Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 12 Februari 2024

MELBOURNE I'M IN LOVE

 

Tulisan ini sebenarnya saya tulis sebagai salah satu pengingat diri bahwa saya pernah menjejakkan kaki disana juga sebagai salah satu bagian dari rangkaian Australia Trip 2023. Di part ini, saya memang hanya ingin mengangkat tentang Melbourne, kota yang bagi saya memiliki kesan tersendiri dan mungkin juga karena ada hubungan emosional dengan keluarga saya khususnya.

                Ya, pada Australia Trip 2023 ini, memang bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di Melbourne, sebuah kota di sebelah tenggara daratan Australia. Ini adalah kali ketiga saya. Pertama, pada Agustus - September 2017, kedua pada Februari 2019, dan ketiga pada September 2023. Tentunya, alasan kami kembali mengunjungi Melbourne karena ada urusan tertentu dan memang kami merindukannya. Saya, bukan orang yang gampang “betah” tinggal di kota orang, bagi saya Bandung adalah segala-galanya. Tetapi, Melbourne berbeda. Sejak pertama kali saya ke Melbourne saya merasakan kenyamanan ada di tempat ini. Cuaca, makanan, masyarakatnya, dan yang pasti suasananya membuat betah. Tidak heran Melbourne sempat beberapa kali dianugerahi penghargaan sebagai World Most Liveable City oleh Global Liveability Index karena memang senyaman itu (untuk saya).

- Melbourne -


                Sedikit intermezo, saya adalah seorang pemimpi. Selalu bermimpi berkesempatan ke luar negeri. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi saya sangat suka melihat budaya dan suasana negara lain. Itu saja. Masih ingat di mimpi saya ketika kelas 3 SD, jika ditanya “Negara mana yang ingin dikunjungi?” saya pasti menjawab Australia. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa Australia. Di sekitar usia SMP-SMA, mimpi saya tentang berkunjung ke Australia sedikit terlupakan. Kesempatan ke luar negeri pertama kali malah membawa saya mengunjungi China dan Thailand. Tapi saya bersyukur mendapatkan kesempatan itu. Selepas itu, saya teringat kembali akan mimpi saya ke Australia. Bapak saya pernah bilang, “Teh, kalau mimpi jangan tanggung. Mimpi mah bebas, berdoa juga supaya apa-apa yang kamu mimpiin tercapai. Sok ku Bapa didoakeun.”

                Perjalanan hidup dan mimpi ini membawa saya mendekat ke Australia. Ya, Melbourne! Bermula dari tahun 2014. Adik bungsu saya yang saat itu bersekolah di kelas XI SMA kedatangan seorang siswa pertukaran pelajar dari Australia. Ben namanya. Selama 6 minggu, Ben akan menjadi teman sekelas adik saya dalam program belajar Bahasa Indonesia. Sebelumnya, wali kelas adik saya memang mencari house parent yang bersedia menampung Ben selama 6 minggu di Indonesia. Awalnya kami meng-iyakan namun pada akhirnya Ben tinggal di rumah salah satu teman adik, bernama V. Di banding di rumah V, ternyata Ben sepertinya lebih betah tinggal di rumah kami. Sempat juga beberapa kali menginap. Mungkin karena tipikal keluarga saya yang memang hangat, humoris, ditambah Bapak saya yang suka bercanda. Setiap malam biasanya kami “untel-untelan” sekeluarga di kamar orang tua saya dan sepertinya itu dilihat oleh Ben. Tentunya kami ajak dia bergabung. Singkat cerita, program pertukaran pelajar itu berakhir dan Ben kembali ke Australia.

                Hubungan kami menjadi dekat, beberapa bulan kemudian (2015)  Ben dan keluarganya kembali ke Indonesia (Bandung) untuk berlibur. Disitu, menjadi kali pertama kami dua keluarga berkenalan. Kami undang mereka untuk makan malam di rumah. Tentunya dengan menu seadanya, khas orang Indonesia. Komunikasi kami Bahasa Inggris yang pas-pasan tidak membuat kami menjadi mati gaya. Adik saya yang memang cukup bisa berbahasa Inggris menjadi jembatan kami. Keluarga Ben juga sangat baik. Sebelumnya, yang saya tahu kalau bule itu biasanya dingin dan individualis. Tapi ini berbeda. Mereka mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya di Melbourne. Tapi bagi kami tentunya tidak semudah itu Fergusooo..., kami harus menabung.

