21 Desember 2014
Hari
ini menurut agenda kami akan melakukan City Tour Mekkah, kami akan mengunjungi
tempat-tempat bersejarah di sekitar Mekkah. Setelah sebelumnya kami melakukan
shalat subuh di masjid, kami langsung kembali ke hotel. Rencananya pukul 09.00
kami berkumpul di lobby untuk berangkat bersama menggunakan bus ke tujuan
pertama. Tujuan pertama mengunjungi Jabal Tsur, letaknya di sebelah selatan
Mekkah sekitar 6 km dari Masjidil Haram. Kalau nggak salah dulu Rasulullah
bersama dengan sahabatnya Abubakar Asshiddiq pernah berlindung di tempat
tersebut ketika dalam perjalanan ke Madinah. Setelah Rasulullah SAW selamat dari kepungan orang
kafir Quraisy dirumahnya, maka beliau dengan diam-diam menyinggahi sahabat Abu
Bakar Ashiddiq. Dari rumah Abu Bakar beliau bersama-sama dengan Abu Bakar lebih
dahulu berlindung bersembunyi di Jabal Tsur kemudian menuju Madinah, sebagian
orang-orang kafir Quraisy waktu mengejar Rasulullah SAW ada yang telah sampai
Gua Tsur, mereka mendapatkan gua tersebut, tertutup dengan sarang laba-laba,
dan nampak burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Dengan melihat
keadaan yang sedemikian itu, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak
mungkin bersembunyi di gua tersebut. Setelah orang kafir Quraisy pergi maka
beberapa hari kemudian Abu Bakar Ashiddiq berangkat menuju Madinah dengan selamat.
Itu sebabnya di sekitar masjidil haram, banyak sekali burung-burung merpati dan
kita bisa dengan bebas memberi makan burung merpati tersebut. Di Jabal Tsur kami hanya sebentar saja dan berdoa bersama
disitu, setelahnya kami langsung menuju ke Jabal Nur.
Jabal
Nur berada di kawasan Hejaz atau atau sekitar 7 km dari Masjidil Haram. Di
Jabal Nur, kami hanya melihat melalui bus saja. Karena waktu yang tidak memungkinkan
untuk mendaki ke atas yaitu ke Gua Hira. Waktu pendakian kalau tidak salah
memakan waktu 3 jam menurut informasi yang saya dengar. Seperti kita ketahui
bahwa di Gua Hiro-lah Rasulullah bertahan dan (mendekatkan diri) kepada Allah
SWT. Ini adalah gua kecil dengan panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter, serta
letaknya berada 4 meter dari atas bagian puncak gunungnya. Dan ditempat ini
pula wahyu pertama turun yaitu Surat Al Alaq ayat 1-5. Nabi Muhammad sudah
sejak lama suka datang ke Gua Hira untuk menyendiri. Nabi Muhammad sering
menenangkan pikiran di sana, hingga suatu hari wahyu tersebut turun melalui
malaikat Jibril. Setelah wahyu pertama turun, lalu Nabi Muhammad melalui
serangkaian proses panjang menjadi nabi dan rasul hingga Isra dan Miraj.
(Foto
Jabal Nur – foto dari google)
Dari
Jabal Nur kami langsung menuju ke Jabal Rahmah, Jabal Rahmah ini merupakan
tempat bertemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa. Maka dari itu, banyak yang ke
Jabal Rahmah untuk berdoa meminta jodoh disitu. Untuk mengenangnya, di atas
Jabal Rahmah terdapat suatu tugu yang terbuat dari beton persegi empat dengan
lebar 1,8 meter dan tingginya 8 meter. Masyarakat setempat percaya, lokasi
bertemunya Adam dan Hawa persis di titik tugu tersebut. Alhamdulillah, saya
sempat menaiki Jabal Rahmah dan berdoa di atasnya. Berdoa meminta yang terbaik
untuk urusan satu itu. Saat itu nenek saya tidak ikut menaiki bukit tersebut
karena masih sakit kaki katanya. Saya naik ke bukit tersebut bersama dengan Ibu
Linda satu rombongan Panghegar.
(Foto Jabal Rahmah)
Destinasi selanjutnya adalah Arafah,
Muzdalifah, dan Mina. Disitu, kami hanya berkeliling saja dengan menggunakan
bus sambil dijelaskan oleh Pak Ustadz, mulai muncul tenda-tenda di sekitarnya.
Tempat-tempat tersebut biasanya dikunjungi oleh para jamaah haji di musim haji.
Disitulah para jamaah haji melakukan mabit.
City
Tour diakhiri disitu. Kamipun bergegas untuk menuju ke Masjid Ji’ronah untuk
mengambil miqot. Pada hari ini kami akan melakukan umroh ke dua. Umroh kedua
ini siifatnya sunnah. Ada beberapa jamaah umroh panghegar yang tidak
mengikutinya, terutama jamaah yang sudah berumur. Ketika saya tanya kepada
nenek saya, beliau ternyata ingin mengikuti umroh kedua ini, saya tanya
berulang-ulang untuk meyakinkannya dan ternyata memang niat melakukannya karena
akan membadalkan umroh untuk almarhum kakek saya. Karena itu saya benar-benar
yakin bahwa nenek saya sanggup menjalani umroh kedua karena jika hal itu
berhubungan dengan almarhum aki, pasti bersemangat menjalankannya. Badal Umroh
adalah melaksanakan ibadah umroh atas nama orang lain. Jadi kita harus niat
umroh atas nama seseorang yang dibadalkan. Sebaiknya, jika membadalkan umroh
kepada seseorang yang tidak mungkin dapat melaksanakan umroh, seperti kepada
orang yang sudah meninggal, atau bagi siapapun yang secara fisik tidak mampu
lagi melaksanakan umroh.
