket. Dasar saya si ratu diskon, saat itu mata ini tiba-tiba tertuju ke sebuah banner yang tulisan intinya, dengan menukarkan Boarding Pass dari beberapa maskapai, dapatkan diskon 20 %, satu boarding pass berlaku untuk 2 lembar tiket diskon. Saya ingat, karena masih pakai celana yang kemarin, boarding pass tersebut saya simpan di saku belakang. Taraaaa, ahahaha rezeki. Dari pintu masuk hingga pintu keluar kurang lebih kami 3 jam menyusurinya, di dalamnya terdapat tempat 3 dimensi, rumah terbalik, dll. Seru juga. Kami menghabiskan waktu di tempat ini kurang lebih sampai pukul 13.30. Saat akan kembali ke mobil, hujan turun sangat deras. Kami berhenti di tempat 3 dimensi untuk berteduh sebentar. Ketika hujan agak reda, kami bergegas ke mobil dan langsung mencari tempat makan.




(foto di Eco Green Park, Batu – Malang)
  
                Akhirnya kami menuju ke alun-alun Batu Malang, sambil kedinginan karena hujan yang tidak kunjung berhenti, kami memutuskan untuk makan di sebuah pujasera tepat di depan alun-alun Batu. Siang itu saya memilih makan bakmi rebus. Enak sekali rasanya, mungkin karena cuaca yang dingin ditambah kondisi sedang lapar maka makanan apapun terasa enak. Bakmi rebus panas dengan cabai rawit. Bayangkan saja. Hahaha. Selesai makan kami ke destinasi selanjutnya yaitu Museum Angkut Malang. Kalau saya melihatnya di awal-awal seperti biasa saja. Tapi penasaran juga karena di media sosial saya banyak sekali teman yang posting foto disitu.Ternyata eh ternyata, berkesan sekali. Yang terpenting itu banyak spot fotonya. Lalu seperti di luar negeri juga.






(Foto Museum Angkut, Batu Malang)
Nb. Thank’s to Z udah jadi fotografer.. Heheh

                Betah banget ada di Museum Angkut, puas muter-muter disitu, ditambah cuaca kota Batu yang sejuk ya jadi makin betah aja. Kira-kira pukul 17.30 kami keluar dari lokasi Museum Angkut. Kami langsung ke Masjid Agung Batu Malang untuk shalat Maghrib dan selanjutnya kami nongkrong di Alun-alun Batu sambil membeli jajanan yang sedang hits disana yaitu Sempol. Rasanya mirip-mirip cilor kalau di Bandung itu, hanya bentuknya yang berbeda. Harganya murah, 500 rupiah per tusuk. Sambil mengobrol, tidak terasa waktu sudah malam dan semakin dingin. Menyesal saat itu saya membawa jaket yang tipis, jadi seperti tidak ada artinya. Hahaha. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk membeli Ketan Susu di alun-alun Batu. Harganya murah hanya sekitar 3 ribu atau 4 ribu saja. Ketan dengan topping bubuk kedelai dan susu kental manis rasanya enaaakkk. 


(Sempol, sumber google)



(Ketan Susu, Alun-alun Batu, Malang)

                Setelah kenyang makan ketan, kami kembali ke hotel untuk mandi. Pukul 20.00, kami dijemput lagi untuk mencari makan malam. Saat itu sebenarnya saya agak tidak enak badan karena perut kembung. Kebanyakan makan angin sepertinya. Tapi, teman-teman meminta saya untuk ikut cari makan. Sebelum makan, saya singgah di mini market dahulu untuk membeli tolak angin dan kamipun membeli nasi goreng di mas-mas pinggir jalan. Enak juga dan yang pastinya murah hanya 8000 rupiah, di Bandung rata-rata harganya sudah 12 ribuan. Ditutup dengan minum teh panas, rasanya nikmat di tengah cuaca dingin. Jam menunjukkan pukul 23.30. Kami diantarkan ke hotel dan langsung tidur.

