Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 05 Januari 2017

The Best City I've Ever Visited in 2016 (Part II)



Senin, 24 Oktober 2016
                Pagi itu saya bangun pagi pukul 04.30. Begitu bersemangat untuk segera bangun. Kalau biasanya bangun tidur itu saya menghabiskan waktu 10-15 menit di tempat tidur sebelum akhirnya mandi, pagi itu saya langsung bergegas mandi. Di dalam hati saya bergumam, “Hari ini bakal liburan dan senang-senang. Harus semangat dong”. Langsung saja saya mandi dan setelahnya misscall sahabat saya untuk segera bangun. Khawatir dia terlambat jadi siapapun yang bangun duluan, maka kewajibannya untuk misscall. Pagi itu saya berangkat dari rumah pukul 05.45. Langsung menuju ke bandara Husein Sastranegara dengan diantar oleh adik saya. Saya langsung menuju tempat tunggu bandara sambil menunggu dia yang katanya sedang di jalan dengan menaiki GoJek. Kira-kira 30 menit menunggu, akhirnya dia datang. Saya saat itu sarapan roti dahulu dan kami langsung melakukan check in di bandara.

                Tidak lama menunggu, kamipun mulai memasuki pesawat. Di dalam pesawat saya berniat untuk tidur, karena aktivitas beberapa hari ini kurang tidur. Tapi ketika akan tidur selalu saja ada obrolan diantara kami. Tidurpun batal. Pukul 08.50 kami sampai di Bandara Juanda Surabaya. Keluar dari bandara, kami menunggu di tempat penjemputan. Rencananya Z akan menjemput kami, udara panas langsung membuat tubuh saya berkeringat. Memang jauh beda dengan di Bandung. Hehe. Si-Z tidak kunjung datang, baru sekitar pukul 11.00 siang dia datang. Rupanya dia baru pertama kali ke bandara Juanda sehingga sempat nyasar. Itu adalah pertemuan saya yang pertama kali dengan Z. Kami berkenalan dan langsung menuju ke mobil.

                Tujuan selanjutnya adalah makan. Ya, saya dan sahabat saya memang kelaparan malah dia sampai masuk angin karena kelaparan. Hahaha. Kami menuju ke tempat makan. Dipilihlah pujasera yang berjualan Ayam Penyet, tetapi sebelumnya kami sempat singgah di Masjid terbesar di Surabaya yaitu Masjid Al-Akbar. Sengaja kami turun di depan masjid untuk berfoto. Sehabis makan, kami langsung menuju ke Rumah Makan Bu Rudy, bukan untuk makan tapi dari awal saya ingin beli sambal Bu Rudy karena itu yang menjadi kesukaan ayah saya. Setelah sempat nyasar, akhirnya kami sampai. Kami membeli beberapa botol sambal dan makanan lainnya. Perjalanan kami lanjutkan, kami langsung on the way menuju ke Malang sekitar pukul 14.30an. Saat itu jalanan kota Surabaya macet, tidak kalah dengan Bandung macetnya. Saya tidur aja di mobil. Ternyata perjalanan Surabaya – Malang itu cukup jauh ya. Mungkin sama seperti Bandung – Jakarta.

                Pukul 18.30 kami sudah sampai di kota Malang, sebelum makan, kami singgah dulu di masjid untuk shalat. Mobil kami parkirkan di area masjid, kami berjalan kaki menuju tempat penjual bakso. Bakso menjadi pilihan makan malam kami. Rasanya kurang pas jika ke Malang tidak membeli bakso. Lumayan lama kami di tempat penjual bakso. Sambil menyantap bakso, kami mengobrol perihal rencana keesokan harinya. Pukul 20.00 kami langsung menuju ke hotel, sempat nyasar juga menuju ke hotel karena rute yang kita ambil jauh sekali. Kami check in di hotel Balava. Malam itu saya habiskan di hotel saja, selain capek juga saya mengantuk. Siapkan tenaga untuk explore Malang keesokan harinya.

