Senin, 24 Oktober 2016
Pagi itu saya bangun pagi pukul
04.30. Begitu bersemangat untuk segera bangun. Kalau biasanya bangun tidur itu
saya menghabiskan waktu 10-15 menit di tempat tidur sebelum akhirnya mandi,
pagi itu saya langsung bergegas mandi. Di dalam hati saya bergumam, “Hari ini
bakal liburan dan senang-senang. Harus semangat dong”. Langsung saja saya mandi dan setelahnya misscall sahabat saya untuk segera bangun. Khawatir dia terlambat jadi
siapapun yang bangun duluan, maka kewajibannya untuk misscall. Pagi itu saya berangkat dari rumah pukul 05.45. Langsung
menuju ke bandara Husein Sastranegara dengan diantar oleh adik saya. Saya
langsung menuju tempat tunggu bandara sambil menunggu dia yang katanya sedang
di jalan dengan menaiki GoJek. Kira-kira 30 menit menunggu, akhirnya dia datang.
Saya saat itu sarapan roti dahulu dan kami langsung melakukan check in di
bandara.
Tidak lama menunggu, kamipun
mulai memasuki pesawat. Di dalam pesawat saya berniat untuk tidur, karena
aktivitas beberapa hari ini kurang tidur. Tapi ketika akan tidur selalu saja
ada obrolan diantara kami. Tidurpun batal. Pukul 08.50 kami sampai di Bandara
Juanda Surabaya. Keluar dari bandara, kami menunggu di tempat penjemputan.
Rencananya Z akan menjemput kami, udara panas langsung membuat tubuh saya
berkeringat. Memang jauh beda dengan di Bandung. Hehe. Si-Z tidak kunjung
datang, baru sekitar pukul 11.00 siang dia datang. Rupanya dia baru pertama
kali ke bandara Juanda sehingga sempat nyasar. Itu adalah pertemuan saya yang
pertama kali dengan Z. Kami berkenalan dan langsung menuju ke mobil.
Tujuan selanjutnya adalah makan.
Ya, saya dan sahabat saya memang kelaparan malah dia sampai masuk
angin karena kelaparan. Hahaha. Kami menuju ke tempat makan. Dipilihlah
pujasera yang berjualan Ayam Penyet, tetapi sebelumnya kami sempat singgah di
Masjid terbesar di Surabaya yaitu Masjid Al-Akbar. Sengaja kami turun di depan masjid untuk berfoto.
Sehabis makan, kami langsung menuju ke Rumah Makan Bu Rudy, bukan untuk makan
tapi dari awal saya ingin beli sambal Bu Rudy karena itu yang menjadi kesukaan
ayah saya. Setelah sempat nyasar, akhirnya kami sampai. Kami membeli beberapa
botol sambal dan makanan lainnya. Perjalanan kami lanjutkan, kami langsung on
the way menuju ke Malang sekitar pukul 14.30an. Saat itu jalanan kota Surabaya
macet, tidak kalah dengan Bandung macetnya. Saya tidur aja di mobil. Ternyata
perjalanan Surabaya – Malang itu cukup jauh ya. Mungkin sama seperti Bandung –
Jakarta.
Pukul 18.30 kami sudah sampai di
kota Malang, sebelum makan, kami singgah dulu di masjid untuk shalat. Mobil
kami parkirkan di area masjid, kami berjalan kaki menuju tempat penjual bakso.
Bakso menjadi pilihan makan malam kami. Rasanya kurang pas jika ke Malang tidak
membeli bakso. Lumayan lama kami di tempat penjual bakso. Sambil menyantap
bakso, kami mengobrol perihal rencana keesokan harinya. Pukul 20.00 kami
langsung menuju ke hotel, sempat nyasar juga menuju ke hotel karena rute yang
kita ambil jauh sekali. Kami check in
di hotel Balava. Malam itu saya habiskan di hotel saja, selain capek juga saya
mengantuk. Siapkan tenaga untuk explore
Malang keesokan harinya.
