Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 07 Januari 2015

UMROH #Part4


21 Desember 2014

            Hari ini menurut agenda kami akan melakukan City Tour Mekkah, kami akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sekitar Mekkah. Setelah sebelumnya kami melakukan shalat subuh di masjid, kami langsung kembali ke hotel. Rencananya pukul 09.00 kami berkumpul di lobby untuk berangkat bersama menggunakan bus ke tujuan pertama. Tujuan pertama mengunjungi Jabal Tsur, letaknya di sebelah selatan Mekkah sekitar 6 km dari Masjidil Haram. Kalau nggak salah dulu Rasulullah bersama dengan sahabatnya Abubakar Asshiddiq pernah berlindung di tempat tersebut ketika dalam perjalanan ke Madinah. Setelah  Rasulullah SAW selamat dari kepungan orang kafir Quraisy dirumahnya, maka beliau dengan diam-diam menyinggahi sahabat Abu Bakar Ashiddiq. Dari rumah Abu Bakar beliau bersama-sama dengan Abu Bakar lebih dahulu berlindung bersembunyi di Jabal Tsur kemudian menuju Madinah, sebagian orang-orang kafir Quraisy waktu mengejar Rasulullah SAW ada yang telah sampai Gua Tsur, mereka mendapatkan gua tersebut, tertutup dengan sarang laba-laba, dan nampak burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Dengan melihat keadaan yang sedemikian itu, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mungkin bersembunyi di gua tersebut. Setelah orang kafir Quraisy pergi maka beberapa hari kemudian Abu Bakar Ashiddiq berangkat menuju Madinah dengan selamat. Itu sebabnya di sekitar masjidil haram, banyak sekali burung-burung merpati dan kita bisa dengan bebas memberi makan burung merpati  tersebut. Di Jabal Tsur  kami hanya sebentar saja dan berdoa bersama disitu, setelahnya kami langsung menuju ke Jabal Nur.
            Jabal Nur berada di kawasan Hejaz atau atau sekitar 7 km dari Masjidil Haram. Di Jabal Nur, kami hanya melihat melalui bus saja. Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mendaki ke atas yaitu ke Gua Hira. Waktu pendakian kalau tidak salah memakan waktu 3 jam menurut informasi yang saya dengar. Seperti kita ketahui bahwa di Gua Hiro-lah Rasulullah bertahan dan (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Ini adalah gua kecil dengan panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter, serta letaknya berada 4 meter dari atas bagian puncak gunungnya. Dan ditempat ini pula wahyu pertama turun yaitu Surat Al Alaq ayat 1-5. Nabi Muhammad sudah sejak lama suka datang ke Gua Hira untuk menyendiri. Nabi Muhammad sering menenangkan pikiran di sana, hingga suatu hari wahyu tersebut turun melalui malaikat Jibril. Setelah wahyu pertama turun, lalu Nabi Muhammad melalui serangkaian proses panjang menjadi nabi dan rasul hingga Isra dan Miraj.


(Foto Jabal Nur – foto dari google)

            Dari Jabal Nur kami langsung menuju ke Jabal Rahmah, Jabal Rahmah ini merupakan tempat bertemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa. Maka dari itu, banyak yang ke Jabal Rahmah untuk berdoa meminta jodoh disitu. Untuk mengenangnya, di atas Jabal Rahmah terdapat suatu tugu yang terbuat dari beton persegi empat dengan lebar 1,8 meter dan tingginya 8 meter. Masyarakat setempat percaya, lokasi bertemunya Adam dan Hawa persis di titik tugu tersebut. Alhamdulillah, saya sempat menaiki Jabal Rahmah dan berdoa di atasnya. Berdoa meminta yang terbaik untuk urusan satu itu. Saat itu nenek saya tidak ikut menaiki bukit tersebut karena masih sakit kaki katanya. Saya naik ke bukit tersebut bersama dengan Ibu Linda satu rombongan Panghegar.  



 (Foto Jabal Rahmah)

Destinasi selanjutnya adalah Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Disitu, kami hanya berkeliling saja dengan menggunakan bus sambil dijelaskan oleh Pak Ustadz, mulai muncul tenda-tenda di sekitarnya. Tempat-tempat tersebut biasanya dikunjungi oleh para jamaah haji di musim haji. Disitulah para jamaah haji melakukan mabit.
            City Tour diakhiri disitu. Kamipun bergegas untuk menuju ke Masjid Ji’ronah untuk mengambil miqot. Pada hari ini kami akan melakukan umroh ke dua. Umroh kedua ini siifatnya sunnah. Ada beberapa jamaah umroh panghegar yang tidak mengikutinya, terutama jamaah yang sudah berumur. Ketika saya tanya kepada nenek saya, beliau ternyata ingin mengikuti umroh kedua ini, saya tanya berulang-ulang untuk meyakinkannya dan ternyata memang niat melakukannya karena akan membadalkan umroh untuk almarhum kakek saya. Karena itu saya benar-benar yakin bahwa nenek saya sanggup menjalani umroh kedua karena jika hal itu berhubungan dengan almarhum aki, pasti bersemangat menjalankannya. Badal Umroh adalah melaksanakan ibadah umroh atas nama orang lain. Jadi kita harus niat umroh atas nama seseorang yang dibadalkan. Sebaiknya, jika membadalkan umroh kepada seseorang yang tidak mungkin dapat melaksanakan umroh, seperti kepada orang yang sudah meninggal, atau bagi siapapun yang secara fisik tidak mampu lagi melaksanakan umroh.
            Kami mengambil miqot di Masjid Ji’ronah, menarik untuk saya ketika mendengar Pak Ustadz menceritakan sejarah Masjid Ji’ronah ini. Sebelum menjadi masjid, diceritakan disini pernah hidup seorang wanita sholehah yang pekerjaannya hanya menenun. Setiap hari dia menenun dan hanya berhenti ketika waktunya shalat saja. Pagi hari sampai malam hari ia menenun benang menjadi kain, selanjutnya setelah jadi kain, diurai kembali menjadi benang. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Saya sebenarnya kurang paham apa maksudnya mengurai kain itu menjadi benang kembali. Yang pasti di Masjid inilah, Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut (HR. Bukhari dan Muslim). Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 16 km dari kota Makkah.