Selasa, 25 Oktober 2016
                Hari ini, sesuai rencana kami akan explore kota Malang. Pagi-pagi sekitar pukul 07.00 kami berdua sudah turun ke restoran hotel untuk sarapan. Kira-kira 45 menit kami habiskan waktu disitu. Sambil menunggu Z menjemput kami, kamipun ngobrol-ngobrol tentang kesan kami dalam liburan kali ini. Liburan ini terbilang hemat. Rencananya kita akan pulang menggunakan kereta api ekonomi, lalu obrolan ini membuat kami ingin meng-upgrade kelas kereta api. Bukan apa-apa, kalau kereta ekonomi kan duduknya berhadapan dengan orang lain, kami malu dan khawatir kalau nanti tidur malah nggak nyaman. Hahaha. Kurang bebas aja rasanya. Maka, rencana itu baru sebatas obrolan dan belum benar-benar terealisasi. Tidak lama, Z menghubungi dan kami langsung menuju mobil di parkiran. Kemudian kami menuju ke Batu.

                Di perjalanan, kami singgah ke mini market untuk membeli cemilan. Jalanan saat itu tidak macet alias lancar jaya. Kira-kira pukul 10 pagi kami sudah sampai kota Batu. Udaranya sejuk, persis seperti Ciwidey (kalau di Bandung). Pukul 10.30 kami sampai ke tujuan pertama yaitu Eco Green Park. Sebuah tempat wisata alam yang di dalamnya terdiri dari taman edukasi ekologi yang mempelajari ilmu pengetahuan selain edukasi di dalamnya. Banyak spot foto yang bagus. Walaupun kesannya ini seperti tempat untuk anak kecil, tapi saya pribadi menyukai tempat ini.

                Tiba di Eco Green Park, kami langsung menuju ke loket tiket untuk membeli 3 lembar tiket. Dasar saya si ratu diskon, saat itu mata ini tiba-tiba tertuju ke sebuah banner yang tulisan intinya, dengan menukarkan Boarding Pass dari beberapa maskapai, dapatkan diskon 20 %, satu boarding pass berlaku untuk 2 lembar tiket diskon. Saya ingat, karena masih pakai celana yang kemarin, boarding pass tersebut saya simpan di saku belakang. Taraaaa, ahahaha rezeki. Dari pintu masuk hingga pintu keluar kurang lebih kami 3 jam menyusurinya, di dalamnya terdapat tempat 3 dimensi, rumah terbalik, dll. Seru juga. Kami menghabiskan waktu di tempat ini kurang lebih sampai pukul 13.30. Saat akan kembali ke mobil, hujan turun sangat deras. Kami berhenti di tempat 3 dimensi untuk berteduh sebentar. Ketika hujan agak reda, kami bergegas ke mobil dan langsung mencari tempat makan.




(foto di Eco Green Park, Batu – Malang)
  
                Akhirnya kami menuju ke alun-alun Batu Malang, sambil kedinginan karena hujan yang tidak kunjung berhenti, kami memutuskan untuk makan di sebuah pujasera tepat di depan alun-alun Batu. Siang itu saya memilih makan bakmi rebus. Enak sekali rasanya, mungkin karena cuaca yang dingin ditambah kondisi sedang lapar maka makanan apapun terasa enak. Bakmi rebus panas dengan cabai rawit. Bayangkan saja. Hahaha. Selesai makan kami ke destinasi selanjutnya yaitu Museum Angkut Malang. Kalau saya melihatnya di awal-awal seperti biasa saja. Tapi penasaran juga karena di media sosial saya banyak sekali teman yang posting foto disitu.Ternyata eh ternyata, berkesan sekali. Yang terpenting itu banyak spot fotonya. Lalu seperti di luar negeri juga.






