Dahulu,
saya adalah orang yang sangat pemalu. Boro-boro untuk bicara dengan orang lain,
untuk berbicara dengan saudara saja jika itu tidak terlalu penting ya tidak.
Mungkin saya seseorang dengan tipe pengamat. Untuk mengetahui sesuatu, saya
biasanya mendengarkan atau hanya mempelajari sekitarnya tanpa mencoba, tetapi
dalam otak biasanya berpikir. Bahasa kerennya mungkin berpikir dalam diam.
Saya sadar,
kelemahan saya saat itu adalah saya tidak biasa berbicara di hadapan orang
banyak. Saya cenderung pasif. Hal itu terjadi sampai saya duduk di bangku
perkuliahan. Suatu ketika, di suatu semester keluarlah nilai mata kuliah
berikut dengan Indeks Prestasi (IP) – nya. Seperti biasa, saya selalu menghadap
kepada Dosen Wali untuk evaluasi dan perencanaan studi. IP saya di semester itu
hanya sekitar 2,6 saja. Ketika itu saya dengan santai menghadap dosen wali
saya. Tanpa di duga, dosen wali saya menasehati saya dengan agak “keras”.
“Kamu tahu apa salah kamu sampai nilainya cuma segini?”
tanyanya
Saya diam sambil berpikir apa yang harus saya jawab.
Tiba-tiba saja secara spontan saya jawab, “Nggak rajin, Pak.”
“Yakin? Setahu saya kamu rajin kuliah. Absennya penuh
kan?”
Saya mengangguk.
“Mau tahu apa salah kamu?” katanya lagi
“Iya pak.” jawab saya
“Kamu itu pasif. Coba aktif. Kalau di kelas jawab
pertanyaan. Kalau nggak tahu apa yang harus dijawab, ajukan pertanyaan. Mau
nilainya kayak gini terus?”
Saya menggeleng.
Kurang
lebih seperti itu nasehatnya pada saya. Selanjutnya diisi dengan perencanaan
studi semester berikutnya. Nasehat
dosen wali saya itu sampai saat ini terus terngiang-ngiang di kepala saya.
Memang, saat itu penyampaiannya tidak sambil marah-marah. Penyampaiannya tegas
dan saya memandang bahwa nasehatnya itu keluar agar saya maju. Agar saya tidak
terjebak di zona nyaman saya yaitu diam.. diam.. diam.
Saya coba
perbaiki sistem belajar saya pada semester berikutnya. Mencoba untuk mengikuti
saran yang diberikan oleh dosen wali saya tersebut. Persoalan terbesar dalam
diri saya saat itu adalah malu. Ya, pemalu. Gara-gara sifat malu ini, segala
sesuatu yang menjadi pertanyaan di otak saya dipendam. Itu yang membuat saya
tidak maju-maju. Sebenarnya, motivasi saya saat itu untuk lebih aktif, semata
adalah karena nilai. Maklumlah, mahasiswa yang sudah dekat dengan skripsi pasti
apapun dikejar demi nilai bagus. Saya coba untuk lebih aktif pada semua mata
kuliah. Kadang untuk angkat tangan mengajukan pertanyaan saja gemetar. Mau
berbicara itu rasanya berat sekali. Kelu. Kemudian, saya lawan rasa malu itu.
DEMI NILAI.
Alhamdulilah,
pada akhir semester, nilai saya melonjak naik. Dengan IP diatas 3,0, tentu
senang rasanya. Pengorbanan saya untuk menghiraukan rasa malu dan lebih aktif
di kelas berbuah hasil. Ketika perwalian dan berhadapan dengan dosen wali,
beliau juga tersenyum karena saya dapat membuktikan peningkatan IP. Ketika
masuk ruangannya, saya langsung disalami oleh beliau.
“Naah, bisa kan Bu (beliau kadang memanggil
mahasiswanya dengan sebutan Ibu)? Gitu dong. Selamat. Selamat” katanya
“Iya Alhamdulillah pak, bisa.” jawabku
“Pertahankan ya, kalau bisa tingkatkan lagi.”
nasehatnya
“Iya Pak, benar kata Bapak harus aktif. Terima Kasih
ya Pak.”
Hal yang
menjadi perhatian saya disini adalah
bukan soal akademik. Diluar itu saya merasakan bahwa untuk maju adalah
mau meninggalkan zona nyaman. Zona nyaman saya adalah diam. Malu dan kurang
aktif. Hal tersebut dahulu saya anggap sepele. Ternyata, hal tersebut
benar-benar saya butuhkan di dunia kerja.
Seiring
dengan kedewasaan dan keterpaksaan, mau atau tidak mau dan suka atau tidak suka
hal-hal semacam ini memang harus dilatih. Public
speaking lah yang membuat kita
dapat dihargai oleh orang lain. Bagi orang yang bekerja pada bidang jasa, tentu
hal seperti ini adalah modal utama, keterampilan ini mempengaruhi reputasi
kita. Saya mengalami itu.
Ternyata,
setelah terbiasa berbicara dengan orang lain, kita juga dapat menilai dan
mengetahui berbagai macam karakter orang. Ya, ini semua saya anggap sebagai
pelajaran dan pengalaman. Mungkin, sekarangpun masih banyak yang memandang saya
pemalu. Sadar bahwa saya harus terus belajar. Keterampilan saya dalam berbicara
masih perlu diasah kembali. Terbayang jika diri ini tidak belajar mengenai public speaking. Akan jadi seperti apa
saya ini? Bagaimana saya harus menghadapi orang jika tidak dibekali dengan softskill ini?
Di dalam
tulisan ini juga saya ingin mengucapkan rasa terima kasih saya yang tak
terhingga atas motivasi dan nasehat dari dosen wali saya Bapak Drs. P. C.
Suroso, MSP., Lic.Rer.Reg. karena berkat beliaulah saya
mampu untuk keluar dari zona nyaman saya. Tidak selamanya Silent is Gold.
Karena kita bisa mendapatkan gold lebih banyak jika meninggalkan silent. Kurang
lebih begitu yang saya rasakan.
Sekian tulisan saya di malam yang
sunyi ini. Tulisan ini hanyalah hasil karya jari-jari yang menari begitu saja di
atas keyboard laptop saya atas inspirasi dari otak.
=SEKIAN=






0 komentar:
Posting Komentar