                Sejak 2015 itu, keluarga Ben sempat beberapa kali datang ke Indonesia dan setiap datang kemari kami selalu berkesempatan bertemu. Hal yang selalu dibicarakan ketika pertemuan adalah lagi-lagi selalu mengundang untuk datang sekeluarga kesana. Baru pada awal tahun 2017, kedua adik saya berkesempatan datang ke Melbourne terlebih dahulu. Selama 3 minggu mereka tinggal di rumah Ben, mereka diperlakukan dengan sangat baik dan seperti layaknya anak sendiri. Baru pada pertengahan 2017, kali pertama saya ke Melbourne karena kantor saya mengadakan survey ke sekolah-sekolah di Melbourne. Mencari sekolah yang dapat menerima beberapa orang siswa kami yang bisa melakukan program pertukaran pelajar disana. Rencana saya ini diketahui oleh ibunya Ben. Ibunya menawarkan kami untuk berkunjung ke sekolah Ben, siapa tahu bisa menerima program student exchange ini. Selain itu kami diajak makan, jalan-jalan dengan diantar oleh ibunya. Sebaik itu! Padahal saat itu saya datang dengan orang kantor.

                Pada tahun 2018, adik pertama saya mengambil program Working Holiday Visa (WHV) untuk bekerja di Australia. Ya, dan lagi-lagi atas kebaikannya, keluarga Ben meminta adik saya untuk tinggal di rumahnya dan meminta menganggap rumahnya seperti rumah sendiri, berbagai kebutuhan adik saya dibantu untuk dipenuhi olehnya. Baru pada akhir 2018, orang tua dan adik bungsu saya merencanakan untuk berkunjung ke Melbourne, memenuhi undangan yang telah bertahun-tahun dilayangkan sekaligus melepas rindu dengan adik pertama saya. Saat itu kami langsung mengurus visa dan pertiketan untuk keluarga kami. Saya dan adik bungsu yang memang sudah pernah ke Australia sepertinya cukup mudah mendapatkan visa dibanding dengan orang tua saya. Sempat kami khawatir takut visa-nya tidak granted, namun alhamdulillah semua Granted!

                Awal 2019, kami akhirnya bisa berangkat bersama-sama satu keluarga kesana. Sambutan dan kebaikannya sungguh sangat membuat kami terharu. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai dokter, ayah Ben menjemput keluarga kami di bandara dengan dua mobil. Satu dikemudikan oleh ibunya dan satu oleh ayahnya. Kami langsung diajak menuju ke rumahnya di daerah Eaglemont. Kami beristirahat sejenak. Kami diberi croissant hangat. Enak sekali. Apalagi kami sebelumnya menempuh penerbangan malam selama hampir 7 jam. Setelah sarapan, karena memang waktunya masih sangat pagi kami diajak berkeliling jalan kaki ke Chelsworth Park. Katanya, “Kalian semalam terlalu banyak duduk di dalam pesawat, supaya segar kalian harus berjalan-jalan kaki.”. Kalau kami orang Indonesia pasti berpikir, “Buset deh baru juga datang udah diajak jalan kaki 7 km.” Mungkin seperti itu, persis seperti yang saya pikirkan, hehehe...  Tapi, saya tidak menyesal akan hal itu, karena didukung suhu sekitar 12 derajat pagi itu sangat nyaman berjalan kaki menikmati suasana sekitar.