Selasa, 25 Oktober 2016
Hari ini, sesuai rencana kami
akan explore kota Malang. Pagi-pagi sekitar pukul 07.00 kami berdua sudah turun
ke restoran hotel untuk sarapan. Kira-kira 45 menit kami habiskan waktu disitu.
Sambil menunggu Z menjemput kami, kamipun ngobrol-ngobrol tentang kesan kami
dalam liburan kali ini. Liburan ini terbilang hemat. Rencananya kita akan
pulang menggunakan kereta api ekonomi, lalu obrolan ini membuat kami ingin
meng-upgrade kelas kereta api. Bukan apa-apa, kalau kereta ekonomi kan duduknya
berhadapan dengan orang lain, kami malu dan khawatir kalau nanti tidur malah nggak
nyaman. Hahaha. Kurang bebas aja rasanya. Maka, rencana itu
baru sebatas obrolan dan belum benar-benar terealisasi. Tidak lama, Z
menghubungi dan kami langsung menuju mobil di parkiran. Kemudian kami menuju ke
Batu.
Di perjalanan, kami singgah ke
mini market untuk membeli cemilan. Jalanan saat itu tidak macet alias lancar
jaya. Kira-kira pukul 10 pagi kami sudah sampai kota Batu. Udaranya sejuk,
persis seperti Ciwidey (kalau di Bandung). Pukul 10.30 kami sampai ke tujuan
pertama yaitu Eco Green Park. Sebuah tempat wisata alam yang di dalamnya
terdiri dari taman edukasi ekologi yang mempelajari ilmu pengetahuan selain
edukasi di dalamnya. Banyak spot foto yang bagus. Walaupun kesannya ini seperti
tempat untuk anak kecil, tapi saya pribadi menyukai tempat ini.
Tiba di Eco Green Park, kami
langsung menuju ke loket tiket untuk membeli 3 lembar tiket. Dasar saya si ratu
diskon, saat itu mata ini tiba-tiba tertuju ke sebuah banner yang tulisan
intinya, dengan menukarkan Boarding Pass dari beberapa maskapai, dapatkan
diskon 20 %, satu boarding pass berlaku untuk 2 lembar tiket diskon. Saya
ingat, karena masih pakai celana yang kemarin, boarding pass tersebut saya
simpan di saku belakang. Taraaaa, ahahaha rezeki. Dari pintu masuk hingga pintu
keluar kurang lebih kami 3 jam menyusurinya, di dalamnya terdapat tempat 3
dimensi, rumah terbalik, dll. Seru juga. Kami menghabiskan waktu di tempat ini
kurang lebih sampai pukul 13.30. Saat akan kembali ke mobil, hujan turun sangat
deras. Kami berhenti di tempat 3 dimensi untuk berteduh sebentar. Ketika hujan
agak reda, kami bergegas ke mobil dan langsung mencari tempat makan.
(foto di Eco Green Park, Batu – Malang)
Akhirnya kami menuju ke
alun-alun Batu Malang, sambil kedinginan karena hujan yang tidak kunjung
berhenti, kami memutuskan untuk makan di sebuah pujasera tepat di depan
alun-alun Batu. Siang itu saya memilih makan bakmi rebus. Enak sekali rasanya,
mungkin karena cuaca yang dingin ditambah kondisi sedang lapar maka makanan
apapun terasa enak. Bakmi rebus panas dengan cabai rawit. Bayangkan saja.
Hahaha. Selesai makan kami ke destinasi selanjutnya yaitu Museum Angkut Malang.
Kalau saya melihatnya di awal-awal seperti biasa saja. Tapi penasaran juga
karena di media sosial saya banyak sekali teman yang posting foto
disitu.Ternyata eh ternyata, berkesan sekali. Yang terpenting itu banyak spot
fotonya. Lalu seperti di luar negeri juga.
(Foto Museum Angkut, Batu Malang)
Nb. Thank’s to Z udah jadi fotografer..
Heheh
Betah banget ada di Museum
Angkut, puas muter-muter disitu, ditambah cuaca kota Batu yang sejuk ya jadi
makin betah aja. Kira-kira pukul 17.30 kami keluar dari lokasi Museum Angkut.