Rabu, 26 Oktober 2016
                Agenda kami hari ini adalah membeli oleh-oleh Malang. Tidak lengkap jika kita berkunjung ke kota orang jika tidak membeli oleh-oleh khas daerah tersebut. Pagi ini adalah kali terakhir kami di Malang sebelum akhirnya pulang ke Bandung malam nanti. Kami bangun pukul 05.30 pagi dan packing barang-barang memastikan tidak ada yang tertinggal di hotel. Kami langsung mandi dan bergegas sarapan. Sambil menunggu Z menjemput, kami rencananya akan ke stasiun Malang Kota Lama yang letaknya ada di sebelah hotel yang kami inapi. Rencana kami untuk meng-upgrade tiket ke kelas bisnis akhirnya terlaksana. Ternyata penukaran tiket baru dilayani pukul 09.00. Sekitar 30 menit kami menunggu di stasiun sampai tiketnya berhasil di tukar. Kami kembali ke mobil, barang-barang kami sudah lengkap tidak ada yang tertinggal.

                Di perjalanan menuju Kediri, Z mengajak kami singgah ke Kampung Warna-Warni Jodipan. Katanya, tempat itu sedang hits di Malang. Kami turun kesana dengan membayar tiket Rp. 2000,- per orang. tiket itu disebutnya untuk pemeliharaan dan inovasi gambar di kampung warna warni. Lucu deh tempatnya. Apalagi kalau udah diambil pakai kamera, bakal jadi spot bagus untuk pecinta fotografi. Kesannya meriah banget. Beberapa foto saya ambil disitu untuk diabadikan bahwa saya pernah singgah disitu.



(Kampung Warna Warni Jodipan, Malang)

                Setelah puas di Jodipan, kami melanjutkan perjalanan, kali ini kami mampir ke Malang Strudel karena penasaran dengan kue pastry usahanya artis Teuku Wisnu. Disitu saya membeli satu kotak untuk dibawa ke rumah.  Perjalanan Malang – Kediri memakan waktu sekitar 3 jam. Perjalanan kami melewati bukit-bukit dan ditemani hujan deras. Di perbatasan Malang – Kediri, kami mampir di sebuah pasar yang entah apa namanya untuk membeli apel titipan paman saya. Sekaligus saya membeli keripik-keripik buah khas Malang. Waktu menunjukkan pukul 14.30 siang dan kami sudah ada di Kediri. Sebelum menuju Kampung Inggris, Pare, kami menyempatkan makan siang dulu. Lagi-lagi saya memilih makan bakso. Bakso yang baru saya coba, bukan menggunakan mie, tapi bakso dengan menggunakan lontong. Rasanya unik. 

                Tidak lama kemudian kami tiba di Kampung Inggris. Tempat ini sering sekali saya dengar. Bahkan saya sempat ditawari untuk kesana selama 3 bulan belajar Bahasa Inggris, tapi tidak pernah serius dan akhirnya tidak pernah jadi kesana. Sambil menemani teman2 saya nostalgia di Pare, saya melihat keadaan sekitar. Seru juga kelihatannya. Puas bernostalgia, saya diajak untuk makan Tansu (Ketan Susu) khas Pare, disini harganya lebih murah lagi dari yang di Alun-alun Batu. Hanya 3000 rupiah. Rasanya enak juga sama seperti yang di Batu. Bedanya hanya disini, diberi taburan kelapa parut. Satu jam di Pare rasanya cukup. Selanjutnya kami akan ke stasiun Kediri untuk bersiap pulang.

                Di tiket, tertera jam kepulangan kami adalah pukul 18.58 WIB. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.30. Kalau langsung ke stasiun, sepertinya akan menunggu terlalu lama. Akhirnya Z mengajak kami ke Monumen Simpang Lima Gumul Kab. Kediri. Monumen tersebut menjadi ikon Kab. Kediri karena bentuknya menyerupai Arc de Triomphe yang berada di Paris. Kami kesana dan foto-foto, anggap saja berada di Paris. Hehehe.