                Selama 8 hari kami berada di Australia, sebagian besar kami habiskan di Melbourne. Sempat 2 hari kami berkunjung ke villa-nya di daerah Lorne, sebuah kota kecil di Great Ocean Road, Victoria. Sekitar 2 jam dari Melbourne. Kami hanya pergi berenak, dengan dua mobil. Saya bersama dengan adik pertama mengendarai mobil Mini Cooper, sedangkan bapak, ibu, adik bungsu saya, dan ibunya Ben mengendarai mobil yang lain. Buat saya, mengendarai mobil berdua dengan adik di negara orang, menelusuri jalanan Great Ocean Road adalah hal yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, sepanjang jalan menuju Lorne, kami disuguhi dengan view pinggir laut yang tidak ternilai untuk saya.



 Great Ocean Road

https://www.visitmelbourne.com/regions/great-ocean-road/see-and-do/nature-and-wildlife/beaches-and-coastlines/the-great-ocean-road

                Ada satu pengalaman unik untuk saya saat berkendara menuju Lorne. Saat saya dan adik sedang asyik mengobrol di jalan, tiba-tiba kami dihentikan oleh polisi. Ternyata sedang ada razia Alcohol Breath Testing yang mana pengendara mobil melakukan test alkohol sebelum menghadapi rute berbelok-belok pinggir laut. Adik saya menghentikan mobil Mini Cooper-nya. Belum sempat melakukan tes alkohol, tiba-tiba kami dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Saya bingung. Adik saya berkata, “Dia lihat teteh pake hijab, dia tahu kalau muslim nggak minum alkohol. Jadi kita boleh jalan lagi.”. Syukurlah pikir saya, tapi jadi pengalaman baru juga dan jadi tahu kalau ada tes seperti itu. Perjalanan-pun kami lanjutkan dan kami sempat berhenti di bawah tulisan Great Ocean Road. Sebuah tempat yang saya ketahui di pelajaran IPS saat kelas 4 SD hehehe...

Great Ocean Road

                Tiba di Lorne, membuat saya begitu terkesan juga. Memang hanya sebuah kota kecil, tetapi sangat nyaman. Kangguru bebas berkeliaran di halaman rumah. Burung nuri, kakatua, dan burung-burung indah lainnya bebas terbang di beranda rumah. Di hutan belakang rumah bahkan bisa kita temui koala sedang tidur di pohon. Masyarakatnya begitu menghargai kebebasan hewan-hewan dengan tidak mengganggunya. Singkat cerita, di Lorne benar-benar saya nikmati suasananya. Berharap suatu saat bisa datang kembali ke Lorne.

                Sekembalinya kami dari Lorne, kami explore kota Melbourne. Kebetulan kami menyewa apartemen selama sekitar seminggu di daerah Southbank supaya dekat dengan Central Business Dictrict (CBD) Melbourne. Semua bisa kami tempuh dengan berjalan kaki, naik trem, atau naik kereta. Karena letaknya dekat dengan Flinders Station. Di sekitar situ kami berkunjung ke Eureka Skydeck yang merupakan bangunan tertinggi di Melbourne. Eureka Tower memiliki tinggi total 297,3 meter. Kami naik ke lantai 88 gedung ini. Di lantai 88 gedung ini, ada fasilitas menarik bernama The Edge yang merupakan sebuah ruangan berbentuk balok berukuran 3x3 meter yang terbuat dari kaca tebal dan bisa bergerak menonjol dan keluar dari gedung Eureka Tower. Karena semua kacanya bening, maka pengunjung akan merasakan sensasi seperti terbang dengan ketinggian hampir 300 meter di atas Kota Melbourne. The Edge ini dibuka untuk umum, sebagai titik tertinggi gedung ini dan kita bisa menikmati pemandangan dari atas. Menaiki lift ke lantai 88 rasanya cukup pusing untuk saya, dengan waktu cukup cepat kita bisa langsung ada disana. Tekanan di telinga juga cukup terasa saat menaikinya.