Kami langsung ke Masjid Agung Batu Malang untuk shalat Maghrib dan selanjutnya
kami nongkrong di Alun-alun Batu sambil membeli jajanan yang sedang hits disana
yaitu Sempol. Rasanya mirip-mirip cilor kalau di Bandung itu, hanya bentuknya
yang berbeda. Harganya murah, 500 rupiah per tusuk. Sambil mengobrol, tidak
terasa waktu sudah malam dan semakin dingin. Menyesal saat itu saya membawa
jaket yang tipis, jadi seperti tidak ada artinya. Hahaha. Sebelum pulang, kami
menyempatkan diri untuk membeli Ketan Susu di alun-alun Batu. Harganya murah
hanya sekitar 3 ribu atau 4 ribu saja. Ketan dengan topping bubuk kedelai dan
susu kental manis rasanya enaaakkk.
(Sempol, sumber google)
(Ketan Susu, Alun-alun Batu, Malang)
Setelah kenyang makan ketan,
kami kembali ke hotel untuk mandi. Pukul 20.00, kami dijemput lagi untuk
mencari makan malam. Saat itu sebenarnya saya agak tidak enak badan karena
perut kembung. Kebanyakan makan angin sepertinya. Tapi, teman-teman meminta
saya untuk ikut cari makan. Sebelum makan, saya singgah di mini market dahulu
untuk membeli tolak angin dan kamipun membeli nasi goreng di mas-mas pinggir
jalan. Enak juga dan yang pastinya murah hanya 8000 rupiah, di Bandung
rata-rata harganya sudah 12 ribuan. Ditutup dengan minum teh panas, rasanya
nikmat di tengah cuaca dingin. Jam menunjukkan pukul 23.30. Kami diantarkan ke
hotel dan langsung tidur.
Rabu, 26 Oktober 2016
Agenda kami hari ini adalah
membeli oleh-oleh Malang. Tidak lengkap jika kita berkunjung ke kota orang jika
tidak membeli oleh-oleh khas daerah tersebut. Pagi ini adalah kali terakhir
kami di Malang sebelum akhirnya pulang ke Bandung malam nanti. Kami bangun
pukul 05.30 pagi dan packing barang-barang memastikan tidak ada yang tertinggal
di hotel. Kami langsung mandi dan bergegas sarapan. Sambil menunggu Z menjemput, kami rencananya akan ke stasiun Malang Kota Lama yang letaknya ada
di sebelah hotel yang kami inapi. Rencana kami untuk meng-upgrade tiket ke
kelas bisnis akhirnya terlaksana. Ternyata penukaran tiket baru dilayani pukul
09.00. Sekitar 30 menit kami menunggu di stasiun sampai tiketnya berhasil di
tukar. Kami kembali ke mobil, barang-barang kami sudah lengkap tidak ada yang
tertinggal.
Di perjalanan menuju Kediri,
Z mengajak kami singgah ke Kampung Warna-Warni Jodipan. Katanya, tempat itu
sedang hits di Malang. Kami turun kesana dengan membayar tiket Rp. 2000,- per
orang. tiket itu disebutnya untuk pemeliharaan dan inovasi gambar di kampung
warna warni. Lucu deh tempatnya. Apalagi kalau udah diambil pakai kamera, bakal
jadi spot bagus untuk pecinta fotografi. Kesannya meriah banget. Beberapa foto
saya ambil disitu untuk diabadikan bahwa saya pernah singgah disitu.
(Kampung Warna Warni Jodipan, Malang)
Setelah puas di Jodipan, kami
melanjutkan perjalanan, kali ini kami mampir ke Malang Strudel karena penasaran
dengan kue pastry usahanya artis Teuku Wisnu. Disitu saya membeli satu kotak
untuk dibawa ke rumah. Perjalanan Malang – Kediri memakan waktu sekitar 3
jam. Perjalanan kami melewati bukit-bukit dan ditemani hujan deras. Di
perbatasan Malang – Kediri, kami mampir di sebuah pasar yang entah apa namanya
untuk membeli apel titipan paman saya. Sekaligus saya membeli keripik-keripik
buah khas Malang. Waktu menunjukkan pukul 14.30 siang dan kami sudah ada di
Kediri. Sebelum menuju Kampung Inggris, Pare, kami menyempatkan makan siang
dulu. Lagi-lagi saya memilih makan bakso. Bakso yang baru saya coba, bukan
menggunakan mie, tapi bakso dengan menggunakan lontong. Rasanya unik.