Kami
mengambil miqot di Masjid Ji’ronah, menarik untuk saya ketika mendengar Pak
Ustadz menceritakan sejarah Masjid Ji’ronah ini. Sebelum menjadi masjid,
diceritakan disini pernah hidup seorang wanita sholehah yang pekerjaannya hanya
menenun. Setiap hari dia menenun dan hanya berhenti ketika waktunya shalat saja.
Pagi hari sampai malam hari ia menenun benang menjadi kain, selanjutnya setelah
jadi kain, diurai kembali menjadi benang. Begitulah pekerjaannya setiap hari.
Saya sebenarnya kurang paham apa maksudnya mengurai kain itu menjadi benang
kembali. Yang pasti di Masjid inilah, Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya
dari tempat tersebut (HR. Bukhari dan Muslim). Tempat ini berada di
perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 16
km dari kota Makkah.
(Foto
Masjid Ji’ronah)
Disitu, kami melakukan shalat sunah
ihram, dan di dalam bus kami membaca niat dipandu Pak Ustadz. Karena kami sudah
berniat ihram, maka larangan-larangan yang ada ketika berihram berlaku kembali.
Waktu menunjukkan pukul 13.30, kami langsung menuju ke hotel untuk menyimpan
barang-barang kami dan langsung berkumpul kembali di lobby hotel untuk
sama-sama berangkat menunaikan umroh kedua. Sampai di Masjid, kami langsung menuju ke tempat thawaf. Melihat
cuaca yang agak terik, saya mengkhawatirkan kondisi nenek saya. Alhamdulilah
baik-baik saja. Tujuh putaran thawaf selesai dilakukan, lantas kami menuju ke
bukit safa dan marwah untuk melakukan sa’i. Di tengah perjalanan kami melakukan
sa’i, terdengar suara adzan ashar dan kamipun berhenti sejenak disitu dan
melakukan shalat ashar bersama diantara bukit safa dan marwah. Selesai shalat ashar, kami melanjutkan sa’i
kembali. Setelah 7 kali, kamipun melakukan tahalul lagi. Sekitar pukul 16.30
kami selesai melaksanakan umroh ke-dua ini. Beberapa dari rombongan kami ada
yang memutuskan untuk tinggal di masjid menunggu waktu maghrib dan isya. Saya
bersama dengan nenek saya dan pak ustadz kembali ke hotel. Nenek saya dan saya
melakukan shalat magrib di hotel saja. Tetapi ketika shalat isya saya kembali
ke Masjid sendirian dengan meninggalkan nenek saya di kamar. Hari itu, selesai
juga dengan cukup melelahkan.
22
Desember 2014
Hari
ini, acaranya bebas. Kami lebih banyak beribadah di masjid. Pagi hari, nenek
saya mengajak saya untuk membeli tambahan oleh-oleh lagi. Saya manggut-manggut
aja sebenernya. Karena saya harus putar otak bagaimana cara packing barang
belanjaan nenek saya yang banyak sekali itu. Saya sendiri tidak terlalu banyak
membeli oleh-oleh. Alakadarnya saja. Shalat dzuhur kami lakukan di masjid,
selepas dzuhur saya, nenek saya, dan beberapa orang lagi diajak oleh Pak Ustadz
untuk kembali ke masjid, melakukan thawaf sunnah sambil memegang ka’bah. Saya
dan nenek saya berhasil untuk kembali mencium ka’bah, sayapun berhasil untuk
shalat di Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah lokasi sebelah
utara Ka'bah yang dibatasi tembok yang berbentuk setengah lingkaran. Disitulah
Nabi Ismail tinggal semasa hidupnya dan kemudian menjadi kuburan beliau dan
juga ibunya. Satu hal yang belum kesampaian adalah mencium hajar aswad, ketika saya
berhasil mendekat hajar aswad, saya hanya berhasil menyentuh sekilas saja. Saya
lakukan itu sambil menuntun nenek saya. Ketika hampir berhasil mendekat dan
menyentuhnya saya ditarik oleh Pak Ustadz, karena ia melihat nenek saya yang
kesulitan bergerak ditengah kerumunan orang yang ingin mencium hajar aswad. Lagi-lagi
saya memang tidak boleh egois, karena saya bersama dengan nenek saya yang
fisiknya tidak sekuat dulu. Mungkin umroh kali ini saya tidak berhasil mencium
Hajar Aswad. Ya, Allah undang saya kembali untuk umroh dan izinkan saya untuk
mencium Hajar Aswad. Selesai thawaf sunnah itu kami menunggu shalat ashar dan
bergegas kembali ke hotel, di perjalanan menuju ke hotel lagi-lagi nenek saya
mengeluarkan hasrat untuk belanja. Sabar, sabar sebut saya dalam hati. Shalat
maghrib saya lakukan di masjid. Untuk Shalat isya saya lakukan di kamar, karena
malam itu saya harus mulai packing bawaan nenek saya. Untuk bawaan saya sendiri
tidak masalah, masih ada space kosong di koper
sedangkan sebagian bawaan nenek saya, tititipkan di koper saya saking
penuhnya. Sekitar pukul 08.00 malam, kami melakukan meeting di ruang makan.
Karena esok hari kami harus check out dari hotel. Kami diharuskan berkumpul di lobby hotel pukul 02.00 karena
akan shalat tahajjud dan akan melakukan thawaf wada. Selesai meeting kamipun
kembali ke kamar masing-masing dan
melanjutkan packing yang tertunda. Next, ada di Umroh Part 5 ya...








0 komentar:
Posting Komentar