Jika Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis dan Perang Napoleon, namun belum ada kejelasan mengapa dan untuk menghormati siapa Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibangun.[3]. Dalam beberapa sumber menyebutkan, bahwa didirikannya monumen ini dikarenakan terinspirasi dari Jongko Jojoboyo, raja dari Kerajaan Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah di Kabupaten Kediri.[2][4] (wikipedia.org)
               
               



(Monumen Simpang Lima Gumul Kab. Kediri - dari google)

                Setelah melaksanakan shalat maghrib kami menuju ke stasiun Kediri. Letaknya tidak jauh dari Monumen Simpang Lima Gumul. Kami singgah lagi di toko yang menjual oleh-oleh khas Kediri. Saya membeli getuk pisang yang katany enak. Saya membeli beberapa untuk dibawa ke rumah dan kantor. Kamipun bergegas untuk segera ke stasiun. Tidak sampai 10 menit kami sampai di stasiun Kediri. Turun dari mobil dengan barang yang jauh lebih banyak, kami kemudian mencetak boarding pass tiket kami. Kami mengobrol kurang lebih 10 menit sebelum akhirnya jam menunjukkan pukul 18.58. Kami berdua berpamitan dengan Z, mengucapkan terima kasih sudah mau mengantar kami untuk berlibur. Selain itu juga menjadi fotografer kami. Hehe. Setelah itu kami naik kereta dan bye Kediri. Perjalanan masih berlanjut hingga 14 jam kemudian sampai tiba saatnya di Stasiun Bandung.


                Itulah cerita saya yang paling berkesan selama tahun 2016 ini. Mudah-mudahan saya dapat kembali berlibur ke tempat yang berbeda agar saya makin luas wawasan tentang daerah-daerah wisata di Indonesia. Tulisan ini selain menjadi catatan pribadi, diharapkan bisa menarik perhatian siapapun yang ingin mencoba berlibur. Saat itu saya jadi jatuh cinta sama suasana kota Malang. Menyejukkan dan damai suasananya. Semoga bisa kesana lagi suatu saat. Aamiin.

The Best City I've Ever Visited in 2016 (Part I)

Setelah beberapa lamanya saya melewatkan waktu untuk menulis, ini saatnya saya melanjutkan hobi menulis saya. Sebenarnya, tulisan tentang ini sudah ada di pikiran saya sejak akhir bulan Oktober 2016. Tapi apa daya, banyak hal yang mengalihkan keinginan saya untuk menulis ini. Mari kita mulai !
                Sekarang, sudah masuk tahun 2017. Kalau boleh review 2016, kota apa sih yang bikin saya terkenang selama 2016? Jawabannya adalah Malang. Sebenarnya, di 2016 ini tidak banyak kota yang saya kunjungi. Hanya itu-itu saja yang rutin dikunjungi setiap tahunnya. Tahun 2016 ini saya habiskan 100% di Pulau Jawa. Provinsi pun paling hanya Jawa Barat, DKI, dan Banten. Tidak terpikir untuk keluar dari tiga provinsi itu.
                Ceritanya begini, 15 Oktober 2016, ketika seorang sahabat menginap di rumah saya, kami yang saat itu sedang sama-sama jenuh terhadap aktivitas masing-masing, tiba-tiba saja curhat ingin liburan. Sahabat saya, sedang jenuh terhadap aktivitasnya di perkuliahan. Setahu saya kuliah pendidikan profesi psikolog kuliahnya padat juga. Selain itu, saya yang bekerja juga sedang merasakan suatu kejenuhan tingkat tinggi. Yap, we need vacation. Tapi kemana?
                Singkat cerita, waktu itu saya sedang menunggu warung makan milik ibu saya ditemani dia. Kita sedang mengobrol kota di Jawa Timur. Surabaya, Kediri, dan Malang. Ceritanya, dia sedang nostalgia pengalamannya selama 3 bulan di Kediri untuk belajar di Kampung Inggris, Pare. Untuk kota-kota di Jawa Timur, saya pernah mengunjungi kota Surabaya, itupun saat saya kelas 4 SD, sehingga tidak ingat kesannya seperti apa. Untuk kota Malang, saya belum pernah kesana tapi saya tahu kalau beberapa tahun terakhir ini kota Malang mulai naik dari sisi pariwisatanya.
                Entah saat itu siapa yang pertama mengajak pergi kesana, tiba-tiba saja kami sepakat untuk pergi kesana. Kapan? Kami sepakat tanggal 27 – 30 Oktober 2016. Tapi berubah lagi jadi tanggal 24 Oktober 2016. Saat itu saya belum minta izin pada atasan saya. Modal nekad saja, dengan yakin kami langsung pesan tiket pesawat dan kereta api. Kenapa pilihannya jatuh pada pesawat? Saat itu jujur saja saya dan sahabat saya itu sedang capek akan aktivitas masing-masing. Kami tidak ingin energi kami habis di perjalanan. Maka dipilihlah pesawat dengan harapan energi kami bisa di hemat dan bisa habiskan waktu lebih lama disana. Pulangnya baru kami pilih kereta api.
                Itinerary selama disana juga sebenarnya belum kami susun. Maklum saya buta tentang daerah sana. Tidak bisa memperkirakan berapa durasi waktunya. Saat itu kami dibantu oleh sebut saja Z, temannya selama belajar di Kampung Inggris. Dibantu oleh dia yang notabene memang orang Kediri dan kuliah di Surabaya dan Malang, kami akhirnya mendapatkan bayangan akan mengunjungi tempat apa saja. Susunan acara secara kasar akhirnya kami dapatkan.
Jadi kira-kira seperti inilah itinerary kami, pastinya semua disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Senin, 24 Oktober 2016
Bandara Husein Sastranegara Bandung
Tiba di Bandara Djuanda Surabaya
Beli sambal Bu Rudy
OTW Malang
Alun-alun Malang
Menuju Hotel