Tidak lama kemudian kami tiba di
Kampung Inggris. Tempat ini sering sekali saya dengar. Bahkan saya sempat
ditawari untuk kesana selama 3 bulan belajar Bahasa Inggris, tapi tidak pernah
serius dan akhirnya tidak pernah jadi kesana. Sambil menemani teman2 saya nostalgia
di Pare, saya melihat keadaan sekitar. Seru juga kelihatannya. Puas
bernostalgia, saya diajak untuk makan Tansu (Ketan Susu) khas Pare, disini
harganya lebih murah lagi dari yang di Alun-alun Batu. Hanya 3000 rupiah.
Rasanya enak juga sama seperti yang di Batu. Bedanya hanya disini, diberi
taburan kelapa parut. Satu jam di Pare rasanya cukup. Selanjutnya kami akan ke
stasiun Kediri untuk bersiap pulang.
Di tiket, tertera jam kepulangan
kami adalah pukul 18.58 WIB. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.30. Kalau
langsung ke stasiun, sepertinya akan menunggu terlalu lama. Akhirnya Z
mengajak kami ke Monumen Simpang Lima Gumul Kab. Kediri. Monumen tersebut
menjadi ikon Kab. Kediri karena bentuknya menyerupai Arc de Triomphe yang berada di Paris. Kami kesana dan
foto-foto, anggap saja berada di Paris. Hehehe.
Jika Arc de
Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur dan mati bagi Perancis
dalam Revolusi
Perancis dan Perang Napoleon, namun belum ada kejelasan mengapa dan untuk
menghormati siapa Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibangun.[3]. Dalam beberapa sumber menyebutkan, bahwa didirikannya
monumen ini dikarenakan terinspirasi dari Jongko
Jojoboyo, raja dari Kerajaan
Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah
di Kabupaten Kediri.[2][4] (wikipedia.org)
(Monumen Simpang Lima Gumul Kab. Kediri - dari google)
Setelah melaksanakan shalat
maghrib kami menuju ke stasiun Kediri. Letaknya tidak jauh dari Monumen Simpang
Lima Gumul. Kami singgah lagi di toko yang menjual oleh-oleh khas Kediri. Saya
membeli getuk pisang yang katany enak. Saya membeli beberapa untuk dibawa ke
rumah dan kantor. Kamipun bergegas untuk segera ke stasiun. Tidak sampai 10
menit kami sampai di stasiun Kediri. Turun dari mobil dengan barang yang jauh
lebih banyak, kami kemudian mencetak boarding pass tiket kami. Kami mengobrol
kurang lebih 10 menit sebelum akhirnya jam menunjukkan pukul 18.58. Kami berdua
berpamitan dengan Z, mengucapkan terima kasih sudah mau mengantar kami untuk
berlibur. Selain itu juga menjadi fotografer kami. Hehe. Setelah itu kami naik
kereta dan bye Kediri. Perjalanan masih berlanjut hingga 14 jam kemudian sampai
tiba saatnya di Stasiun Bandung.
Itulah cerita saya yang paling
berkesan selama tahun 2016 ini. Mudah-mudahan saya dapat kembali berlibur ke
tempat yang berbeda agar saya makin luas wawasan tentang daerah-daerah wisata
di Indonesia. Tulisan ini selain menjadi catatan pribadi, diharapkan bisa
menarik perhatian siapapun yang ingin mencoba berlibur. Saat itu saya jadi
jatuh cinta sama suasana kota Malang. Menyejukkan dan damai suasananya. Semoga
bisa kesana lagi suatu saat. Aamiin.














0 komentar:
Posting Komentar