               

The Edge


 Eureka Tower

                Oh ya, sebelumnya juga saya sempat diajak ke Healesville Sanctuary, semacam cagar alam yang memuat banyak Native Australian Animals, di suatu lahan yang luas kita dapat menemukan koala, kanguru, wallaby, yang dapat kita lihat dalam jarak dekat. Selain itu ada juga tasmanian devil, wombat, echidna, platypus, dan berbagai jenis burung seperti kookaburra. Di dalamnya juga terdapat klinik untuk hewan-hewan tersebut sekaligus arena pertunjukan hewan-hewan khas Australia. Tempatnya sangat nyaman untuk berjalan kaki walaupun jaraknya cukup jauh. Pada kunjungan saya yang pertama tahun 2017, saya beruntung bisa mendapatkan moment yang pas berfoto dan menyentuh wallaby. Sayangnya, kunjungan ke dua saya pada 2023, hewan-hewan tersebut seperti sedang tidak mood untuk berfoto.

Healesville Sanctuary

                Sebenarnya masih banyak lagi destinasi yang saya kunjungi selama di Melbourne seperti St. Kilda Beach, Luna Park walaupun hanya ke depannya saja, kemudian ke pier, mampir ke Yarra Valley Chocolatery yang view di depannya seperti bukit Teletubbies. Tapi, dari semua destinasi di Melbourne, yang menjadi favorit saya dan ibu saya tentunya adalah Queen Victoria Market (QVM). Dibanding dengan pusat perbelanjaan modern, saya selalu tertarik mengunjungi pasar tradisionalnya di setiap negara. Selain kita jadi mengetahui suasananya yang seberapa tradisional, kita bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Tiga kali saya mengunjungi Melbourne, QVM selalu ada di dalam itinerary saya. Letaknya berada dekat dengan Central Business District (CBD). Bisa juga kita berjalan kaki atau naik trem, karena QVM ini masuk dalam Free Tram Zone jadi gratis. Letaknya Kalau tidak salah di Elizabeth Street.

                Di bagian depan pasar, sama sekali tidak terlihat kesan kumuh. Sayapun kagum dengan kebersihannya. Area bagian depan menjual semua jenis daging. Ayam, ikan, sapi, kambing, kangguru, dan tentu saja ada menjual pork. Walaupun di area ini terbilang basah, yang mungkin akan sangat mudah mengundang lalat tetapi disini sangat bersih dan tidak berbau. Penataannya juga baik dan produk-produk yang dijualnya higienis. Di bagian belakangnya terdapat area sayur-sayuran dan buah-buahan. Suasananya tidak kalah bersih dengan harga yang tidak semahal di supermarket. Karena saat itu kami tinggal di apartemen, maka kamipun membeli beberapa bahan untuk dimasak. Juga untuk wisatawan ada area penjualan souvenir yang cukup ramah kantong. Berbagai macam model kaos dewasa dan anak dijual mulai harga AUD $5 - $8 belum lagi souvenir-souvenir kecil lainnya juga tersedia, yang pasti saya betah belanja berlama-lama disana.



Queen Victoria Market

                Diluar berbagai macam destinasi wisatanya, bagi saya Melbourne mempunyai tempat tersendiri. Faktor utama adalah karena memiliki hubungan emosional dengan keluarga Ben. Orang lain rasa saudara, komunikasi kami yang alhamdulillah selalu berjalan baik dan mudah-mudahan akan selalu baik. Kedua adalah suasana lingkungan dan masyarakatnya. Melbourne yang merupakan kota multikultural yang artistik akan membuat siapapun nyaman sepertinya. Berdasarkan pengalaman dan penglihatan saya sebagian besar masyarakatnya menghargai keberagaman identitas contohnya ketika berpapasan mereka saling menyapa dengan senyuman, “Hi, good morning.”. Ketiga adalah kota yang ramah dengan pejalan kaki. Saya sebagai kaum yang mageran untuk berjalan kaki, bisa tahan dan kuat berjalan kaki jauh di Melbourne. Ditambah dengan udaranya yang bersih dan cuaca bersahabat juga bangunan-bangunan artistik, rasanya jalan kaki 10 km juga mungkin tidak terasa. Kurang lebih seperti itulah latar belakang saya menyukai kota ini. Tentu, suatu saat saya ingin kembali mengunjungi kota ini untuk sekedar menikmati udara dan suasananya saja. Semoga...

0 komentar:

Posting Komentar