Selasa, 25 Oktober 2016
Keluar hotel, menuju Batu
OTW Batu
Menuju Eco Green Park
Makan Siang
Museum Angkut
Nongkrong di Alun-alun Batu
Kembali ke hotel

Rabu, 26 Oktober 2016
Check Out Hotel
Oleh-oleh khas Malang
OTW Kediri
Tiba di Pare
Gumul Kediri
Oleh-oleh kediri
Stasiun Kediri, Pulang

                Selanjutnya saya browsing tentang hotel. Intinya, kita ingin hotel yang murah tapi berbintang. Hahaha. Kita sempat berdebat gara-gara hotel yang tak kunjung fix. Selalu saja ada alternatif, hingga pada akhirnya kami menemukan hotel berbintang 4 yang sedang promo di suatu aplikasi pencarian hotel. Ditambahkan dengan voucher-voucher menjadikan harga hotel tersebut terjangkau bagi kami. Kami memutuskan untuk menginap di The Balava Hotel Malang. Letaknya cukup dekat dengan alun-alun kota Malang. Disana kami mem-booking untuk menginap selama 2 malam.
                Sementara ini, persiapannya selesai. Selanjutnya kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Saya sengaja packing pada hari Kamis, 23 Oktober 2016, bukan karena sudah tidak sabar untuk pergi, tetapi saat itu saya ada acara besar di kantor sehingga mulai hari Jumat sampai Minggu saya menginap disana. Saya pikir akan buang waktu jika menunda-nunda packing, karena ketika nanti tanggal 23 Oktober saya pulang ke rumah, pasti akan malam dan sudah lelah. Akhirnya, packingpun selesai malam itu. Kami berdua tetap berkomunikasi via voice call Line perihal  teknis keberangkatan. Tiket sudah saya pegang. Intinya aman.
                Hari Minggu tanggal 23 Oktober 2016, acara besar kantor saya sudah selesai. Hari itu saya sampai ke rumah pukul 18.30. Langsung mandi, makan, dan istirahat. Sebelum tidur saya cek barang-barang yang akan dibawa dan lengkap. Oya, 5 hari sebelum keberangkatan ke Malang, saya baru meminta izin kepada atasan saya. Alhamdulillah, diizinkan. Lega rasanya.

Jadi kira-kira seperti inilah itinerary kami kasarnya, pastinya semua disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Cerita selanjutnya di Part 2 ya..