(Foto Museum Angkut, Batu Malang)
Nb. Thank’s to Z udah jadi fotografer.. Heheh

                Betah banget ada di Museum Angkut, puas muter-muter disitu, ditambah cuaca kota Batu yang sejuk ya jadi makin betah aja. Kira-kira pukul 17.30 kami keluar dari lokasi Museum Angkut. Kami langsung ke Masjid Agung Batu Malang untuk shalat Maghrib dan selanjutnya kami nongkrong di Alun-alun Batu sambil membeli jajanan yang sedang hits disana yaitu Sempol. Rasanya mirip-mirip cilor kalau di Bandung itu, hanya bentuknya yang berbeda. Harganya murah, 500 rupiah per tusuk. Sambil mengobrol, tidak terasa waktu sudah malam dan semakin dingin. Menyesal saat itu saya membawa jaket yang tipis, jadi seperti tidak ada artinya. Hahaha. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk membeli Ketan Susu di alun-alun Batu. Harganya murah hanya sekitar 3 ribu atau 4 ribu saja. Ketan dengan topping bubuk kedelai dan susu kental manis rasanya enaaakkk. 


(Sempol, sumber google)



(Ketan Susu, Alun-alun Batu, Malang)

                Setelah kenyang makan ketan, kami kembali ke hotel untuk mandi. Pukul 20.00, kami dijemput lagi untuk mencari makan malam. Saat itu sebenarnya saya agak tidak enak badan karena perut kembung. Kebanyakan makan angin sepertinya. Tapi, teman-teman meminta saya untuk ikut cari makan. Sebelum makan, saya singgah di mini market dahulu untuk membeli tolak angin dan kamipun membeli nasi goreng di mas-mas pinggir jalan. Enak juga dan yang pastinya murah hanya 8000 rupiah, di Bandung rata-rata harganya sudah 12 ribuan. Ditutup dengan minum teh panas, rasanya nikmat di tengah cuaca dingin. Jam menunjukkan pukul 23.30. Kami diantarkan ke hotel dan langsung tidur.

Rabu, 26 Oktober 2016
                Agenda kami hari ini adalah membeli oleh-oleh Malang. Tidak lengkap jika kita berkunjung ke kota orang jika tidak membeli oleh-oleh khas daerah tersebut. Pagi ini adalah kali terakhir kami di Malang sebelum akhirnya pulang ke Bandung malam nanti. Kami bangun pukul 05.30 pagi dan packing barang-barang memastikan tidak ada yang tertinggal di hotel. Kami langsung mandi dan bergegas sarapan. Sambil menunggu Z menjemput, kami rencananya akan ke stasiun Malang Kota Lama yang letaknya ada di sebelah hotel yang kami inapi. Rencana kami untuk meng-upgrade tiket ke kelas bisnis akhirnya terlaksana. Ternyata penukaran tiket baru dilayani pukul 09.00. Sekitar 30 menit kami menunggu di stasiun sampai tiketnya berhasil di tukar. Kami kembali ke mobil, barang-barang kami sudah lengkap tidak ada yang tertinggal.

                Di perjalanan menuju Kediri, Z mengajak kami singgah ke Kampung Warna-Warni Jodipan. Katanya, tempat itu sedang hits di Malang. Kami turun kesana dengan membayar tiket Rp. 2000,- per orang. tiket itu disebutnya untuk pemeliharaan dan inovasi gambar di kampung warna warni. Lucu deh tempatnya. Apalagi kalau udah diambil pakai kamera, bakal jadi spot bagus untuk pecinta fotografi. Kesannya meriah banget. Beberapa foto saya ambil disitu untuk diabadikan bahwa saya pernah singgah disitu.