(Foto Masjid Ji’ronah)

Disitu, kami melakukan shalat sunah ihram, dan di dalam bus kami membaca niat dipandu Pak Ustadz. Karena kami sudah berniat ihram, maka larangan-larangan yang ada ketika berihram berlaku kembali. Waktu menunjukkan pukul 13.30, kami langsung menuju ke hotel untuk menyimpan barang-barang kami dan langsung berkumpul kembali di lobby hotel untuk sama-sama berangkat menunaikan umroh kedua. Sampai di Masjid, kami  langsung menuju ke tempat thawaf. Melihat cuaca yang agak terik, saya mengkhawatirkan kondisi nenek saya. Alhamdulilah baik-baik saja. Tujuh putaran thawaf selesai dilakukan, lantas kami menuju ke bukit safa dan marwah untuk melakukan sa’i. Di tengah perjalanan kami melakukan sa’i, terdengar suara adzan ashar dan kamipun berhenti sejenak disitu dan melakukan shalat ashar bersama diantara bukit safa dan marwah.  Selesai shalat ashar, kami melanjutkan sa’i kembali. Setelah 7 kali, kamipun melakukan tahalul lagi. Sekitar pukul 16.30 kami selesai melaksanakan umroh ke-dua ini. Beberapa dari rombongan kami ada yang memutuskan untuk tinggal di masjid menunggu waktu maghrib dan isya. Saya bersama dengan nenek saya dan pak ustadz kembali ke hotel. Nenek saya dan saya melakukan shalat magrib di hotel saja. Tetapi ketika shalat isya saya kembali ke Masjid sendirian dengan meninggalkan nenek saya di kamar. Hari itu, selesai juga dengan cukup melelahkan.

22 Desember 2014

            Hari ini, acaranya bebas. Kami lebih banyak beribadah di masjid. Pagi hari, nenek saya mengajak saya untuk membeli tambahan oleh-oleh lagi. Saya manggut-manggut aja sebenernya. Karena saya harus putar otak bagaimana cara packing barang belanjaan nenek saya yang banyak sekali itu. Saya sendiri tidak terlalu banyak membeli oleh-oleh. Alakadarnya saja. Shalat dzuhur kami lakukan di masjid, selepas dzuhur saya, nenek saya, dan beberapa orang lagi diajak oleh Pak Ustadz untuk kembali ke masjid, melakukan thawaf sunnah sambil memegang ka’bah. Saya dan nenek saya berhasil untuk kembali mencium ka’bah, sayapun berhasil untuk shalat di Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah lokasi sebelah utara Ka'bah yang dibatasi tembok yang berbentuk setengah lingkaran. Disitulah Nabi Ismail tinggal semasa hidupnya dan kemudian menjadi kuburan beliau dan juga ibunya. Satu hal yang belum kesampaian adalah mencium hajar aswad, ketika saya berhasil mendekat hajar aswad, saya hanya berhasil menyentuh sekilas saja. Saya lakukan itu sambil menuntun nenek saya. Ketika hampir berhasil mendekat dan menyentuhnya saya ditarik oleh Pak Ustadz, karena ia melihat nenek saya yang kesulitan bergerak ditengah kerumunan orang yang ingin mencium hajar aswad. Lagi-lagi saya memang tidak boleh egois, karena saya bersama dengan nenek saya yang fisiknya tidak sekuat dulu. Mungkin umroh kali ini saya tidak berhasil mencium Hajar Aswad. Ya, Allah undang saya kembali untuk umroh dan izinkan saya untuk mencium Hajar Aswad. Selesai thawaf sunnah itu kami menunggu shalat ashar dan bergegas kembali ke hotel, di perjalanan menuju ke hotel lagi-lagi nenek saya mengeluarkan hasrat untuk belanja. Sabar, sabar sebut saya dalam hati. Shalat maghrib saya lakukan di masjid. Untuk Shalat isya saya lakukan di kamar, karena malam itu saya harus mulai packing bawaan nenek saya. Untuk bawaan saya sendiri tidak masalah, masih ada space kosong di koper  sedangkan sebagian bawaan nenek saya, tititipkan di koper saya saking penuhnya. Sekitar pukul 08.00 malam, kami melakukan meeting di ruang makan. Karena esok hari kami harus check out dari hotel. Kami diharuskan  berkumpul di lobby hotel pukul 02.00 karena akan shalat tahajjud dan akan melakukan thawaf wada. Selesai meeting kamipun kembali  ke kamar masing-masing dan melanjutkan packing yang tertunda. Next, ada di Umroh Part 5 ya...





0 komentar:

Posting Komentar