(Kampung Warna Warni Jodipan, Malang)

                Setelah puas di Jodipan, kami melanjutkan perjalanan, kali ini kami mampir ke Malang Strudel karena penasaran dengan kue pastry usahanya artis Teuku Wisnu. Disitu saya membeli satu kotak untuk dibawa ke rumah.  Perjalanan Malang – Kediri memakan waktu sekitar 3 jam. Perjalanan kami melewati bukit-bukit dan ditemani hujan deras. Di perbatasan Malang – Kediri, kami mampir di sebuah pasar yang entah apa namanya untuk membeli apel titipan paman saya. Sekaligus saya membeli keripik-keripik buah khas Malang. Waktu menunjukkan pukul 14.30 siang dan kami sudah ada di Kediri. Sebelum menuju Kampung Inggris, Pare, kami menyempatkan makan siang dulu. Lagi-lagi saya memilih makan bakso. Bakso yang baru saya coba, bukan menggunakan mie, tapi bakso dengan menggunakan lontong. Rasanya unik. 

                Tidak lama kemudian kami tiba di Kampung Inggris. Tempat ini sering sekali saya dengar. Bahkan saya sempat ditawari untuk kesana selama 3 bulan belajar Bahasa Inggris, tapi tidak pernah serius dan akhirnya tidak pernah jadi kesana. Sambil menemani teman2 saya nostalgia di Pare, saya melihat keadaan sekitar. Seru juga kelihatannya. Puas bernostalgia, saya diajak untuk makan Tansu (Ketan Susu) khas Pare, disini harganya lebih murah lagi dari yang di Alun-alun Batu. Hanya 3000 rupiah. Rasanya enak juga sama seperti yang di Batu. Bedanya hanya disini, diberi taburan kelapa parut. Satu jam di Pare rasanya cukup. Selanjutnya kami akan ke stasiun Kediri untuk bersiap pulang.

                Di tiket, tertera jam kepulangan kami adalah pukul 18.58 WIB. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.30. Kalau langsung ke stasiun, sepertinya akan menunggu terlalu lama. Akhirnya Z mengajak kami ke Monumen Simpang Lima Gumul Kab. Kediri. Monumen tersebut menjadi ikon Kab. Kediri karena bentuknya menyerupai Arc de Triomphe yang berada di Paris. Kami kesana dan foto-foto, anggap saja berada di Paris. Hehehe.

Jika Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis dan Perang Napoleon, namun belum ada kejelasan mengapa dan untuk menghormati siapa Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibangun.[3]. Dalam beberapa sumber menyebutkan, bahwa didirikannya monumen ini dikarenakan terinspirasi dari Jongko Jojoboyo, raja dari Kerajaan Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah di Kabupaten Kediri.[2][4] (wikipedia.org)
               
               



(Monumen Simpang Lima Gumul Kab. Kediri - dari google)

                Setelah melaksanakan shalat maghrib kami menuju ke stasiun Kediri. Letaknya tidak jauh dari Monumen Simpang Lima Gumul. Kami singgah lagi di toko yang menjual oleh-oleh khas Kediri. Saya membeli getuk pisang yang katany enak. Saya membeli beberapa untuk dibawa ke rumah dan kantor. Kamipun bergegas untuk segera ke stasiun. Tidak sampai 10 menit kami sampai di stasiun Kediri. Turun dari mobil dengan barang yang jauh lebih banyak, kami kemudian mencetak boarding pass tiket kami. Kami mengobrol kurang lebih 10 menit sebelum akhirnya jam menunjukkan pukul 18.58. Kami berdua berpamitan dengan Z, mengucapkan terima kasih sudah mau mengantar kami untuk berlibur. Selain itu juga menjadi fotografer kami. Hehe. Setelah itu kami naik kereta dan bye Kediri. Perjalanan masih berlanjut hingga 14 jam kemudian sampai tiba saatnya di Stasiun Bandung.


                Itulah cerita saya yang paling berkesan selama tahun 2016 ini. Mudah-mudahan saya dapat kembali berlibur ke tempat yang berbeda agar saya makin luas wawasan tentang daerah-daerah wisata di Indonesia. Tulisan ini selain menjadi catatan pribadi, diharapkan bisa menarik perhatian siapapun yang ingin mencoba berlibur. Saat itu saya jadi jatuh cinta sama suasana kota Malang. Menyejukkan dan damai suasananya. Semoga bisa kesana lagi suatu saat. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar